KabarBaik.co, Sidoarjo – Sepinya daya beli masyarakat di Kecamatan Porong, Sidoarjo menjadi alasan Mahmudi meninggalkan pekerjaannya sebagai juru parkir di salah satu toko dan memilih pindah ke Pasar Baru Porong. Dua puluh tahun setelah semburan lumpur Lapindo, kawasan yang dulu ramai aktivitas perdagangan itu kini perlahan berubah sunyi.
Denyut nadi ekonomi perlahan mati. Dulu Mahmudi bekerja menjaga parkir di salah satu toko di Jalan Raya Porong. Saat itu kondisi Porong masih ramai, deretan toko dipenuhi pembeli dan aktivitas warga berlangsung hingga malam hari. Namun keadaan perlahan berubah setelah semburan lumpur Lapindo melumpuhkan kawasan tersebut.
Sepinya pembeli membuat banyak toko tutup satu per satu. Mahmudi pun kehilangan penghasilan karena tempatnya bekerja semakin jarang didatangi pelanggan. Demi tetap menyambung hidup, ia akhirnya memilih menjadi juru parkir di Pasar Baru Porong yang hingga kini masih ramai aktivitas warga.
“Semenjak ada lumpur Lapindo ini, Porong seperti kota tua yang mati. Banyak toko tutup karena sepi pembeli, yang masih ramai hanya di Pasar Baru Porong,” ujar Mahmudi kepada KabarBaik.co, Jumat (29/5).
Bagi Mahmudi, lumpur Lapindo bukan hanya tentang tanggul tinggi dan hamparan lumpur panas. Peristiwa itu juga mengubah kehidupan banyak warga kecil yang menggantungkan penghasilan dari ramainya perdagangan di Porong. Banyak pemilik toko memilih menjual lapaknya karena tidak mampu bertahan dengan kondisi ekonomi yang terus menurun.
Diketahui, semburan lumpur Lapindo sejak 2006 telah menenggelamkan 16 desa di tiga kecamatan. Rumah, sekolah hingga pondok pesantren hilang tertelan lumpur. Sementara bagi warga seperti Mahmudi, yang tersisa kini hanyalah upaya bertahan hidup di tengah Porong yang perlahan berubah sunyi.(*)






