KabarBaik.co, Gresik – Faktor alam menjadi persoalan berulang yang dihadapi para petani di wilayah Gresik Selatan. Saat musim hujan, lahan pertanian terendam banjir. Namun saat kemarau tiba, giliran kekeringan yang melanda hingga kesulitan air.
Kondisi itu setidaknya dialami petani di wilayah Kecamatan Balongpanggang dan Benjeng. Lasih, salah satu petani di wilayah Desa Munggugianti, Benjeng mengaku sawahnya sudah hampir dua bulan terakhir sejak kemarau, tidak mendapatkan pasokan air.
Selama ini, kata Lasih, sawah petani mengandalkan aliran irigasi dari sungai, utamanya Kali Lamong. Namun setiap musim kemarau, debit air sungai mengering hingga tidak lagi bisa dimanfaatkan untuk mengairi lahan.
“Ambilnya ya dari sungai sana pak. Tapi Kali Lamong sekarang ini nggak ada air, habis. Nggak bisa diambil,” kata Lasih, baru-baru ini.
Ironisnya, persoalan yang dihadapi petani berbeda ketika musim berganti. Saat hujan turun dengan intensitas tinggi, air justru melimpah dan membuat sawah terendam banjir.
“Kalau musim hujan sering banjir, kalau gini nggak ada air. Malah nggak ada air,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat petani harus menyesuaikan pola tanam. Menurut Lasih, tanaman jagung masih bisa ditanam di tengah kondisi lahan yang minim air.
Namun untuk padi, kebutuhan air jauh lebih besar sehingga sulit dilakukan ketika sawah mengalami kekeringan. “Kalau jagung gini bisa. Kalau padi sekarang nggak bisa,” jelasnya.
Lasih menjelaskan tanaman padi membutuhkan pengairan secara rutin. Setidaknya, dalam waktu sekitar satu pekan sawah harus kembali mendapatkan pasokan air.
Bagi petani, kondisi tersebut menjadi dilema. Ketika air melimpah pada musim hujan, lahan kerap diterjang banjir. Sebaliknya, ketika musim kemarau, sumber air untuk pertanian justru menghilang.
Kekeringan yang berlangsung hampir dua bulan itu membuat petani tidak bisa leluasa menanam padi sebagai komoditi utama. Mereka terpaksa mempertimbangkan tanaman yang lebih mampu bertahan dengan ketersediaan air yang terbatas.
Persoalan ini menjadi gambaran tantangan sektor pertanian di Gresik. Petani tidak hanya membutuhkan air ketika kemarau, tetapi juga membutuhkan pengelolaan air yang mampu mengantisipasi kelebihan air saat musim hujan agar persoalan banjir dan kekeringan tidak terus berulang.
Menanggapi hal itu, Menteri Pertanian (Mentan) RI Andi Amran Sulaiman merespons rencana pembangunan kolam retensi untuk mengantisipasi kekeringan yang setiap tahun melanda wilayah selatan Kabupaten Gresik.
Ia telah berkomunikasi dengan Gubernur Jawa Timur terkait rencana pembangunan kolam retensi tersebut.
Salah satu persoalan yang perlu diselesaikan yakni adanya sengketa yang disebut menghambat pembangunan.
“Saya sudah bicara dengan Bu Gubernur. Nanti Bu Gubernur minta surat tertulis ke saya. Kemudian kami koordinasi dengan Menteri ATR/BPN. Itu bisa dikomunikasikan,” kata Amran.
Pembangunan kolam retensi dinilai menjadi salah satu upaya untuk memitigasi persoalan kekeringan yang berulang di sejumlah wilayah Gresik saat musim kemarau. Sekaligus menjadi penanggulangan banjir saat musim hujan tiba.(*)






