KabarBaik.co – Upaya pencegahan stunting tidak hanya bergantung pada kebijakan dan program pemerintah. Di tingkat akar rumput, kehadiran kaum muda terdidik justru menjadi salah satu kunci penting. Itulah yang dilakukan Fakultas Kedokteran Universitas Surabaya (FK Ubaya) dengan menerjunkan 99 mahasiswa kedokteran untuk mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Selama hampir satu bulan, mulai 5 hingga 31 Januari 2026, para mahasiswa tingkat akhir ini akan hidup dan bekerja bersama masyarakat di lima desa, yakni Desa Ketapanrame, Tamiajeng, Duyung, Kedungudi, dan Selotapak. Mereka hadir membawa misi utama: membantu pencegahan stunting melalui pendekatan edukatif dan berbasis komunitas.
Wakil Dekan I FK Ubaya, dr. Risma Ikawaty, Ph.D., menjelaskan bahwa KKN merupakan bagian integral dari kurikulum FK Ubaya yang mengusung semangat Learning Beyond the Classroom. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya belajar dari buku dan ruang kuliah, tetapi langsung berhadapan dengan persoalan kesehatan nyata di tengah masyarakat.
“Mahasiswa tingkat akhir diberikan kesempatan untuk terjun langsung ke lapangan, mengenali permasalahan kesehatan, sekaligus belajar mencari solusi yang relevan dan aplikatif,” ujar dr. Risma, Kamis (8/1).
Menurutnya, KKN ini bukan sekadar ajang pengabdian, melainkan juga menjadi laboratorium sosial bagi mahasiswa. Di sana, mereka mengasah kemampuan klinis, komunikasi, empati, hingga kepemimpinan—soft skills yang krusial dalam membentuk dokter yang holistik dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Adapun tema yang diangkat dalam KKN kali ini adalah “Membangun Desa Sehat melalui Sinergi Mahasiswa dan Masyarakat dalam Pencegahan Stunting”. Tema tersebut sejalan dengan prioritas nasional dalam percepatan penurunan angka stunting di Indonesia.
“Harapannya, kegiatan ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat Mojokerto, sekaligus memperkuat kompetensi mahasiswa FK Ubaya dalam critical thinking, cultural competence, dan community-based problem solving,” kata dr. Risma.
Menariknya, program KKN ini juga melibatkan dua mahasiswa asing dari Fakultas Kedokteran Maastricht University dan Utrecht University, Belanda. Kehadiran mereka diharapkan memperkaya perspektif lintas budaya serta memperkuat kolaborasi internasional dalam pendidikan kedokteran berbasis masyarakat.
Rektor Universitas Surabaya, Benny Lianto, menilai KKN sebagai program strategis dalam menyiapkan calon dokter yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
“Pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah harus diaplikasikan secara kontekstual di kampus kehidupan, yaitu masyarakat. Dengan hidup dan berinteraksi langsung bersama warga, mahasiswa akan terlatih dalam keterampilan sosial dan empati,” tuturnya.
Dari sisi pemerintah daerah, Bupati Mojokerto Muhammad Al Barra menyambut baik kehadiran mahasiswa FK Ubaya di wilayahnya. Ia berharap keberadaan mahasiswa KKN dapat membantu mengedukasi masyarakat mengenai stunting yang hingga kini masih menjadi tantangan serius.
“Meskipun waktu pelaksanaannya singkat, kami berharap program-program yang dijalankan dapat berkelanjutan dan diteruskan secara mandiri oleh masyarakat setelah mahasiswa kembali ke kampus,” ujarnya.
Dengan langkah kecil namun terencana, sinergisitas antara mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa pencegahan stunting adalah tanggung jawab bersama—dimulai dari desa, untuk masa depan generasi bangsa.






