KabarBaik.co, Jakarta- Tragedi meninggalnya lima calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di tengah pelaksanaan latihan dasar militer (latsarmil) terus memicu sorotan publik terhadap desain program pemerintah. Di tengah kabar duka itu, terungkap bahwa anggaran pelatihan untuk sekitar 35.476 peserta diperkirakan mencapai Rp 1,6 triliun.
Dari anggaran tersebut, terungkap porsi terbesar dialokasikan untuk latihan militer yang dinilai tidak berkaitan langsung dengan tugas pengelolaan koperasi desa.
Anggota Komisi I DPR RI Mayjen TNI (Purn) Tubagus Hasanuddin mengungkapkan, biaya pelatihan setiap calon manajer Kopdes Merah Putih mencapai sekitar Rp 45 juta per orang. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 30 juta dialokasikan untuk latihan dasar militer selama 30 hari, sementara Rp 15 juta digunakan untuk pembelajaran substansi koperasi selama 15 hari.
Dengan jumlah peserta mencapai 35.476 orang, total kebutuhan anggaran pelatihan diperkirakan mencapai sekitar Rp 1,6 triliun atau tepatnya Rp 1.596.420.000.000.
Hasanuddin menilai sebagian besar anggaran tersebut terserap untuk kegiatan kemiliteran yang tidak memiliki keterkaitan langsung dengan kompetensi yang dibutuhkan seorang manajer koperasi desa. Menurut dia, apabila komponen latihan militer dihapus, maka negara berpotensi menghemat sekitar Rp 30 juta per peserta atau sekitar dua pertiga dari total biaya pelatihan. Secara nasional, penghematan tersebut diperkirakan mencapai lebih dari Rp 1 triliun.
Hasanuddin menegaskan bahwa tugas utama manajer koperasi adalah mengelola organisasi, mengembangkan usaha, memahami tata kelola keuangan, pemasaran, serta pemberdayaan masyarakat. Karena itu, materi pelatihan seharusnya difokuskan pada peningkatan kompetensi manajerial dan kewirausahaan, bukan latihan fisik atau kemiliteran.
Dia mengusulkan agar pelatihan substansi koperasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kementerian Koperasi, sementara kementerian teknis lainnya memberikan pelatihan sesuai bidang masing-masing. Pemerintah juga didorong melakukan evaluasi menyeluruh terhadap desain pelatihan agar lebih efektif, efisien, tepat sasaran, serta tidak membebani anggaran negara secara berlebihan.
Kementerian Pertahanan Hentikan Latsarmil
Sementara itu, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) menghentikan latihan dasar kemiliteran kepada Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) calon pengelola atau manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP).
“Kemhan melakukan penyesuaian pendekatan kegiatan. Terminologi dan pelaksanaan kegiatan saat ini diarahkan menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial, bukan Latsarmil lagi,” kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait dilansir dari Antara, Senin (29/6).
Perubahan itu dilakukan setelah Menhan Sjafrie Sjamsoeddin mengevaluasi sistem pembelajaran, setelah kejadian lima peserta latsarmil meninggal dunia. Dengan adanya evaluasi ini, Rico memastikan kegiatan fisik dan pelatihan yang berkaitan dengan latihan kemiliteran akan dikurangi.
“Dengan penyesuaian tersebut, kegiatan yang bersifat taktis dan teknis militer dikurangi, termasuk kegiatan menembak tidak lagi menjadi bagian dari pelaksanaan latihan saat ini,” kata Rico.
Fokus kegiatan diarahkan pada pembentukan disiplin, karakter, kepemimpinan, kerja sama, tanggung jawab, wawasan kebangsaan, serta kesiapan manajerial peserta sebagai calon pengelola koperasi. Menurut Rico, Kemhan juga akan memperhatikan kondisi kesehatan peserta demi memastikan proses pendidikan para calon pengelola koperasi bisa berjalan aman dan tertib.
Sebagaimana diberitakan, jumlah calon manajer Kopdes Merah Putih yang meninggal di tengah latihan militer ada sebanyak lima orang. Mereka adalah Nola Dya Sari, yang dilatih di Satdik Dodik Bela Negara Kalimantan; Muhammad Rifki Renaldi Gunawan, alumnus Prodi Teknik Elektro UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, menjalani latihan dasar militer (Latsarmil) dari Kodam III/Siliwangi.
Lalu, tiga korban lainnya adalah Yonanda Muhammad Taufiq, yang wafat pada 17 Juni 2026 saat berlatih di Satuan Pendidikan Pusat Latihan Tempur TNI-AD, Baturaja, Sumatra Selatan. Kemudian, Anisa Muyassaroh, yang meninggal pada 18 Juni 2026 saat mengikuti pelatihan di Satuan Pendidikan Resimen Induk Kodam Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur, dan Novia Rahmadhani Sihotang, meninggal pada 23 Juni 2026, saat mengikuti pelatihan di Pusat Bahasa Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI-AU, Jakarta. (*)






