KabarBaik.co, Jayapura- Kekecewaan suporter Persipura Jayapura atas gol Adhyaksa FC yang dianggap kontroversial diduga sebagai biang kerusuhan masal. Hanya beberapa menit setelah peluit panjang pertandingan play-off promosi Liga 2, Jumat (8/5), aksi anarkistis meletus. Stadion Lukas Enembe yang belum lama diresmikan porak-poranda.
Dari beberapa sorotan di media sosial, gol tunggal Adilson da Silva menit 45+1 injury time babak pertama, diduga menjadi salah satu pemicunya. Suporter tuan rumah menilai gol tersebut berbau offside. Selain itu, dugaan handball di kotak penalti Adhyaksa FC. Namun, wasit tidak menindaklanjuti dengan VAR. Wasit asal Uzbekistan, Asker Nadjafaliev, mengesahkan gol tersebu. Skor 0-1 bertahan hingga menit akhir.
Begitu peluit panjang dibunyikan, dalam video-video yang beredar masa suporter menerobos ke lapangan. Mereka merusak kursi tribun, membanting monitor VAR, menghancurkan bench pemain, kaca, dan pagar. Kerusuhan tak berhenti di dalam stadion. Di luar, suasana malah lebih mencekam. Beberapa kendaraan, termasuk ambulans Brimob Polri, serta merusak sejumlah motor dan mobil penonton.
Jajaran Polda Papua dikabarka melakukan pengendalian dan pengamanan massa hingga dini hari. Belum ada laporan resmi, apakah korban atau tidak. Baik dari aparat ataupun massa suporter akibat aksi-aksi pelemparan atau penyebab lainnya. Yang pasti, dari berbagai laporan, pada Sabtu (9/5) pagi, situasi di Jayapura dan sekitar stadion sudah relatif kondusif.
Insiden ini kembali menyoroti sisi gelap sepak bola nasional. Ketika hasrat juara begitu memuncak bertemu keputusan yang dianggap merugikan atau tidak adil, emosi massa kerap meledak tanpa kendali.
Soaok Asker Nadjafaliev
Nama Asker Nadjafaliev, sering dieja Azker Ndjavalief, kembali menjadi sorotan publik setelah memimpin laga play-off promosi Liga 2 2025/2026 antara Persipura Jayapura versus Adhyaksa FC di Stadion Lukas Enembe, Jumar.t (8/5). Laga yang berakhir dengan kemenangan Adhyaksa 1-0 itu berakhir dengan kericuhan suporter.
Dari berbagai sumber, Asker lahir pada 18 Juni 1994 di Uzbekistan, kini berusia 31 tahun. Wasit berlisensi FIFA ini berasal dari Tashkent dan tercatat sebagai salah satu wasit internasional AFC yang aktif.
Sebelum menjadi wasit, Asker sempat bermain sebagai bek di level junior, termasuk sempat merasakan tim Rostov II (Rusia) sebelum pensiun dini dan beralih profesi. Tingginya sekitar 181 cm dengan postur tegap.
Di level internasional, Asker sudah sering ditugaskan di kompetisi AFC seperti U-23 Asian Cup Qualification, AFC Champions League, dan berbagai laga klub Asia. Di Liga Uzbekistan Super League, ia dikenal sebagai wasit muda yang dipercaya.
Baca Juga: Sosok ‘Arsitek Ajaib’ Asal Bojonegoro di Balik Promosi Adhyaksa FC ke Liga 1
PSSI sering menggunakan wasit asing netral untuk laga-laga krusial guna menghindari tuduhan bias. Termasuk Asker Nadjafaliev. Sebelumnya, dia juga pernah memimpin pertandingan BRI Liga 1, salah satunya Arema FC vs Persib Bandung pada September 2025. Dan, di laga play-off kemarin, dia pun kembali dipercaya memimpin duel penentuan promosi ke Liga 1.
Gaya memimpin Asker dikenal tidak terlalu ketat. Dari beberapa catatan, rata-rata mengeluarkan 2-3 kartu kuning per pertandingan dan jarang langsung memberikan kartu merah. Dia juga dikenal terbuka menggunakan teknologi VAR dan review monitor.
Beberapa kali kepemimpinannya, memang sempat menuai kriti. Terutama dari tim yang merasa dirugikan. Di laga Arema vs Persib, misalnya. Pelatih Arema saat itu dilaporkansempat menyayangkan beberapa keputusannya. Demikian pula saat memimpin laga di Stadion Lukas Enembe itu.
Baca Juga: Pertama! Garudayaksa FC, Klub Patron Prabowo Subianto Promosi ke Super League
Setelah peluit panjang dibunyikan, sebagian suporter Persipura turun ke lapangan, melemparkan flare, merusak fasilitas, dan menciptakan suasana chaos. Kabarnya, wasit Asker bersama official pertandingan sempat tertahan di dalam stadion. Sebab, situasi tidak aman. Aparat keamanan harus mengevakuasi wasit dan pemain tamu dengan pengawalan ketat.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari masing-masing pihak termasuk federasi tentang insiden tersebut. (*)








