KabarBaik.co, Amerika- Ribuan pengunjung memadati Carroll Creek Park, Frederick, Maryland, saat Indonesia Day on the Creek 2026 digelar sepanjang hari. Sebuah event menarik yang menghadirkan pertunjukan Reog Ponorogo, angklung, dan batik dalam satu panggung budaya.
Festival yang memasuki tahun ketiga penyelenggaraannya itu menjadi ajang diplomasi budaya Indonesia sekaligus memperkuat identitas diaspora di Amerika Serikat.
Diselenggarakan Indonesian Education & Cultural Network (IDECN), Asian American Center of Frederick (AACF), dan Indonesia Lighthouse, dengan dukungan Kedutaan Besar (Kedubes) Republik Indonesia di Washington D.C., festival tersebut menampilkan seni pertunjukan, kuliner, kerajinan, hingga aktivitas budaya yang dapat diikuti langsung oleh masyarakat.
Salah satu daya tarik utama adalah penampilan Reog Ponorogo, yang sejak 2024 diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Atraksi Dadak Merak dengan ukuran besar menarik perhatian pengunjung, termasuk warga Amerika yang menyaksikan pertunjukan tersebut untuk kali pertama.
Selain Reog, festival juga menghadirkan pertunjukan angklung yang melibatkan pemain dari berbagai usia dan latar belakang. Dipimpin Ari Sufiati bersama kelompok Angklung Ibu Ari, pertunjukan tersebut berkolaborasi dengan Mabuhay Foundation sehingga mempertemukan komunitas Indonesia dan Filipina dalam satu panggung.
Pengunjung juga berkesempatan mengikuti lokakarya membatik. Anak-anak hingga orang dewasa mencoba menggunakan canting dan malam untuk membuat motif batik sebagai bagian dari pengalaman mengenal budaya Indonesia secara langsung.
Festival dibuka dengan parade budaya yang diawali Reog Ponorogo dan Rumah Gadang USA, diikuti peserta yang mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia. Rombongan berjalan menyusuri Carroll Creek menuju amphitheater utama sebelum rangkaian pertunjukan dimulai.
Pembukaan acara dihadiri Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, H.E. Dwisuryo Indroyono Soesilo, Wali Kota Frederick Michael O’Connor, Frederick County Executive Jessica Fitzwater, anggota Maryland House of Delegates, serta perwakilan Kongres dan Senat Amerika Serikat.

Sepanjang hari, panggung festival diisi berbagai kelompok seni, di antaranya Bali Jegeg, Banjar Bali, Culture Keepers, Harmony Band, Nusantara Budaya, Reog Singolodoyo, Rumah Gadang, Santi Budaya, Williamsburg Djojo, dan Spotlight Academy. Sementara itu, bazar kuliner dan produk Indonesia menjadi salah satu lokasi yang paling ramai dikunjungi.
Presiden IDECN sekaligus Ketua Panitia, Haris Koentjoro, mengatakan bahwa Indonesia Day on the Creek menjadi media membangun hubungan antarbangsa melalui kebudayaan. “Indonesia Day on the Creek bukan sekadar festival, tetapi ruang untuk membangun hubungan melalui budaya,” ujarnya dalam siaran tertulisnya.
”Ketika masyarakat menyaksikan Reog Ponorogo, mendengar angklung, mencoba membatik, dan menikmati kuliner Indonesia, mereka tidak hanya menyaksikan sebuah pertunjukan. Mereka terhubung dengan tradisi hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi,” lanjut Haris.
Pernyataan senada disampaika Presiden Indonesia Lighthouse Ari Sufiati. Dia menilai pelestarian budaya harus melibatkan generasi muda, khususnya anak-anak diaspora Indonesia yang lahir dan tumbuh di Amerika Serikat. “Kebudayaan bukan hanya untuk dipertunjukkan, tetapi juga menjadi cahaya yang menuntun generasi muda untuk mengenal jati diri, membangun kebanggaan, dan terhubung dengan masyarakat dunia,” katanya.
Melalui pertunjukan seni, lokakarya budaya, dan kuliner Nusantara, Indonesia Day on the Creek 2026 memperlihatkan bagaimana diplomasi budaya dapat mempererat hubungan masyarakat lintas negara sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada publik internasional. (*)








