KabarBaik.co, Surabaya – Hujan deras yang mengguyur Surabaya selama kurang lebih tiga jam dini hari tadi memunculkan pemandangan yang belakangan semakin akrab bagi warga kota. Sejumlah ruas jalan dan kawasan permukiman tergenang. Kendaraan melambat, aktivitas warga terganggu, dan sebagian masyarakat harus menunggu air surut sebelum melanjutkan perjalanan.
Fenomena ini terasa berbeda karena terjadi saat sebagian besar wilayah Jawa Timur masih berada pada periode musim kemarau. Namun, cuaca yang semakin sulit diprediksi membuat hujan berintensitas tinggi kini bisa datang kapan saja.
Di tengah kondisi tersebut, muncul pertanyaan yang kerap mengemuka setiap kali banjir dan genangan terjadi: apakah persoalannya semata karena hujan deras, atau ada faktor lain yang membuat air tidak dapat mengalir dengan cepat?
Pemerhati isu perkotaan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Putu Rudy Setiawan, menilai terdapat sejumlah kemungkinan yang menyebabkan genangan muncul di beberapa titik Surabaya. Menurutnya, salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah kondisi saluran drainase yang masih dipenuhi sampah maupun sedimentasi. Saat kapasitas saluran berkurang akibat endapan lumpur dan tumpukan sampah, kemampuan menampung serta mengalirkan air hujan otomatis menurun.
“Dalam saluran bisa jadi masih terdapat sampah dan sedimentasi yang belum terangkat karena memang belum memasuki musim hujan,” ujarnya saat dikonfirmasi KabarBaik.co, Selasa (23/6).
Masalah sampah di saluran air sebenarnya bukan persoalan baru bagi Surabaya. Di sejumlah kawasan, kebiasaan membuang sampah sembarangan masih ditemukan. Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, sampah-sampah tersebut terbawa arus lalu menyumbat titik-titik tertentu di jaringan drainase.
Selain itu, Putu juga menyoroti kemungkinan terjadinya fenomena backwater atau aliran balik air yang dipicu oleh naiknya muka air laut. Kondisi ini membuat pembuangan air dari daratan menuju laut menjadi tidak maksimal sehingga air hujan membutuhkan waktu lebih lama untuk surut.
Faktor lain yang juga perlu dicermati adalah keberadaan sejumlah proyek pembangunan dan peningkatan drainase yang saat ini masih berlangsung di beberapa wilayah kota.
Pekerjaan konstruksi seperti pembangunan box culvert memang bertujuan meningkatkan kapasitas saluran dalam jangka panjang. Namun selama proses pengerjaan berlangsung, fungsi drainase harus tetap dijaga agar tidak menghambat aliran air saat hujan turun.
“Ada beberapa proyek konstruksi drainase yang sedang berjalan. Semua fungsi saluran harus tetap berjalan selama proses konstruksi,” kata Putu.
Selama ini, Pemerintah Kota Surabaya diketahui rutin melakukan pembersihan saluran dan pengangkatan sedimentasi menjelang musim hujan, biasanya pada Agustus hingga September. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengantisipasi meningkatnya debit air saat musim penghujan tiba.
Namun, perubahan pola cuaca dan dampak perubahan iklim membuat pendekatan lama dinilai perlu dievaluasi. Hujan kini tidak lagi datang sesuai kalender musim yang selama ini menjadi acuan.
Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat kerap menyaksikan hujan deras turun pada periode yang sebelumnya dikenal sebagai musim kemarau. Intensitas hujan yang tinggi dalam waktu singkat juga semakin sering terjadi.
Karena itu, Putu berpandangan bahwa perawatan sistem drainase tidak bisa lagi dilakukan hanya menjelang musim hujan. Kota besar seperti Surabaya membutuhkan pola pengelolaan yang lebih adaptif.
“Menghadapi hujan yang tidak menentu waktu maupun curahnya, serta menghadapi perubahan iklim, kegiatan pembersihan saluran dan pengangkatan sedimentasi perlu menjadi kegiatan rutin sepanjang tahun,” jelasnya.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa persoalan banjir perkotaan saat ini tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur, tetapi juga menyangkut cara kota beradaptasi terhadap perubahan lingkungan yang terus berlangsung.
Di satu sisi, pemerintah dituntut memastikan jaringan drainase bekerja optimal setiap saat. Di sisi lain, partisipasi masyarakat juga menjadi faktor penting. Saluran yang sudah dibersihkan akan kembali kehilangan kapasitasnya apabila sampah masih terus dibuang ke sungai maupun drainase lingkungan.
Bagi warga Surabaya, hujan deras yang turun selama tiga jam mungkin hanya berlangsung dalam satu malam. Namun bagi para perencana kota, peristiwa itu menjadi pengingat bahwa tantangan perkotaan ke depan tidak lagi sekadar menghadapi musim hujan dan musim kemarau.
Kini, kota harus siap menghadapi cuaca yang semakin sulit ditebak. Ketika hujan bisa datang kapan saja, maka kesiapsiagaan pun tidak boleh bersifat musiman. Perawatan saluran, pengendalian sampah, pengelolaan sedimentasi, hingga pengawasan proyek drainase harus berjalan sepanjang tahun.
Sebab pada akhirnya, banjir bukan hanya soal tingginya curah hujan. Banjir juga menjadi cerminan seberapa siap sebuah kota menjaga dan merawat sistem yang menopang kehidupan warganya setiap hari. (*)






