Sinergisitas Orang Tua dan Sekolah Jadi Kunci Hadapi Tantangan Akademik Anak di Setiap Jenjang

oleh -36 Dilihat
IMG 20251218 WA0007
Kolaborasi yang konsisten antara sekolah dan orang tua berkontribusi signifikan terhadap peningkatan motivasi belajar.

KabarBaik.co – Berbagai studi pendidikan menegaskan bahwa keberhasilan akademik anak tidak hanya ditentukan oleh kualitas pembelajaran di sekolah, tetapi juga oleh keterlibatan aktif orang tua di rumah.

Riset global, termasuk dari Harvard Graduate School of Education dan OECD, menunjukkan bahwa kolaborasi yang konsisten antara sekolah dan orang tua berkontribusi signifikan terhadap peningkatan motivasi belajar, capaian akademik, serta kesejahteraan emosional siswa.

Anak-anak yang mendapatkan dukungan selaras dari rumah dan sekolah terbukti memiliki daya tahan belajar (resilience) yang lebih kuat. Mereka juga lebih adaptif dalam menghadapi berbagai tantangan di setiap fase pendidikan, mulai dari masa kanak-kanak hingga remaja.

Pemahaman inilah yang menjadi landasan Sampoerna Academy dalam membangun kemitraan erat dengan orang tua. Sebagai pionir pendidikan berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) di Indonesia, Sampoerna Academy meyakini bahwa pendampingan holistik tidak hanya mendorong prestasi akademik, tetapi juga membentuk karakter, kemandirian, dan kesejahteraan emosional siswa.

Director of Sampoerna Academy, Mustafa Guvercin, menuturkan bahwa sinergisitas yang kuat antara rumah dan sekolah memberikan dampak nyata bagi perkembangan anak.

“Dari pengalaman kami mendampingi siswa dan berinteraksi erat dengan para orang tua, kami melihat betapa besarnya dampak ketika rumah dan sekolah benar-benar berjalan seiring. Komunikasi yang jujur dan kolaborasi yang konsisten membuat anak tumbuh lebih percaya diri, termotivasi, serta memiliki fondasi karakter yang kuat. Inilah bekal mereka menjadi pembelajar seumur hidup yang siap menghadapi berbagai tahap kehidupan, baik di Indonesia maupun secara global,” ujarnya, Kamis (18/12).

Namun, perjalanan akademik anak tidak selalu berjalan mulus. Setiap jenjang pendidikan menghadirkan tantangan yang berbeda, mulai dari perubahan emosional, dinamika sosial, hingga tekanan akademik yang dapat memengaruhi motivasi dan prestasi belajar. Dalam konteks inilah, peran kolaboratif antara sekolah dan orang tua menjadi semakin krusial.

Psikolog Pendidikan Cynthia Vivian Purwanto, M.Psi, menjelaskan bahwa setiap fase perkembangan anak memiliki karakteristik dan kebutuhan pendampingan yang unik. Pada fase balita atau taman kanak-kanak (TK), anak perlu membangun fondasi kebiasaan belajar seumur hidup, mencakup perkembangan motorik, bahasa, kognitif, serta pengelolaan diri dan emosi. Fondasi ini akan memudahkan anak memahami pembelajaran dan mengelola perilaku di kelas.

Memasuki fase sekolah dasar (SD), tantangan akademik mulai meningkat. Anak mulai membandingkan kemampuan diri dengan teman sebaya, seperti nilai ujian atau kemampuan memecahkan soal. Kondisi ini memengaruhi keterlibatan di kelas, kegigihan menghadapi kesulitan, hingga hasil belajar mereka.

Sementara itu, pada fase remaja awal atau SMP, tantangan menjadi lebih kompleks. Tuntutan akademik yang meningkat, perubahan hormonal, relasi sosial, hingga pencarian jati diri kerap memengaruhi motivasi dan performa belajar.

Adapun fase remaja akhir atau SMA menjadi periode penentuan masa depan. Anak yang memahami potensi, minat, dan tujuan hidupnya cenderung lebih matang dalam mengambil keputusan serta lebih termotivasi untuk meraih prestasi demi melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Cynthia menegaskan, jika tantangan-tantangan tersebut tidak ditangani dengan baik, dampaknya dapat berupa penurunan motivasi belajar, prestasi akademik yang kurang optimal, hingga gangguan kesehatan mental.

“Kolaborasi orang tua dan sekolah memerlukan sinergisitas nyata. Kedua pihak perlu saling mendengarkan dan bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan anak secara positif. Dengan begitu, anak dapat membangun kebiasaan belajar yang sehat, resiliensi, motivasi intrinsik, rasa percaya diri, kemampuan sosial adaptif, serta kesehatan mental yang baik untuk menghadapi pendidikan lanjutan maupun dunia kerja,” jelasnya.

Komitmen terhadap kolaborasi terstruktur dan komunikasi transparan ini diwujudkan Sampoerna Academy melalui berbagai inisiatif, seperti program parent engagement, konseling, learning conference, serta pendampingan akademik yang melibatkan orang tua secara aktif. Seluruh upaya tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem pendidikan yang menumbuhkan karakter, keterampilan abad ke-21, serta kesiapan global siswa, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045.

Dukungan ini juga diperkuat dengan peningkatan kenyamanan fasilitas, termasuk akses menuju kampus Sampoerna Academy Pakuwon Indah Surabaya yang kini semakin mudah berkat dibukanya jalur Radial Road Lontar oleh Pemerintah Kota Surabaya.

“Kami berharap siswa-siswi Sampoerna Academy tumbuh menjadi pembelajar seumur hidup yang siap bersaing secara global. Ketika sekolah dan orang tua benar-benar bekerja sama, anak tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga memiliki resiliensi, ketahanan emosional, dan perspektif global untuk menjadi pemimpin masa depan yang adaptif, inovatif, dan peduli,” tutup Mustafa.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dani
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.