KabarBaik.co, Surabaya– Upaya Pemkot Surabaya dalam membenahi sistem parkir melalui digitalisasi diwarnai insiden kekerasan. Kegiatan sosialisasi parkir digital yang seharusnya menjadi langkah kemajuan kota, justru berubah mencekam setelah terjadi dugaan aksi pengeroyokan terhadap pimpinan komunitas @viralforjustice.co.
Peristiwa ini bermula saat perwakilan dari komunitas tersebut hadir di lokasi untuk memberikan dukungan moral kepada personel Kepolisian dan Dinas Perhubungan (Dishub) yang sedang bertugas. Situasi awalnya terpantau kondusif, namun ketegangan mulai muncul saat sejumlah oknum juru parkir (jukir) menyatakan penolakan terhadap program tersebut.
Dari informasi yang dihimpun, intimidasi verbal mulai dilontarkan oleh oknum jukir saat pihak For Justice hendak meninggalkan lokasi. Respons terhadap intimidasi tersebut memicu eskalasi massa hingga berujung pada tindakan fisik yang diduga dilakukan secara bersama-sama (pengeroyokan).
Pihak For Justice melalui pernyataan resminya mengecam keras tindakan tersebut. Mereka menilai aksi kekerasan ini merupakan bentuk premanisme nyata yang menghambat ketertiban umum. Sebagai langkah tegas, kasus ini akan segera dilaporkan ke jalur hukum agar diproses sesuai undang-undang yang berlaku.
“Kami tidak akan tinggal diam terhadap segala bentuk premanisme. Kasus ini akan kami bawa ke ranah hukum sebagai komitmen kami menjaga keadilan,” tegas Brian, selaku Kepala Bidang Analisis dan Kajian Strategis Gerakan For Justice saat dihubungi, Selasa (7/4).
Insiden ini langsung memicu reaksi keras di media sosial. Banyak warganet yang menyayangkan lemahnya pengamanan di lokasi dan mempertanyakan peran Satgas Anti Premanisme dalam melindungi pihak-pihak yang mendukung pembenahan sistem kota.
Hingga berita ini diturunkan, pihak korban melaporkan kejadian tersebut ke Polrestabes Surabaya, selain itu pihak berwenang belum memberikan keterangan resmi terkait kronologi mendalam maupun penangkapan oknum yang terlibat.
Masyarakat kini menanti tindakan tegas dari aparat penegak hukum untuk memastikan insiden serupa tidak terulang kembali dalam proses transformasi digital di Surabaya. (*)






