Terungkap Penyebab Keracunan 31 Santri di Jombang, Telur Asin Mengandung Nitrit-Air Tercemar E. coli

oleh -196 Dilihat
WhatsApp Image 2026 03 17 at 3.56.58 PM 1
Kadinkes Jombang Hexawan Tjahja Widada didampingi Korwil BGN saat memberikan keterangan (Teguh Setiawan)

KabarBaik.co, Jombang — Kasus keracunan yang menimpa puluhan santri di Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah, Mojoagung, Jombang mulai menemukan titik terang. Hasil uji laboratorium menunjukkan adanya kandungan nitrit pada telur asin serta tingginya bakteri E. coli pada air yang digunakan di lingkungan pondok.

Kepala Dinas Kesehatan Jombang Hexawan Tjahja Widada mengatakan nitrit ditemukan dalam sampel telur asin yang dikonsumsi para santri.

“Normalnya makanan tidak mengandung nitrit. Dampaknya bisa memicu mual, muntah, hingga gangguan pencernaan secara mendadak,” ujar Hexawan, Selasa (17/3).

Selain itu, pemeriksaan juga menemukan kadar bakteri E. coli pada air yang digunakan di pondok cukup tinggi. Air tersebut dipakai untuk memasak hingga mencuci.

“Harusnya nol. Tapi ini mencapai 1.030 sampai 2.030 per mililiter. Itu berisiko menyebabkan sakit perut, mual, dan nyeri perut,” kata Hexawan.

Dari hasil uji lain, sampel muntahan santri juga mengandung bakteri Bacillus cereus. Namun, Dinkes belum dapat memastikan sumber pasti bakteri tersebut karena tidak semua makanan diuji.

“Fokus pemeriksaan pada telur asin, rawon, air, dan sampel muntahan,” jelasnya.

Hexawan menyebut telur asin diduga menjadi pemicu utama karena mengandung nitrit. Meski begitu, tidak semua santri yang mengonsumsi telur asin mengalami gejala keracunan.

“Yang menyebabkan intoleransi makanan diduga telur asin itu. Tapi tidak semua yang makan mengalami gejala. Kemungkinan ada perbedaan kualitas atau distribusi makanan,” paparnya.

Ia menduga kandungan nitrit muncul akibat proses penyimpanan yang kurang baik atau kualitas bahan baku yang tidak terkontrol.

“Bisa jadi karena penyimpanan terlalu lama atau sumber bahan berbeda. Ini perlu evaluasi pada pengadaan bahan baku,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut, Dinkes Jombang telah memberikan pembinaan kepada pihak pondok, terutama terkait peningkatan sanitasi dan perbaikan sistem filtrasi air.

“Kami minta sanitasi ditingkatkan. Filter air perlu diperbaiki agar kandungan E. coli bisa ditekan,” tegasnya.

Sementara itu, Koordinator Wilayah BGN Jombang, Deni Setiawan, mengatakan pihaknya telah menghentikan sementara operasional dapur penyedia makanan (SPPG) yang terlibat.

“Kami sudah lakukan suspend sebagai langkah awal. Ke depan, kami dorong perbaikan kontrol, baik dari sisi pondok maupun penyedia makanan,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengawasan terhadap SPPG di Jombang akan diperketat, meski diakui masih terkendala keterbatasan tenaga.

“Pengawasan tetap berjalan, tapi memang personel terbatas. Kami berharap ke depan quality control bisa lebih baik agar kejadian serupa tidak terulang,” kata dia. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.