KabarBaik.co – Penerimaan cukai dari wilayah kerja Bea Cukai Pasuruan tahun ini menurun tajam. Hingga November lalu realisasi baru menyentuh Rp 52,4 triliun. Perolehan ini terpaut cukup jauh dari capaian pada tahun-tahun sebelumnya.
Kepala Bea Cukai Pasuruan, Hatta Wardana, menyebut proyeksi akhir tahun hanya akan berada di sekitar Rp 58 triliun. Angka itu turun dari target yang telah dicanangkan. “Dulu kita pernah tembus Rp 62,8 triliun. Tapi tahun ini memang agak berat dan terbukti saat ini masih di Rp 52,4 triliun,” kata Hatta, Jumat (5/12).
Menurut Hatta, lesunya penerimaan tahun ini tak lepas dari turunnya produksi pabrik rokok besar kelompok industri golongan I yang selama ini menjadi penyumbang utama cukai. Kondisi tersebut dipicu dua tekanan besar gempuran rokok ilegal dan kenaikan tarif cukai dalam dua tahun terakhir. “Serangan rokok ilegal ini sangat mengganggu industri resmi,” terang Hatta.
Pasar-pasar di Sumatera dan Kalimantan, disebutnya menjadi sasaran utama peredaran rokok tanpa pita cukai tersebut. Akibatnya distribusi produk legal makin tertekan, sementara harga jual resmi naik karena penyesuaian tarif.
Di tengah situasi yang kurang menggembirakan itu, Bea Cukai Pasuruan melihat peluang pemulihan tahun depan. Meski begitu, pihaknya mengaku belum bisa membeberkan target 2026 karena masih menunggu keputusan pusat.
Menurut Hatta, fokusnya saat ini adalah memaksimalkan perolehan tahun berjalan, kendati peluang mencapai target 100 persen sangat kecil. “Hitungan realistis di akhir tahun ya Rp 58 triliun. Sulit untuk lebih,” ujarnya.
Hatta menegaskan pemberantasan rokok ilegal menjadi prioritas mutlak. Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan ikut memperketat pengawasan di lapangan agar peredaran produk tanpa pita cukai bisa diputus. Dengan begitu, stabilitas industri dan penerimaan negara diharapkan dapat kembali pulih.
“Kalau pengawasan kuat, tren positif kemungkinan besar tercapai,” pungkasnya. (*)







