Ampun! Rupiah Terus Ambruk, Terlemah Sejak Republik Indonesia Berdiri

oleh -644 Dilihat
RUPIAH

KabarBaik.co, Jakarta – Rupiah kembali mencetak sejarah kelam. Pada perdagangan Selasa (7/4) hari ini, mata uang Garuda ambruk ke level Rp 17.105 per dolar AS, rekor terlemah sejak Republik Indonesia ada, Kurs itu meroket, cukup jauh melampaui catatan pahit krisis moneter 1998.

Pelemahan tajam 70 poin atau 0,41 persen dari penutupan sebelumnya ini menandai level terendah baru yang belum pernah terjadi. Sebelumnya, titik terlemah rupiah terjadi pada 1998 di kisaran Rp 16.800 per dolar AS. Kurs referensi Bank Indonesia (Jisdor) juga memperlihatkan tekanan serupa, dengan rupiah berada di Rp 17.092 per dolar AS.

Sejumlah analis mata uang menyebut pelemahan ekstrem ini terutama dipicu kekhawatiran eskalasi perang di Timur Tengah yang kembali memicu sentimen risk-off di pasar global. Meski sentimen eksternal masih beragam, investor masih terpecah. Sebagian masih berharap ada perdamaian, sebagian lagi sudah mengantisipasi eskalasi lebih lanjut.

Kenaikan harga minyak mentah akibat ketegangan geopolitik tersebut akan semakin membebani anggaran pemerintah, terutama karena harga BBM dalam negeri tidak dinaikkan. Sejumlah kalangan pun memperkirakan defisit APBN melewati 3 persen.

Pelemahan rupiah ke level ini tidak hanya menjadi catatan hitam di pasar keuangan, tetapi juga langsung menekan kehidupan sehari-hari masyarakat, khususnya kelas menengah bawah. Kenaikan biaya impor bahan baku membuat harga kebutuhan pokok seperti gandum, kedelai, susu, dan beberapa komoditas pangan lainnya berpotensi naik dalam waktu dekat.

Para produsen dan pedagang biasanya akan meneruskan beban selisih kurs ini ke konsumen, sehingga belanja harian di pasar tradisional maupun warung semakin membengkak.

Bagi kelas menengah bawah yang menghabiskan sebagian besar pendapatannya untuk kebutuhan pokok, tekanan ini terasa sangat berat. Pendapatan yang cenderung stagnan atau naik lambat menyebabkan daya beli semakin tergerus. Banyak rumah tangga terpaksa mengurangi porsi konsumsi, beralih ke barang yang lebih murah, atau bahkan menahan belanja non-esensial.

Beberapa Ekonom menyebut situasi ini berisiko memicu cost of living crisis, di mana masyarakat kelas menengah dan bawah mulai “hold” belanja dan lebih fokus pada tabungan darurat demi bertahan.

Sementara itu, mayoritas mata uang Asia bergerak mixed. Yen Jepang menguat 0,08 persen, baht Thailand menguat 0,21 persen, yuan China menguat 0,33 persen, sementara peso Filipina melemah 0,46 persen dan won Korea Selatan justru menguat 0,77 persen. Di pasar negara maju, euro, poundsterling, dan franc Swiss juga kompak menguat terhadap dolar AS.  (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.