KabarBaik.co, Mataram — Tradisi Perang Api antara warga Negarasakah dan Sweta kembali digelar dalam rangka perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 di wilayah Cakranegara, Mataram. Tradisi yang menjadi agenda tahunan ini dilaksanakan pada malam hari, usai parade ogoh-ogoh dan menjelang Hari Raya Nyepi.
Perang api yang melibatkan dua kelompok warga tersebut berlangsung meriah dan penuh semangat. Kegiatan ini secara turun-temurun dipercaya sebagai ritual untuk menolak bala serta membersihkan lingkungan dari hal-hal negatif.
Dalam pelaksanaannya, sempat terjadi kericuhan pasca perang api antara kubu Negarasakah dan Sweta. Namun situasi tersebut tidak berlangsung lama setelah tokoh masyarakat dan aparat setempat turun tangan untuk melerai.
Meski kerap diwarnai bentrokan, tradisi ini tidak menyisakan permusuhan. Warga dari kedua wilayah tetap menjunjung tinggi nilai kekeluargaan.
“Kericuhan itu biasa terjadi setiap pelaksanaan, tetapi setelah itu mereka akan berdamai kembali. Masyarakat Negarasakah dan Sweta pada dasarnya adalah keluarga, tidak ada permusuhan,” ujar I Gusti Agung Ngurah Oka, Lurah Cakra Timur.
Ia menuturkan, tradisi perang api memiliki latar belakang sejarah yang kuat berdasarkan cerita para tetua. Pada masa lampau, masyarakat di wilayah tersebut pernah mengalami kejadian luar biasa berupa banyaknya warga yang mengalami kelumpuhan hingga meninggal dunia.
“Informasi dari para tetua kita, dulu pernah terjadi banyak orang yang lumpuh dan meninggal, dan dari sanalah dimulai tradisi perang api. Tradisi ini diyakini bisa mengusir penyakit tersebut, sehingga terus dipertahankan hingga sekarang,” jelasnya.
Menurutnya, bentrokan kecil yang terjadi dalam tradisi ini tidak pernah menimbulkan dendam antarwarga. Perang api justru menjadi bagian dari dinamika budaya yang mempererat hubungan sosial masyarakat di wilayah Kelurahan Cakra Timur.
Ia berharap tradisi ini tetap dilestarikan sebagai warisan budaya sekaligus daya tarik wisata di Kota Mataram.
“Kita berharap tradisi ini tetap dilaksanakan dan tetap terjaga dengan harapan punya tujuan yang sama. Jadi bukan untuk balas dendam, tetapi membangun komunikasi yang baik,” ujarnya.
Secara filosofis, tradisi perang api dimaknai sebagai simbol pemurnian dan penolak bala. Api yang digunakan melambangkan kekuatan untuk membakar segala energi negatif, penyakit, dan malapetaka yang mengancam kehidupan masyarakat.
Selain itu, interaksi antarwarga dalam tradisi ini juga menjadi sarana memperkuat solidaritas, menjaga keseimbangan hubungan sosial, serta mengingatkan pentingnya persatuan di tengah perbedaan.(*)






