Tangkapan Nelayan Mengare Gresik Menurun Dampak Reklamasi, Penelitian Ecoton Temukan Indikasi Pencemaran Perairan

oleh -205 Dilihat
WhatsApp Image 2026 05 20 at 12.50.19 PM
Tim Ecoton mengambil sampel air laut di dekat reklamasi KEK JIIPE, Gresik. (Foto: Tim KabarBaik.co)

KabarBaik.co, Gresik – Turunnya hasil tangkapan nelayan Mengare Gresik dampak dari reklamasi mendapat atensi dari Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton), sebuah lembaga pemerhati lingkungan. Tim Ecoton terjun langsung ke lokasi.

“Kami melakukan survei di area garis pantai Manyar Mengare di mana di situ ada proyek reklamasi untuk kegiatan industri,” ujar Direktur Eksekutif Ecoton Daru Setyorini, Kamis (14/5) lalu.

Daru mengatakan pihaknya melakukan pengukuran kualitas air laut di lokasi-lokasi yang nelayan Mengare sebut sudah tak ada hasil tangkapan lagi. Ada empat titik lokasi yang dilakukan pemeriksaan kualitas air laut.

Menggunakan perahu, tim Ecoton melakukan pengukuran kualitas air di empat titik. Empat titik itu ada di perairan Manyarejo, gorong-gorong, area mangrove yang mati, dan kawasan di dekat Bale Laok (Mengare).

“Ada empat titik yang kami ambil sampel,” kata Daru.

Secara cermat, tim melakukan pemeriksaan menggunakan alat yang bisa membaca kadar zat yang terlarut di dalam air. Tim juga melakukan tes untuk mengetahui seberapa banyak plankton yang ada di perairan tersebut.

Plankton sendiri adalah biota renik laut yang menjadi makanan makhluk laut lainnya. Semakin banyak plankton di suatu perairan menandakan kualitas perairan tersebut kaya akan nutrien. Hal tersebut bisa menjadi indikator positif bagi ekosistem karena plankton berfungsi sebagai dasar rantai makanan yang melimpah bagi makhluk laut lain.

Dari hasil penelitian kualitas air laut, bisa diketahui bahwa perairan Manyar Mengare mengandung banyak fosfat dan amonia, dua senyawa yang tidak baik untuk sebuah perairan jika jumlahnya banyak. Selain itu, jumlah kadar oksigen terlarut juga rendah.

WhatsApp Image 2026 05 20 at 12.51.35 PM
Tim Ecoton mengecek kualitas air laut di dekat reklamasi KEK JIIPE, Gresik. (Foto: Tim KabarBaik.co)

“Dari temuan awal ini memang terlihat ada indikasi kalo di daerah yang banyak industri itu oksigennya rendah, amoniaknya tinggi, fosfatnya tinggi,” kata Daru.

Daru menyebut titik yang paling tinggi fosfat nya adalah titik pada gorong-gorong.

“Jadi yg paling tinggi fosfat di gorong-gorong. Cuma kita belum tahu ada aktivitas apa di situ. Fosfat adalah kadar yang bisa menurunkan kualitas air dan menimbulkan efek negatif pada kehidupan air, yang bisa menyebabkan penurunan populasi ikan dan biota lain,” lanjut Daru.

Untuk oksigen, Daru menyebut terjadi penurunan oksigen di perairan Manyarejo. Hal itu terlihat berbeda di kawasan perairan yang letaknya agak jauh dari perairan Manyarejo.

“Itu terlihat dari hasil pengukuran oksigen di Manyarejo dan gorong-gorong yang DO nya itu 2,7. Sementara di daerah sini (Bale Laok) sekitar 6,5 oksigen yang terlarut,” jelas Daru yang juga mengajar sebagai dosen di Universitas Darul Ulum tersebut.

Daru menerangkan banyaknya kandungan fosfat dan amoniak serta turunnya kadar oksigen menyebabkan gangguan pada populasi ikan dan makhluk laut lainnya. Makhluk-makhluk hidup ini membutuhkan oksigen yang cukup untuk melakukan metabolisme dan juga untuk melakukan reporoduksi.

Daru meminta agar ditelusuri lagi dari mana sumber-sumber pencemaran yang menyebabkan kualitas air laut menurun tersebut.

“Karena kapasitas parameter kita terbatas, maka perlu dilakukan peneliatian lebih lanjut untuk meneliti kadar-kadar kimia yang lebih lengkap lagi. Mungkin logam beratnya atau parameter kimia lain yang lebih spesifik agar lebih tahu kadar kimia apa yang bisa berdampak langsung pada perikanan di sini,” tandas Daru. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.