KabarBaik.co, Nganjuk – Ketika langit mulai tertutup mendung, suhu mulai beranjak turun. Sejenak kemudian, rasa dingin mulai menyapa. Ketika rintik hujan mulai terpercik, hawa terasa lebih adem.
Bagi sebagian orang, sejuk dan dinginnya cuaca saat hujan ini menjadi ajang untuk berlama-lama di balik selimut atau menikmati secangkir minuman hangat.
Di warung kopi sederhana di Desa Tanjungrejo, Loceret, Nganjuk, aroma jahe yang menggugah selera berpadu dengan aroma kopi yang khas memenuhi setiap sudut ruangan.
Di salah satu meja kayu, Dokter Hendriyanto sosok yang akrab dikenal sebagai mantan Kepala Dinas Kesehatan dan mantan Direktur RSUD Kertosono ini, sedang menyeduh secangkir wedang jahe dengan tangan terampil.
Sambil mengaduk-aduk minuman yang masih mengeluarkan uap panas, ia mulai membuka suara tentang rahasia khasiat minuman yang telah ada sejak zaman nenek moyang ini.
“Banyak orang mengira wedang jahe hanya sekadar minuman hangat untuk menghangatkan tubuh di cuaca dingin. Padahal, berdasarkan pengetahuan medis, manfaatnya jauh lebih luas, terutama bagi mereka yang sering mengalami gangguan asam lambung,” ujarnya saat berbincang dengan wartawan KabarBaik.co, Minggu (1/2).
Dokter Hendri menjelaskan bahwa kandungan senyawa aktif dalam jahe, seperti gingerol dan shogaol, menjadi kunci utama dalam membantu mengatasi masalah asam lambung. Senyawa tersebut bekerja dengan cara menekan produksi asam lambung yang berlebihan sekaligus melindungi lapisan lambung dari iritasi.
“Di cuaca mendung atau gerimis seperti sekarang ini, tubuh cenderung lebih sensitif dan sistem pencernaan bisa menjadi kurang optimal. Minum wedang jahe tidak hanya menghangatkan tubuh dari dalam, tapi juga membantu menstabilkan fungsi lambung.” jelasnya.
Saat berbincang, beberapa pelanggan warung pun ikut menyampaikan pengalaman pribadi. Mas Tris begitu panggilan akrab pria usia 45 tahun, seorang warga Desa Tanjungrejo yang sering mengalami sakit perut akibat asam lambung, mengaku merasakan perubahan signifikan setelah rutin minum wedang jahe selama tiga bulan terakhir.
“Dulu kalau cuaca dingin pasti sakit perut, sekarang sudah jarang. Malah saya jadi suka membuatnya sendiri di rumah untuk keluarga pak dokter,” timpalnya dengan tersenyum.
Tidak hanya menjelaskan khasiat, Dokter Hendri juga berbagi cara membuat wedang jahe yang benar agar manfaatnya bisa dirasakan secara optimal. Menurutnya, jahe segar yang diiris tipis atau ditumbuk, lebih baik daripada jahe bubuk, karena kandungan senyawa aktifnya lebih utuh.
“Rebus jahe bersama air hingga mendidih dan biarkan selama 10-15 menit agar khasiatnya keluar sempurna. Bisa ditambahkan gula merah atau madu sebagai pemanis alami, hindari menggunakan gula pasir putih terlalu banyak karena bisa meningkatkan risiko peningkatan asam lambung,” tambahnya.
Ia juga menyarankan untuk tidak menambahkan susu pada wedang jahe bagi penderita asam lambung, karena susu bisa memicu produksi asam lebih banyak.
Tradisi yang Tetap Hidup di Tengah Modernitas
Di tengah maraknya minuman modern yang banyak beredar, wedang jahe tetap menjadi pilihan banyak orang di Nganjuk. Warung kopi di berbagai pelosok daerah bahkan menjadikannya sebagai menu utama selain kopi.
Yoko, 60, pemilik warung kopi tempat berbincang tersebut, mengaku bahwa permintaan wedang jahe selalu meningkat saat cuaca mendung atau musim hujan tiba.
“Biasanya kopi, tapi kalau pas mendung begini, banyak yang datang khusus untuk memesan minuman ini, bahkan ada yang memintanya untuk dibawa pulang,” ujarnya sambil memasangkan kayu bakar pada tungku yang digunakan untuk merebus jahe.
Dokter Hendri menegaskan bahwa menjaga tradisi konsumsi makanan dan minuman tradisional seperti wedang jahe adalah bentuk cinta terhadap budaya lokal sekaligus investasi kesehatan bagi diri sendiri dan keluarga.
“Ini bukan hanya minuman, tapi warisan yang memiliki nilai edukatif dan kesehatan yang tak ternilai harganya,” pungkasnya sebelum menyudahi secangkir wedang jahe yang sudah hampir habis. (*)






