KabarBaik.co – Penolakan warga terhadap pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Lapangan Sidorejo, Sidoarjo, masih terus bergulir. Hingga kini, polemik antara warga dengan pemerintah desa belum menemukan titik temu, meski dialog sudah beberapa kali digelar.
Kepala Desa Sidorejo Heri Sucipto mengakui penolakan sebagian warga masih mengemuka. Pemerintah desa, kata dia, telah membuka ruang musyawarah untuk mencari solusi bersama, namun hasilnya belum memuaskan semua pihak.
“Kami sudah mengumpulkan warga yang keberatan dan mencoba mencari jalan tengah, tetapi sampai sekarang memang belum ada kesepakatan,” ujar Heri, Rabu (14/1).
Ia menduga penolakan muncul akibat miskomunikasi di tahap awal perencanaan. Musyawarah lanjutan yang digelar sebelumnya pun belum menghasilkan keputusan final, sehingga pemerintah desa berencana kembali menggelar dialog.
“Mungkin ada ketidaktahuan atau informasi yang tidak tersampaikan dengan baik. Musyawarah kemarin belum menghasilkan keputusan, jadi akan kami lanjutkan,” jelasnya.
Heri menegaskan penentuan lokasi pembangunan KDMP telah melalui mekanisme resmi. Pemerintah desa disebut sudah dua kali menggelar musyawarah desa (musdes) sebelum pembangunan dimulai.
“Prosesnya sudah sesuai prosedur. Dari penjaringan lahan hingga penetapan lokasi di Lapangan Sidorejo yang merupakan Tanah Kas Desa (TKD), semuanya melalui musdes,” tegasnya.
Dalam musdes awal, terdapat tiga alternatif lokasi yang diusulkan, yakni di belakang balai desa, kawasan pedukuhan dekat masjid, dan Lapangan Sidorejo. Pada musdes lanjutan pertengahan November, lapangan desa akhirnya disepakati sebagai lokasi pembangunan KDMP.
“Dari hasil musdes lanjutan itu, diputuskan pembangunan di lapangan desa. Saat ini progres pembangunan sudah sekitar 17 persen,” imbuh Heri.

Meski demikian, penegasan tersebut belum meredam penolakan warga. Pemerintah desa berjanji fungsi lapangan tidak akan hilang sepenuhnya dan tetap bisa digunakan untuk aktivitas olahraga warga.
“Nanti tetap ada lapangan. Kami rencanakan renovasi lanjutan, termasuk lapangan voli dan bola,” katanya.
Namun, perwakilan warga Dusun Madubronto, Ardi, menegaskan masyarakat tetap menolak pembangunan KDMP di lapangan desa. Warga berharap pemerintah desa bersedia memindahkan lokasi proyek tersebut.
“Harapan kami jelas, pembangunan dipindahkan. Itu sudah kami sampaikan dalam rapat semalam,” tegas Ardi.
Menurutnya, Lapangan Sidorejo sejak awal merupakan ruang publik yang menjadi pusat aktivitas warga. Selain digunakan untuk sepak bola, lapangan tersebut juga kerap dimanfaatkan untuk kegiatan sosial dan kemasyarakatan.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Dinkop UM) Kabupaten Sidoarjo, Edi Kurniadi, menilai penolakan tersebut hanya berasal dari sebagian kecil warga. Ia menyebut polemik dipicu kurangnya pemahaman terhadap program pemerintah.
“Yang menolak hanya sebagian kecil. Artinya masih perlu penjelasan lebih lanjut agar masyarakat memahami program ini. Insyaallah tidak ada masalah,” ujarnya.
Sebelumnya, penolakan warga sempat ditunjukkan dengan pemasangan spanduk di pintu masuk Lapangan Sidorejo pada Minggu (11/1). Spanduk bertuliskan “#masyarakat peduli desa, kembalikan lapangan Sidorejo seperti semula” menjadi simbol kekecewaan warga yang merasa ruang publik mereka terancam.
Hingga kini, Lapangan Sidorejo masih dimanfaatkan warga untuk beraktivitas, sementara polemik pembangunan KDMP terus berlanjut dan menunggu hasil mediasi lanjutan antara warga dan pemerintah desa. (*)







