AKJJ 2026 Digelar, JAPFA Ajak Media Perkuat Edukasi Gizi Generasi Penerus Bangsa

oleh -103 Dilihat
japfa
Upaya ini dinilai penting karena persoalan malagizi pada anak masih menjadi tantangan di Indonesia.

KabarBaik.co, Surabaya – PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) kembali menggelar Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat edukasi publik mengenai pentingnya pemenuhan gizi anak di Indonesia. Memasuki penyelenggaraan ketiga, program ini sekaligus menjadi refleksi perjalanan 18 tahun JAPFA for Kids dalam mendukung tumbuh kembang anak melalui penguatan gizi dan pola hidup sehat.

Tahun ini, AKJJ 2026 mengangkat tema “18 Tahun JAPFA for Kids: Kolaborasi untuk Generasi Penerus Bangsa – Dari Data, Fakta, hingga Cerita Lapangan”. Tema tersebut menggambarkan perjalanan panjang JAPFA dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya gizi anak, sekaligus memperkuat sinergi berbagai pihak dalam membangun generasi sehat Indonesia.

Program JAPFA for Kids sendiri telah hadir di berbagai daerah, termasuk di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Di wilayah tersebut, program melibatkan lebih dari 1.100 siswa dan 150 guru dari delapan sekolah sebagai bagian dari implementasi edukasi kesehatan dan pemenuhan gizi anak.

Direktur Corporate Affairs JAPFA, Rachmat Indrajaya mengatakan, selama 18 tahun JAPFA for Kids dijalankan, perusahaan berupaya konsisten mendukung peningkatan kualitas kesehatan dan gizi anak Indonesia.

“JAPFA for Kids hadir sebagai bentuk komitmen berkelanjutan perusahaan untuk memastikan anak-anak Indonesia memperoleh asupan gizi yang baik dan tumbuh dalam lingkungan yang mendukung pola hidup sehat. Melalui AKJJ untuk ketiga kalinya ini, kami juga ingin memperkuat kolaborasi bersama media guna meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya mempersiapkan generasi penerus bangsa,” ujarnya, Selasa (19/5).

Upaya tersebut dinilai penting karena persoalan malagizi pada anak masih menjadi tantangan di Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sebanyak 11 persen anak usia 5–12 tahun masih berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut umur (IMT/U).

Sementara itu, data internal JAPFA di tujuh lokasi pelaksanaan program pada 2024 menunjukkan sekitar 10,1 persen siswa masih mengalami kondisi gizi kurang maupun gizi buruk. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pemenuhan gizi anak masih membutuhkan intervensi yang konsisten dan kolaboratif.

Hingga 2025, JAPFA for Kids telah menjangkau 201.056 siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota pada 28 provinsi di Indonesia. Program tersebut juga mencatat hasil yang cukup signifikan. Pada 2024, sebanyak 762 dari 1.479 siswa dengan kondisi gizi kurang dan gizi buruk berhasil meningkat menjadi kategori gizi baik atau sekitar 51,5 persen.

Adapun pada 2025, sebanyak 646 dari 1.034 siswa mengalami peningkatan status gizi menjadi baik atau mencapai 62,5 persen.

Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti menjelaskan, program JAPFA for Kids dijalankan melalui berbagai strategi terintegrasi, mulai dari pemberian protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan kepada siswa dengan kondisi malagizi hingga pemantauan pertumbuhan berbasis aplikasi digital.

Selain itu, program juga diperkuat melalui pembiasaan pola hidup sehat lewat Hari Sehat JAPFA, edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, serta pemantauan berkala agar dampaknya dapat diukur secara berkesinambungan.

Retno menambahkan, edukasi gizi juga menyasar kelompok remaja melalui pendampingan terkait pencegahan anemia di tingkat SMP dan SMA. Menurutnya, program pemerintah terkait pemberian tablet tambah darah (TTD) kerap belum berjalan optimal akibat kurangnya pemahaman siswa mengenai manfaatnya.

“Banyak siswa sebenarnya menerima tablet tambah darah, tetapi tidak memahami manfaatnya sehingga enggan mengonsumsi. Karena itu, edukasi menjadi sangat penting agar mereka memahami bahwa anemia dapat berdampak pada semangat belajar, kesehatan, hingga produktivitas,” katanya.

Sementara itu, pakar gizi masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Sandra Fikawati menilai edukasi gizi masih perlu diperkuat, terutama pada fase awal kehidupan anak yang menentukan tumbuh kembang fisik maupun otak.

Menurut Sandra, dua tahun pertama kehidupan merupakan masa krusial pertumbuhan. Pada periode tersebut, pertumbuhan fisik dan perkembangan otak berlangsung sangat cepat sehingga kecukupan gizi menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.

Ia menjelaskan, pertumbuhan tinggi badan memang masih berlangsung hingga usia remaja, namun perkembangan otak sebagian besar telah terbentuk sejak usia dini. Karena itu, edukasi kepada orang tua mengenai pentingnya pemenuhan protein hewani, pola makan seimbang, serta stimulasi lingkungan perlu terus diperkuat.

“Media memiliki peran strategis untuk menyampaikan edukasi yang benar dan mudah dipahami masyarakat, terutama mengenai pentingnya protein hewani, pola makan seimbang, dan kebiasaan hidup sehat sejak dini,” ujar Sandra.

Sebagai bagian dari AKJJ 2026, JAPFA juga menghadirkan dewan juri dari berbagai latar belakang profesional guna memastikan kualitas karya jurnalistik yang informatif sekaligus berdampak bagi masyarakat. Mereka di antaranya jurnalis senior sekaligus Ketua Persatuan Wartawan Indonesia, Akhmad Munir, fotografer jurnalistik senior Beawiharta, serta Sandra Fikawati.

Melalui penyelenggaraan AKJJ 2026, JAPFA berharap lahir semakin banyak karya jurnalistik yang mampu memperluas pemahaman masyarakat tentang pentingnya pemenuhan gizi seimbang serta mendorong perubahan perilaku menuju kehidupan yang lebih sehat. Kolaborasi antara dunia usaha, media, tenaga kesehatan, sekolah, dan masyarakat dinilai menjadi fondasi penting untuk menyiapkan generasi penerus bangsa yang sehat dan berkualitas.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dani
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.