KabarBaik.co, Hawaii – Hubungan pertahanan antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan penguatan. Kemitraan strategis kedua negara kini tidak hanya mencakup latihan militer bersama, tetapi juga diperluas ke pengembangan teknologi pertahanan, pendidikan militer, hingga peningkatan kapasitas prajurit.
Penguatan kerja sama tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam kunjungan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, ke Markas Komando Pasifik Angkatan Bersenjata Amerika Serikat di Honolulu, Hawaii. Dalam kunjungan itu, Indroyono diterima langsung oleh Panglima Komando Pasifik Amerika Serikat Laksamana Samuel J. Paparo beserta jajarannya.
Indroyono mengatakan hubungan pertahanan Indonesia dan Amerika Serikat terus berkembang secara konstruktif melalui berbagai program peningkatan kapasitas, latihan bersama, pendidikan militer, hingga kerja sama di bidang teknologi pertahanan.
“Hubungan pertahanan Indonesia dan Amerika Serikat terus berkembang secara konstruktif melalui peningkatan kapasitas, latihan bersama, pendidikan militer, serta penguatan kerja sama teknologi pertahanan. Seluruh kerja sama ini diarahkan untuk mendukung stabilitas kawasan Indo-Pasifik dan memperkuat kepercayaan kedua negara,” ujarnya dikutip dalam pernyataan tertulisnya, Kamis (9/7).
Selama ini, kerja sama pertahanan Indonesia dan Amerika Serikat bertumpu pada tiga pilar utama, yakni pengembangan kemampuan pertahanan dan teknologi militer, pendidikan serta pelatihan personel, dan pelaksanaan latihan maupun operasi bersama.
Berbagai latihan gabungan menjadi fondasi penting dalam memperkuat interoperabilitas kedua negara. Salah satunya adalah Gema Bhakti Exercise yang berfokus pada peningkatan kemampuan perencanaan operasi gabungan sekaligus kesiapan menghadapi dinamika keamanan kawasan.
Di sektor maritim, kerja sama diwujudkan melalui Cooperation Afloat Readiness and Training (CARAT) yang melibatkan TNI Angkatan Laut, US Navy, dan US Marine Corps. Latihan ini mencakup pengamanan wilayah laut, pencarian dan penyelamatan, pertahanan maritim, hingga operasi bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana.
Indonesia juga secara rutin menjadi tuan rumah Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) yang diikuti berbagai negara, termasuk Amerika Serikat. Latihan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama maritim, respons bencana, sekaligus diplomasi pertahanan di kawasan Indo-Pasifik.
Sementara di matra udara, kerja sama diwujudkan melalui Cope West Exercise antara TNI Angkatan Udara dan United States Air Force Pacific Air Forces (USAF/PACAF). Pada pelaksanaan Cope West 2025, latihan melibatkan pesawat tempur F-15 milik USAF dan F-16 TNI AU, serta pelatihan taktis bagi personel Kopasgat untuk meningkatkan kemampuan operasional dan interoperabilitas.
Kerja sama pertahanan kedua negara juga semakin diperkuat melalui Super Garuda Shield, yang kini berkembang menjadi salah satu latihan militer multinasional terbesar di kawasan Indo-Pasifik. Latihan tersebut melibatkan berbagai negara mitra dan menjadi simbol meningkatnya peran Indonesia dalam kerja sama pertahanan regional.
Selain itu, terdapat latihan bersama antara pasukan khusus Indonesia dan US Special Operations Command Pacific, serta latihan Keris-MAREX yang mempertemukan Korps Marinir TNI AL dengan Korps Marinir Amerika Serikat dalam peningkatan kemampuan operasi amfibi, pertahanan pesisir, dan keamanan maritim.
Hubungan antarprajurit juga diperkuat melalui program Platoon Exchange (PLATEX) yang memungkinkan personel marinir kedua negara saling bertukar pengalaman dalam operasi patroli, pertempuran hutan dan perkotaan, hingga latihan menembak reaksi.
Dalam kunjungan tersebut, delegasi Indonesia turut meninjau pelaksanaan Rim of the Pacific (RIMPAC) 2026, latihan angkatan laut multinasional terbesar di dunia yang diikuti 31 negara, termasuk unsur Korps Marinir TNI AL.
Pertemuan antara delegasi Indonesia dan Panglima Komando Pasifik Amerika Serikat juga membahas persiapan Super Garuda Shield 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Indonesia pada September 2026. Latihan itu diproyeksikan kembali melibatkan berbagai negara sahabat sebagai bagian dari komitmen bersama untuk memperkuat interoperabilitas, membangun kepercayaan, serta menjaga stabilitas dan keamanan kawasan Indo-Pasifik. (*)






