KabarBaik.co – Musim panen durian lokal kembali berlangsung di lereng Gunung Anjasmoro, tepatnya di Kecamatan Wonosalam, Jombang, Jawa Timur.
Aroma durian khas pegunungan mulai tercium sejak beberapa pekan terakhir, menandai panen raya yang selalu dinanti para pecinta durian.
Namun, panen durian tahun ini tidak semelimpah musim sebelumnya. Cuaca ekstrem berupa kemarau basah dengan curah hujan tinggi berdampak pada produktivitas kebun durian milik warga.
Salah seorang petani durian, Heri Susanto, warga Dusun Tukum, Desa Wonosalam, mengatakan hasil panen tahun ini menurun cukup signifikan.
Jika pada musim lalu ia mampu memanen hingga 500 buah durian per hari, kini jumlahnya hanya berkisar antara 100 hingga 200 buah per hari.
“Produktivitas tahun ini memang menurun. Kalau dibandingkan tahun lalu, selisihnya cukup jauh,” kata Heri Minggu (18/1).
Secara umum, hasil panen durian di Wonosalam diperkirakan turun lebih dari 50 persen dari kondisi normal.
Curah hujan tinggi yang disertai angin kencang menyebabkan banyak bunga durian gugur sebelum berkembang menjadi buah.
Selain itu, hujan yang hampir turun setiap hari membuat sebagian durian jatuh sebelum matang sempurna.
“Di sini hujan hampir setiap hari, jadi banyak durian yang jatuh sebelum tua,” ujar Heri.
Berkurangnya pasokan turut berdampak pada kenaikan harga durian di tingkat petani.
Meski demikian, minat pasar terhadap durian lokal Wonosalam tetap tinggi. Durian yang dipanen masih cepat terserap oleh pembeli.
Saat ini, durian lokal Wonosalam dijual dengan harga berkisar antara Rp 25.000 hingga Rp 80.000 per kilogram, tergantung ukuran dan kualitas buah.
Kendati harga naik, pembeli tetap berdatangan karena cita rasa durian lereng Anjasmoro yang dikenal legit dengan sentuhan pahit yang kuat.
“Walaupun stok terbatas, durian tetap laris dan habis setiap hari,” pungkas Heri. (*)








