KabarBaik.co, Gresik – Idul Adha 1447 H tinggal menghitung hari. Hari yang identik dengan tradisi makan bersama keluarga dan berbagi daging kurban.
Namun, bagi seseorang seseorang yang memiliki faktor risiko hipertensi, diabetes, jantung, stroke, dan riwayat hiperkolesterol, Idul Adha harus dijalani dengan kehati-hatian khusus. Terutama terkait dengan konsumsi daging merah seperti kambing, sapi, atau domba.
“Penderita dengan faktor risiko tersebut sebenarnya boleh mengonsumsi daging saat Idul Adha, asal porsinya tidak berlebihan dan cara pengolahannya tepat,” ujar dokter spesialis saraf RSUD Ibnu Sina Gresik dr Heri Munajib SpN, Selasa (26/5)
Heri mengatakan beberapa studi menunjukkan bahwa kasus stroke dapat meningkat setelah Idul Adha, terutama karena konsumsi daging yang berlebihan.
Konsumsi Lemak jenuh, garam tinggi pada olahan daging dan jeroan berisiko menyumbat pembuluh darah, memicu kolesterol, serta menaikkan tekanan darah secara cepat.
Berikut adalah tips menjaga kesehatan saat Idul Adha untuk mencegah stroke:
Batasi Porsi Daging
Angka aman konsumsi daging yang direkomendasikan adalah 1–3 kali makan per pekan, dengan porsi 56–85 gram sekali makan. Sebagai gambaran bahwa 50 gram daging kira-kira seukuran satu potong kecil seberat setengah telapak tangan.
Sementara bagi orang sehat, batas aman konsumsi daging merah adalah 50 hingga 100 gram per hari. Namun, batas konsumsi ini tidak sama untuk semua orang.
Penderita hipertensi, kolesterol tinggi, dan stroke sebaiknya membatasi konsumsi daging, terutama daging merah dan olahan.
Pilih Bagian Rendah Lemak
Disarankan memilih bagian daging yang rendah lemak, misalnya bagian sirloin, paha belakang (round), atau pinggang (loin) pada daging sapi. Bagian ini mengandung lemak lebih sedikit dibandingkan bagian lainnya, dan batasi konsumsi jeroan seperti hati atau usus.
Hindari Santan dan Garam Berlebih
Cara memasak yang sehat seperti direbus, dipanggang, atau dikukus lebih baik untuk menjaga kesehatan. Hindari juga penggunaan garam dan bumbu yang berlebihan karena garam bisa meningkatkan tekanan darah.
Mengontrol konsumsi garam adalah hal penting bagi penderita hipertensi, stroke dan jantung. Kementerian Kesehatan menyarankan batas konsumsi natrium tidak lebih dari 2.000 mg atau sekitar 5 gram garam sehari untuk menjaga tekanan darah tetap stabil.
Jadi, hindari makanan olahan dan makanan cepat saji yang biasanya mengandung garam tinggi.
Konsumsi Sayur dan Buah
Imbangi konsumsi daging dengan serat dari sayuran dan buah-buahan untuk membantu mengontrol kolesterol. Buah dan sayur kaya akan serat, vitamin, mineral, dan antioksidan yang membantu menurunkan risiko stroke dan memperbaiki kesehatan secara keseluruhan.
Sumber protein rendah lemak juga penting, misalnya tempe, tahu, putih telur, kacang-kacangan, dan yogurt.
Selain itu, makanan yang kaya asam lemak omega-3, seperti ikan salmon, makarel, dan sarden, juga sangat dianjurkan karena omega-3 dapat membantu mengurangi peradangan dan risiko stroke.
Cegah Dehidrasi dan Tetap Aktif
Minum air putih yang cukup dan lakukan olahraga ringan setidaknya 30 menit per hari untuk menjaga metabolisme tetap optimal.
Waspada Gejala
Waspada jika muncul sakit kepala hebat tiba-tiba, lemah satu sisi tubuh, atau gangguan bicara setelah makan daging berlebih.
Setidaknya untuk mengenali gejala stroke sejak dini ada metode BEFAST yakni :
Balance: Kehilangan keseimbangan secara dan terasa pusing seperti di ombang ambing didalam kapal laut atau melihat dunia terasa terbolak balik yang mendadak.
Eyes: Pandangan kabur atau buram hingga padangan mata dobel yang lazim kita sebut diplopia yang mendadak
Face: Wajah tampak tidak simetris atau merot antara kanan kiri tidak sama atau kesemutan setengah wajah yang mendadak
Arms: Lengan dan kaki sebagai anggota gerak lemas, sulit digerakkan atau kesemutan setengah tubuh yang mendadak
Speech: Kesulitan berbicara, bicara tidak jelas atau pelo yang mendadak
Time: Jika mengalami gejala tersebut, segera cari pertolongan medis, karena bagi kita dokter spesialis Neurologi Waktu adalah Otak.
Jika menemukan seseorang dengan gejala BEFAST seperti di atas, segera dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS terdekat agar segera mendapatkan penanganan medis yang cepat dan tepat sehingga memperkecil resiko kecacatan hingga meninggal dunia. (*)








