Sugeng Handoko, Menyalakan Sinar dari Gunung Tertidur

oleh -436 Dilihat
SUGENG JANDOKO
Sugeng Handoko menerima penghargaan dari DPD RI atas kiprahnya. (Foto IST)

Di balik sunyi bebatuan purba yang membisu di timur Jogjakarta, ada seorang pemuda yang menyalakan api perubahan. Namanya Sugeng Handoko, lahir di Gunungkidul, 28 Februari 1988. Dari tanah yang dulu dianggap gersang, ia menanam harapan, menyiramnya dengan kerja keras, dan menumbuhkannya menjadi oase kesejahteraan.

Pekan lalu, langkah panjangnya itu juga berbuah penghargaan dari Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, pengakuan atas kiprahnya sebagai sosok muda yang menggerakkan jantung pariwisata desa dan menyalakan semangat kemandirian di pelosok negeri.

Namun, kisah Sugeng bukan tentang penghargaan. Ia adalah cerita tentang pulang, tentang seorang anak desa yang menolak pergi, ketika teman-temannya memilih meninggalkan kampung karena merasa tiada harapan. “Dulu, setiap anak muda tamat SMA selalu meninggalkan desa ini,” kenangnya. “Tidak ada harapan untuk bekerja di sini.”

Ketika banyak mata melihat Gunungkidul hanya sebagai tanah tandus, Sugeng melihat bentangan keindahan yang tertidur. Gunung batu seluas 48 hektare yang nyaris ditinggalkan itu seperti menunggu seseorang untuk membangunkannya. Dia prihatin melihat alam yang rusak karena penambangan liar, juga prihatin pada arus urbanisasi yang mengalir tanpa henti dari desanya ke kota.

Dari keprihatinan itu, muncul tekad. Mengubah paradigma. Sugeng ingin menulis ulang citra Gunungkidul. Bukan lagi kabupaten yang miskin dan kering, melainkan tanah dengan gunung purba yang bernyawa, penuh potensi alam dan budaya. Dia pun menggandeng para pemuda desanya untuk bermimpi bersama. Menjadikan Desa Nglanggeran sebagai kawasan ekowisata yang menyejahterakan.

Langkahnya dimulai kecil, tapi pasti. Dari empat orang perwakilan tiga dusun, menjadi delapan, lalu lima belas, hingga akhirnya puluhan pemuda bergabung. Tahun 2013, tim pengelola sudah mencapai lebih dari seratus orang. “Semua butuh proses panjang,” ujarnya. “Kami melakukan pendekatan ke tokoh masyarakat, warga, semua dengan sabar.”

Pada 2009, Sugeng dan tim menciptakan Kirab Budaya Nglanggeran, menyatu dengan ritual Bersih Desa. Di situlah semangat lama disulut kembali. Di tengah keraguan dan tentangan, mereka menjanjikan satu hal bahwa acara itu akan diliput televisi. Dan benar, liputan itu datang, membawa sorotan pertama bagi desa kecil di lereng Gunung Api Purba. Sejak itu, kepercayaan masyarakat tumbuh, dan nama Nglanggeran mulai bergema.

Perlahan, mimpi itu naik ke puncak. Dari lomba ke lomba, dari kegiatan lingkungan hingga festival pariwisata, Sugeng dan kawan-kawan membangun promosi dengan tangan sendiri. Tanpa sokongan besar pemerintah, mereka mengandalkan semangat gotong royong dan kreativitas.

Hingga kemudian, perhatian datang. Pemerintah daerah turun tangan memberi pendampingan, perusahaan menyalurkan dana CSR Bank Mandiri senilai Rp 300 juta, Pertamina menggandeng kerja sama, dan berbagai universitas di Jogjakarta turut serta dalam penelitian dan pelatihan. Sebuah embung kebun buah pun dibangun di atas lahan 20 hektare, menambah denyut ekonomi baru di sana.

Kini, Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran telah menjelma menjadi salah satu permata Jogja. Wisatawan datang dari berbagai penjuru. Mahasiswa, peneliti, hingga turis mancanegara. Mereka mendaki untuk menyapa matahari terbit, berkemah di bawah bintang, atau sekadar menikmati keheningan batu-batu raksasa yang menyimpan sejarah jutaan tahun.

Bagi Sugeng, setiap langkah wisatawan adalah denyut baru bagi desanya. Dari ekowisata ini, masyarakat belajar berwirausaha, membuka homestay, menjual hasil kebun, dan menumbuhkan ekonomi kreatif. “Kini kami menuju Geopark Internasional, di bawah arahan Pemda dan Kementerian ESDM,” katanya.

Dan begitulah, dari sebuah gunung yang dulu dianggap mati, Sugeng Handoko menyalakan kehidupan. Ia tak sekadar membangun wisata, tapi membangun harapan.

Di wajahnya yang teduh, tersimpan pelajaran sederhana: bahwa perubahan besar sering kali lahir dari desa kecil, dari hati yang tulus ingin melihat tanah kelahiran tumbuh kembali.

Gunung itu kini tak lagi tidur. Di bawah langit Nglanggeran, ia menyala bersama semangat seorang pemuda yang tak pernah lelah bermimpi. Kita pun sejatinya bisa, asalkan mau! (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: F Noval
Editor: Supardi Haedy


No More Posts Available.

No more pages to load.