Untag Surabaya-Thailand Sulap Sampah Kampung Maspati Jadi Pundi Rupiah via Budidaya Maggot

oleh -169 Dilihat
Suasana pendampingan pakar Untag Surabaya dan Kasetsart University Thailand kepada warga Kampung Kawak Maspati dalam mengolah sampah menjadi produk bernilai ekonomi.
Suasana pendampingan pakar Untag Surabaya dan Kasetsart University Thailand kepada warga Kampung Kawak Maspati dalam mengolah sampah menjadi produk bernilai ekonomi.

KabarBaik.co, Surabaya – Persoalan sampah perkotaan kini tak lagi dipandang sebagai beban lingkungan, melainkan sebuah potensi ekonomi baru yang menjanjikan. Transisi pemikiran inilah yang mulai direalisasikan oleh warga di lingkungan RW 5 Kampung Kawak Maspati, Kelurahan Bubutan, Surabaya pada Senin (18/5).

Melalui program International Joint Community Service, warga setempat menerima pendampingan intensif dari pakar lintas negara, yakni Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya dan Kasetsart University, Thailand guna menyulap limbah domestik menjadi produk bernilai jual tinggi.

Mengusung tema Pendampingan Sirkularitas Ekosistem Kota: Pemanfaatan Biokonversi BSF dan Manajemen Air Lahan Basah untuk Mendukung Sistem Urban Farming, kolaborasi ini menitikberatkan pada kemandirian finansial kampung.

Delegasi dari Kasetsart University, Asst. Prof. Samonporn Sutibak dan Asst. Prof. Rathanit Sukhanapirat membedah strategi daur ulang berbasis kemitraan triple-helix. Dalam paparannya, mereka meyakinkan warga bahwa sampah dapur dan organik dapat diolah menjadi pundi-pundi rupiah melalui metode budidaya maggot, yang saat ini memiliki permintaan tinggi di pasar pakan ternak.

Potensi ekonomi tersebut diamini oleh narasumber utama dari Untag Surabaya, Dr. Made Kastiawan. Ia menggarisbawahi bahwa perputaran uang dari pengelolaan sampah bisa dimaksimalkan jika rantai distribusinya diputus cukup sampai di tingkat kampung.

“Strategi pengolahan sampah di kampung seharusnya selesai di TPS, tidak perlu sampai ke TPA. Jadi, kampung-kampung di Surabaya harus mampu mengubah sampah tersebut menjadi produk-produk yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan bahkan dapat menambah pendapatan kampung. Selain maggot, masyarakat dapat mengolahnya menjadi kompos yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan urban farming,” urai Made Kastiawan.

Meski demikian, Made Kastiawan mengingatkan bahwa mesin ekonomi sirkular ini tidak akan berjalan tanpa adanya perubahan perilaku dari warga itu sendiri. “Namun demikian, keberhasilan pengolahan sampah dimulai dari hulunya, yaitu rumah tangga. Kesadaran memilah sampah di tingkat rumah tangga menjadi faktor kunci yang diperhitungkan,” ungkapnya menegaskan peran sentral masyarakat.

Guna mempercepat transisi ekonomi tersebut, tim Untag Surabaya yang terdiri dari pakar lintas disiplin seperti Dr. Jaka Purnama, Prof. Erni Pupanantasari P. hingga ahli hukum dan psikologi, tidak hanya berhenti pada edukasi lisan. Di lokasi kegiatan, Untag Surabaya secara resmi menyerahkan fasilitas modal kerja berupa dua unit rumah budidaya maggot dan seperangkat alat press plastik. Fasilitas ini langsung digunakan untuk demonstrasi agar warga RW 5 dapat segera memproduksi dan memasarkan hasil olahan sampah mereka.

Integrasi program bernilai ekonomi dan lingkungan ini ternyata merupakan fondasi jangka panjang yang telah disiapkan kampus. Ketua LPPM Untag Surabaya, Prof. Slamet Riyadi menyatakan bahwa pendampingan di Kampung Kawak Maspati ini adalah wujud nyata dari kelanjutan program Kampung Pancasila.

“Untag Surabaya berperan aktif dan selalu siap berkontribusi dalam pengelolaan kota Surabaya. Untag Surabaya telah melakukan berbagai macam pendampingan pada masyarakat Kota Surabaya, mulai dari Pendampingan Kampung Proklim, pendampingan SOTH dan Kemangi, dan yang terbaru ini adalah pendampingan Kampung Pancasila. Kegiatan di Kampung Kawak, Maspati ini merupakan lanjutan dari kegiatan pendampingan Kampung Pancasila,” terang Slamet Riyadi.

Sebagai bentuk komitmen pengawalan agar target kemandirian ekonomi warga benar-benar tercapai, LPPM Untag Surabaya juga menerjunkan kekuatan penuh dari mahasiswanya.

“Untag Surabaya juga telah menerjunkan 27 mahasiswa di Kelurahan Bubutan untuk pendampingan Kampung Pancasila dari 329 mahasiswa yang diterjunkan di Surabaya,” tutupnya.

Melalui injeksi teknologi, edukasi, dan pendampingan berkelanjutan ini, Kampung Kawak Maspati diharapkan segera merdeka dari masalah sampah sekaligus mandiri secara ekonomi.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.