KabarBaik.co, Gresik – Seiring berjalannya musim kemarau, ratusan waduk dan daerah irigasi pertanian di wilayah Kabupaten Gresik mulai mengering. Kondisi ini mengganggu aktivitas pertanian warga dan mengancam produktivitas hasil panen.
Berdasarkan data Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Gresik, sejauh ini ada sebanyak 156 waduk dan 115 daerah irigasi di wilayahnya mulai mengering. Fenomena tahunan ini dikhawatirkan bakal memukul produktivitas petani di berbagai kecamatan.
Kepala Bidang SDA Dinas PUTR Gresik Ubaidillah menjelaskan, kondisi sumber air sudah habis untuk Musim Tanam (MT) 2. “Untuk MT 3 petani kelihatannya akan mengambil sisa-sisa sumber air yang ada,” ungkapnya, baru-baru ini.
Ubaidillah mengakui, kekeringan ratusa waduk ini akan berdampak kepada tanaman padi yang menjadi tanaman utama petani. Beberapa petani memanfaatkan sisa-sisa sumber air untuk mengairi tanaman hingga akhir musim tanam ketiga.
Ia menyebut, sejumlah petani berupaya mengaliri sawahnya dengan sistem pompa maupun pembuatan sumur dangkal.
Ubaidillah bilang, Pemkab Gresik sudah melakukan berbagai upaya ditengah musim kemarau yang mengakibatkan kekeringan ini. Melalui Dinas PUTR telah melakukan normalisasi atau menambah kapasitas daya tampung waduk.
Selain itu, saluran irigasi yang berfungsi menyalurkan air ke persawahan petani juga dinormalisasi. “Salurannya juga dinormalisasi supaya tampungan-tampungan air semakin besar. Itu untuk persiapan ke depan, antisipasi kekeringan,” jelasnya.
Salah satu petani Kecamatan Benjeng, Lasih, mengaku kekeringan yang melanda lahan pertaniannya sudah terjadi sejak dua minggu terakhir.
Ia melakukan berbagai cara untuk bisa mengalirkan air ke lahan tanamnya untuk mencegah gagal panen. “Kalau tidak air jagungnya tidak akan tumbuh,” pungkasnya.(*)






