Wukuf Arafah: Di Antara Zikir dan Napas Terakhir

oleh -179 Dilihat
SAFARI WUKUF
ILUSTRASI: Petugas haji sedang merawat jemaah sakit di musim haji tahun lalu. (Foto: Kemenag)

HARI ini, 4 Juni 2025. gelombang manusia dari penjuru bumi bergerak menuju Padang Arafah. Seakan semesta menyeru anak-anak Adam untuk pulang sejenak ke pelukan langit. Di lembah suci itu, jutaan jiwa menepi. Berteduh di bawah rahmat Tuhan, menanti detik-detik wukuf pada Kamis, 5 Juni/9 Dzulhijjah 1446 H. Wukuf, saat langit terbuka dan doa-doa tak lagi bertiang.

Tak hanya yang kuat berdiri. Yang sehat berjalan. Bahkan, mereka yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit pun tak luput dari panggilan ini. Dengan kasih yang menjelma roda, mereka diangkut dalam iring-iringan ambulans dan kendaraan. Safari wukuf. Menyusuri jalan menuju Arafah, seperti daun-daun yang dipetik angin untuk sampai ke tanah perjanjian.

Arafah bukan sekadar tempat. Ia adalah jantung haji. Denyut yang menghidupkan seluruh rukun. Tanpa Arafah, haji hanyalah raga tanpa nyawa. Dan, di Arafah, jutaan hati berhimpun, berdiri di hadapan Ilahi, membawa luka, harap, dan cinta. Menjadi satu dalam wukuf. Di sinilah langit memeluk bumi, dan manusia mendekap pengampunan.

Baca juga: Dari Arafah ke Mina: Berlomba Jadi Sarjana Universitas Kehidupan

Arafah sebuah padang sunyi. Tak pernah kehilangan makna, walau tiap tahun disesaki oleh jutaan jiwa. Arafah, sepetak bumi yang menjadi saksi bisu dari tangis, harap, dan haru. Di sini manusia menggugurkan dunia dari raga. Menyisakan ruh yang menengadah dengan segala kefakiran di hadapan Sang Khalik.

Arafah melemparkan ingatanku ke lorong waktu tahun 2013. Aku tidak datang sebagai jemaah, melainkan menjadi bagian dari pelayan tamu-tamu Allah. Bergabung dalam Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, bagian dari Media Center Haji (MCH).

Meski datang sebagai petugas, Arafah tetap menggenggamku dalam dekapan spiritualnya. Di padang sunyi itu, aku bukan hanya berjalan di antara tenda-tenda jemaah. Tapi, juga berjalan dalam diriku sendiri. Dari kejauhan, Arafah seperti lautan putih. Setiap tenda menyimpan nyawa-nyawa yang berlomba menjemput ampunan. Suara zikir melantun seperti gelombang yang datang bergulung, menghapus pasir-pasir dosa yang lama mengendap.

Baca juga: Gurun, Gelap, dan Malaikat Tambal Ban

Di sanalah aku melihat manusia tidak lagi berbeda. Tak ada pangkat, tak ada gelar, hanya kain ihram dan air mata. Waktu seakan membeku. Langit menjadi lebih dekat. Allah SWT berfirman: ’’Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 199)

Aku dan semua jemaah seolah terseret arus spiritual. Yang mengalir dari langit ke bumi. Aku pun duduk dalam diam, dalam zikir dan doa. Air mata mengalir bukan karena duka, melainkan karena kehadiran-Nya yang begitu nyata. Namun, zikir tidak hanya berbisik dalam ketenangan. Kadang ia bergetar. Pecah oleh ratapan.

Seusai doa dan berzikir, aku berjalan mengunjungi tenda-tenda jemaah. Bukan hanya sebatas untuk melihat sebagai bagian tugas kepelayanan, tapi untuk menyentuh realitas lain. Di antaranya, tubuh-tubuh lemah yang berjuang antara sakit dan ajal.

Baca juga: Hajar Aswad dan Nama Ibu

Aku mengunjungi tenda kesehatan. Di sinilah, sunyi mengambil rupa yang lain. Aroma antiseptik bercampur dengan peluh dan harapan. Para dokter bekerja tanpa jeda, malaikat-malaikat tak bersayap yang mencoba menunda perpisahan. Ada jemaah yang menahan sakit, ada yang pasrah, dan ada pula yang mengembuskan napas terakhir di bawah langit Arafah.

Di situlah aku melihat kematian bukan sebagai akhir, tapi sebagai pintu gerbang. Di hadapanku terbujur jemaah yang wafat dalam ihramnya. Tidak ada kain kafan, karena ihram telah cukup menjadi pembungkus sucinya. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa meninggal dalam keadaan ihram, maka jangan ditutupi kepalanya dan jangan dipakaikan minyak wangi, karena dia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan bertalbiyah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, tubuh yang terbaring itu bukan jenazah biasa. Ia adalah bintang yang telah menyelesaikan orbitnya. Di langit Arafah, ruhnya pulang dalam damai, membawa paspor keabadian. Wukuf bukan sekadar diam di Arafah. Ia adalah diam yang paling riuh karena batin sedang berteriak, menjerit, atau mungkin merintih. Dalam sunyi itu, ada pertarungan antara harapan dan ketakutan, antara percaya dan ragu.

Baca juga: Dari Doa di Usia Senja, Sampai Tiba Undangan Langit

Aku berjalan ke luar tenda. Langit Arafah tampak lebih luas dari biasanya. Di sela doa-doa jemaah, aku mendengar suaraku sendiri. Bukan suara mulut, tapi suara jiwa. Di sanalah aku paham, bahwa menjadi petugas bukan berarti kehilangan hak untuk bertafakur. “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya.” (QS. Al-Fajr: 27-28)

Ayat itu seperti bisikan halus. Menelusup ke rongga-rongga jiwa. Di Arafah, aku menjadi kecil. Dunia tak lagi menggoda. Kekuasaan, jabatan, bahkan kata-kata tak lagi penting. Yang tersisa hanya kerinduan untuk dipeluk oleh keabadian.

Setelah matahari tergelincir dan waktu wukuf selesai, jemaah bersiap menuju Muzdalifah. Namun, Arafah tidak pernah benar-benar ditinggalkan. Ia tinggal dalam hati, menjadi monumen batin yang tak bisa digusur oleh waktu.

Aku masih ingat wajah-wajah yang tadi menangis, memeluk bumi, meminta surga. Sebagian dari mereka telah berpulang. Meninggalkan dunia dalam keadaan paling suci. Arafah menjadi taman perjumpaan, bukan hanya antara manusia dan Tuhan, tapi juga antara hidup dan mati, antara harap dan takdir.
Arafah mengajarkanku satu hal. Hidup adalah wukuf yang panjang. Kita datang dengan janji, berdiri dalam doa, dan pergi dengan takdir.

Baca juga: Panggilan Langit

Ketika bus membawa ke Arafah, ada rasa lahir kembali. Bukan karena wukuf sebagai jemaah, tapi karena telah mengalami wukuf batin. Menyaksikan harap dan kepergian, menangis tanpa alasan, dan mencintai Allah tanpa syarat.

Ah, andai saja aku bisa melaksanaan setiap sujud menjadi Arafah. Setiap doa menjadi zikir padang sunyi itu. Dan aku tahu, hidup ini akan terus berputar. Membawa kita kembali ke Arafah yang hakiki. Momen ketika kita berdiri di hadapan-Nya, telanjang dari dunia, berpakaian hanya dengan amal.

Dalam sunyi Arafah, aku bertemu diriku sendiri. Aku tahu, ia bukan siapa-siapa. Hanya seorang musafir yang sama dengan Anda. Sedang menunggu antrean pulang. (*/bersambung)

 

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini



No More Posts Available.

No more pages to load.