KabarBaik.co, Banyuwangi – Nelayan di Pantai Ria Bomo, Desa Bomo, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, mulai dikenalkan teknologi light fishing menggunakan panel surya. Cara ini dinilai lebih hemat dibanding metode konvensional yang menggunakan genset berbahan bakar solar.
Teknologi tersebut diperkenalkan tim akademisi Universitas PGRI Banyuwangi melalui program pengabdian kepada masyarakat yang diketuai Widhi Winata Sakti. Program itu didukung skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi.
Ketua Pokmaswas Nelayan Pantai Ria Bomo, Aan Mutowib mengatakan, selama ini mayoritas nelayan mengandalkan genset untuk menyalakan lampu saat melakukan light fishing. Penggunaan genset dinilai boros bahan bakar karena harus terus menyala sepanjang malam.
Aan menyebut kebutuhan solar untuk operasional genset mencapai Rp500.000 dalam lima hari. Kondisi tersebut semakin memberatkan ketika solar langka karena selain sulit didapat, harganya juga mengalami kenaikan di tingkat eceran. “Sehingga cukup membebani nelayan,” ujar Aan.
Menurut dia, persoalan ketersediaan bahan bakar juga berdampak terhadap hasil tangkapan. Pada musim ikan yang berlangsung sekitar Februari hingga Mei, hasil tangkapan nelayan disebut dapat mengalami penurunan 20 hingga 30 persen ketika pasokan solar untuk operasional light fishing terbatas.
“Kalau solar sulit didapat, kami tidak bisa maksimal melakukan light fishing pada malam hari. Dampaknya, hasil tangkapan juga bisa turun sekitar 20 sampai 30 persen,” katanya.
Karena itu, Aan menyambut baik pengenalan teknologi light fishing menggunakan panel surya tersebut. Menurutnya, penerapan teknologi itu memberikan manfaat langsung bagi nelayan, terutama dalam menekan biaya operasional.
“Kalau biaya operasional bisa ditekan, pendapatan bersih nelayan tentu bisa lebih baik. Kami berharap teknologi ini bisa terus dikembangkan dan digunakan oleh lebih banyak nelayan,” ujarnya.
Ketua tim pengabdian, Widhi Winata Sakti menjelaskan, teknologi tersebut bekerja dengan menangkap cahaya matahari menggunakan panel photovoltaic yang kemudian disimpan dalam baterai terintegrasi. Energi yang tersimpan selanjutnya digunakan untuk menyuplai lampu LED berdaya rendah sepanjang malam.
Teknologi itu dirancang untuk menjawab persoalan efisiensi energi yang selama ini dihadapi nelayan saat melakukan light fishing. “Teknologi ini dirancang sebagai solusi konkret bagi permasalahan efisiensi energi yang dialami oleh nelayan di Pantai Ria Bomo,” kata Widhi.
Menurut dia, penggunaan panel surya tidak hanya mengurangi pengeluaran nelayan untuk bahan bakar, tetapi juga menekan polusi suara dan emisi gas buang dari penggunaan genset di laut.
Selain memperkenalkan teknologi, tim pengabdian juga telah menyerahkan perangkat tersebut kepada para nelayan. Edukasi mengenai pengoperasian dan perawatan sistem panel surya turut diberikan agar perangkat dapat dirawat secara mandiri dan digunakan dalam jangka panjang.
“Nelayan kami latih supaya mampu merawat perangkat secara mandiri sehingga dapat digunakan dalam jangka panjang,” tandasnya. (*)








