KabarBaik.co- Jakarta — Jutaan masyarakat Indonesia kembali menjalani tradisi mudik Lebaran. Berdasarkan prediksi, musim Angkutan Lebaran 2026 diperkirakan akan melibatkan sekitar 143,9 juta pemudik, lebih dari separuh penduduk Indonesia yang memilih berbagai moda transportasi untuk pulang kampung.
Dari jumlah tersebut, diperkirakan lebih dari 76 juta orang akan menggunakan mobil pribadi, sementara ribuan lainnya memilih kereta, bus, kapal, hingga pesawat terbang. Puncak arus mudik diproyeksikan terjadi pada 18 Maret 2026. Namun beberapa wilayah seperti Tol Cipali bahkan diperkirakan mencapai puncaknya pada 17 Maret seiring lonjakan volume lalu lintas di jalur utama trans‑Jawa.
Korlantas Polri dalam Operasi Ketupat 2026 telah mengerahkan ratusan ribu personel dan menyiagakan berbagai pos pelayanan dan rest area di sepanjang jalur utama untuk memastikan semua perjalanan berjalan aman.
Sebagai bagian dari strategi keselamatan, Korlantas bahkan memberlakukan ramp check pada titik‑titik tertentu seperti KM 81 Tol Cipali untuk memeriksa kelayakan angkutan umum dan kondisi pengemudi, serta memberikan imbauan kepada pemudik agar memanfaatkan fasilitas istirahat guna mengurangi risiko kecelakaan akibat kelelahan.
Angka terbaru juga menunjukkan dinamika yang menarik dalam aspek keselamatan. Meskipun jumlah kejadian kecelakaan lalu lintas sedikit meningkat dibanding tahun lalu, yakni sekitar 4,8% lebih tinggi,
Korlantas mencatat bahwa angka fatalitas kecelakaan–korban meninggal dunia — turun hingga sekitar 45%. Tren penurunan ini dinilai sebagai dampak positif dari kampanye keselamatan, pengawasan di lapangan, serta kesadaran pemudik dalam menerapkan praktik berkendara aman.
Dalam konteks keselamatan keluarga, sejumlah pihak juga menyoroti pentingnya memperhatikan aspek mudik ramah anak, termasuk kewaspadaan terhadap risiko kelelahan, keselamatan selama berhenti di rest area, hingga pemilihan moda transportasi yang paling sesuai untuk kondisi keluarga. Hal ini diperkuat dengan dorongan dari lembaga seperti KPAI yang menekankan agar perjalanan pulang kampung juga mempertimbangkan kenyamanan serta perlindungan anak.
Sementara itu, persiapan layanan angkutan massal juga semakin matang. Operator bandara‑bandara di berbagai wilayah seperti Sulawesi dan Sumatera telah menyiapkan extra flight besar‑besaran untuk mengantisipasi lonjakan penumpang udara hingga lebih dari 5% dibandingkan periode sama tahun lalu.
Di daerah Sumatera Barat, Bandara Internasional Minangkabau memaksimalkan posko Lebaran, yang beroperasi selama 18 hari, untuk menjaga koordinasi layanan dan keamanan operasional di tengah lonjakan lalu lintas pemudik.
Bagaimanapun, keselamatan tetap menjadi fokus utama di tengah tradisi besar ini. Aparat kepolisian, instansi transportasi, serta pemangku kepentingan terus menekankan agar pemudik tidak memaksakan diri ketika lelah, beristirahat dengan cukup di rest area, serta menerapkan praktik berkendara defensif di titik‑titik rawan, khususnya saat melintasi wilayah dengan tingkat kecelakaan tinggi seperti di beberapa segmen Trans Jawa.
Dengan prediksi volume perjalanan yang sangat besar, langkah terpadu antara pemudik yang terinformasi dan aparat yang siaga di lapangan diharapkan dapat mengamankan tradisi pulang kampung tanpa mengorbankan keselamatan. Dengan demikian, momentum kebersamaan keluarga tetap berjalan lancar dan aman. (*)






