Urgensi Kepemimpinan Rekonsiliatif Menyambut Muktamar ke-35 NU

oleh -157 Dilihat

OLEH: KH ASYHARI ABDULLOH TAMRIN*)

MENJELANG Muktamar ke-35,  Nahdlatul Ulama (NU) berada pada momentum krusial untuk melakukan koreksi dan penataan arah kepemimpinan. Dinamika internal PBNU dalam beberapa waktu terakhir, mulai dari ketegangan struktural, melemahnya konsolidasi, hingga polemik yang berdampak pada persepsi publik, menuntut solusi kepemimpinan yang bersifat menyeluruh, meneduhkan dan berjangka panjang.

Dalam konteks itulah, diskursus mengenai pasangan KH Said Aqil Siroj sebagai Rais Aam PBNU dan KH. Abdussalam Shohib (Gus Salam), Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang Jawa Timur, sebagai Ketua Umum PBNU mengemuka sebagai tawaran kepemimpinan yang mendesak.

Diskursus ini tidak dimaksudkan sebagai kampanye personal, melainkan sebagai ikhtiar intelektual-kultural untuk menghadirkan kepemimpinan yang mampu menyelesaikan persoalan mendasar Nahdlatul Ulama.

Konflik dan fragmentasi di tubuh PBNU tidak dapat diurai semata melalui pendekatan administratif atau mekanisme prosedural. Diperlukan figur yang memiliki otoritas moral, kewibawaan keulamaan, dan legitimasi kultural.

KH Said Aqil Siroj dengan kedalaman ilmu dan pengalaman panjang dalam memimpin NU dipandang mampu menjadi poros rekonsiliasi, rujukan keagamaan, sekaligus peneduh bagi beragam perbedaan yang berkembang di internal jam’iyyah.

Sementara itu, Gus Salam merepresentasikan figur Ketua Umum PBNU yang berakar kuat pada tradisi pesantren dan memiliki kedekatan kultural dengan basis warga nahdliyyin. Gus Salam dipandang memiliki kemampuan menggerakkan pembenahan organisasi secara kolektif, menata ulang tata kelola PBNU agar lebih tertib, profesional dan berorientasi pada khidmah, bukan konflik.

Urgensi pasangan ini pada Muktamar NU ke-35 terletak pada kemampuannya menjawab tiga agenda strategis NU sekaligus.

Pertama, rekonsiliasi internal PBNU, dengan menutup ruang polarisasi dan mengakhiri konflik yang menguras energi organisasi. Kedua, pembenahan organisasi, melalui penguatan sistem, disiplin struktur, dan penegasan kembali fungsi PBNU sebagai pelayan jam’iyyah dan jama’ah. Ketiga, pemulihan nama baik NU, agar kembali tampil sebagai organisasi ulama yang bermartabat, teduh dan menjadi teladan dalam kehidupan kebangsaan.

BACA JUGA: Emak-Emak NU dan Ziarah Sunyi: Satu Abad Mengawal Indonesia

Lebih jauh, pasangan KH. Said Aqil Siroj dan Gus Salam membawa harapan baru akan kebangkitan NU secara substantif. Suatu kebangkitan yang ditandai dengan soliditas ulama, penguatan peran pesantren, tertibnya organisasi, serta pulihnya kepercayaan publik terhadap kepemimpinan PBNU.

Muktamar ke-35 NU pada hakikatnya bukan sekadar forum pemilihan, melainkan momentum penyembuhan dan pembaruan. NU tidak membutuhkan kepemimpinan yang memperpanjang konflik, tetapi kepemimpinan yang mampu menyatukan kembali barisan, merawat tradisi dan menatap masa depan dengan penuh tanggung jawab.

Dalam kerangka itulah, pasangan KH Said Aqil Siroj dan Gus Salam patut ditempatkan sebagai solusi strategis bagi NU hari ini dan fondasi kuat bagi arah PBNU ke depan. (*)

*) KH ASYHARI ABDULLOH TAMRIN, Rois Syuriah PWNU DIY 2006 – 2016, Mustasyar PWNU DIY 2016 – 2021, Mustasyar PBNU 2021 – 2026*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.