Tak Menyerah Usai PHK, Ibu-ibu Jombang Menemukan Jalan Baru Lewat Dunia Tenun

oleh -109 Dilihat
WhatsApp Image 2025 12 24 at 10.13.38 AM 1
Proses menenun di Sentra Wastra Sejahtera, Jombang, yang digerakkan ibu-ibu mantan buruh pabrik (Teguh Setiawan)

KabarBaik.co – Pandemi COVID-19 pada 2021 lalu menjadi masa sulit bagi banyak orang, termasuk para buruh pabrik sarung di Dusun Penggaron, Mojowarno, Jombang. Pemutusan hubungan kerja (PHK) massal membuat mereka kehilangan mata pencaharian. Namun dari situ, justru lahir semangat baru.

Sekelompok ibu rumah tangga mantan buruh pabrik sarung memilih bangkit dengan mendirikan Sentra Tenun Wastra Sejahtera. Kini, mereka menjelma menjadi penggerak ekonomi kreatif berbasis kerajinan tenun.

Siti Khoirul Uma, 41, salah satu pengelola Wastra Sejahtera, mengatakan sentra ini berawal dari keinginan untuk memberdayakan ibu-ibu yang terdampak PHK agar tetap produktif di sela peran mereka sebagai ibu rumah tangga.

“Waktu itu pabrik tempat ibu-ibu bekerja tutup karena corona. Daripada berhenti total, akhirnya kami mulai produksi sendiri dan memberdayakan mereka. Rata-rata rumahnya ya sekitar sentra ini, tetangga-tetangga,” ujar Uma, Rabu (24/12).

Proses produksi kain tenun di Wastra Sejahtera tidak instan. Semuanya dikerjakan secara bertahap dan penuh ketelatenan.

Mulai dari memintal benang, dilanjutkan ke proses midang atau menghitung serta menata benang. Setelah itu benang digambar sesuai motif, diikat, lalu dicelupkan ke warna yang diinginkan.

“Setelah dicelup, benang diurai, dipalet, baru ditenun. Tahap terakhir biasanya penjahitan atau penyambungan kain,” jelas Uma.

Untuk menghasilkan satu potong kain, dibutuhkan waktu sekitar dua hari, tergantung tingkat kesulitan motif dan kondisi mesin. Dalam kondisi normal, satu penenun bisa menghasilkan hingga tiga potong kain per minggu.

Tantangan dalam proses produksi pun tak terelakkan. Mesin tenun yang kerap bermasalah serta benang yang mudah putus atau kusut sering memperlambat pekerjaan.

“Kalau kendala muncul, proses yang biasanya cepat bisa jadi lama,” katanya.

Saat ini, Wastra Sejahtera melibatkan sekitar 15 pekerja, mayoritas ibu-ibu. Sebagian bekerja langsung di sentra untuk menenun dan midang, sementara lainnya mengerjakan proses awal seperti pencelupan warna dari rumah.

Produk yang dihasilkan cukup beragam, mulai dari sarung goyor, kain lurik, kain motif, kain dobi atau kain timbul, hingga selendang warna alam yang kini menjadi produk unggulan. Selain itu, mereka juga memproduksi blanket dan produk terbaru berupa tirai bambu.

“Selendang warna alam masih jadi bestseller karena banyak diminati pecinta tenun,” ungkap Uma.

Harga produk Wastra Sejahtera dibanderol mulai Rp 250 ribu hingga Rp 400 ribu per potong, tergantung jenis dan motif kain. Para pekerja menggunakan sistem borongan dengan upah bervariasi, mulai dari Rp 10 ribu–Rp 15 ribu untuk midang, Rp 45 ribu untuk menenun sarung, Rp 75 ribu untuk kain, dan sekitar Rp 30 ribu untuk selendang.

Dari usaha ini, Wastra Sejahtera mampu meraih omzet sekitar Rp 5 juta hingga Rp 10 juta per bulan.

Pemasaran dilakukan melalui media sosial, pelanggan tetap, serta kerja sama promosi. Produk mereka bahkan sudah menembus pasar luar pulau, seperti Kalimantan.

Ke depan, Uma berharap Sentra Tenun Wastra Sejahtera semakin dikenal luas dan bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat sekitar.

“Harapannya ke depan lebih bagus lagi, lebih berkarya, dan menginspirasi banyak orang. Semoga semakin banyak yang datang dan mengenal Tenun Wastra Sejahtera,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan pesan khusus untuk para perempuan perajin.

“Untuk ibu-ibu, tetap semangat dan terus berkarya. Kalian luar biasa,” katanya.

Dari sebuah krisis, Sentra Tenun Wastra Sejahtera membuktikan bahwa ketekunan dan kebersamaan mampu menenun harapan baru, sehelai demi sehelai. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.