KabarBaik.co – Penurunan debit air yang terjadi di sejumlah sumber mata air di Kota Batu mulai memicu kekhawatiran warga. Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Batu mengambil langkah cepat dengan memerintahkan Perumdam Among Tirto memetakan ulang seluruh sumber mata air sebagai bentuk antisipasi.
Wali Kota Batu, Nurochman, menegaskan pemerintah tidak akan menunggu hingga muncul krisis sebelum bertindak. “Kami tidak ingin menunggu hingga terjadi krisis. Karena itu, Perumdam Among Tirto bersama DLH saya minta untuk melakukan pemetaan ulang seluruh mata air yang ada di Batu,” tegas Nurochman di Balaikota Among Tani, Kota Batu, Jumat (14/11).
Kota Batu yang menjadi hulu DAS Brantas dan berada di kawasan pegunungan ternyata masih memiliki titik rawan atau zona merah distribusi air. Saat debit menurun, sejumlah wilayah mengalami kekurangan air bersih. Melalui pemetaan terbaru, Pemkot Batu ingin mendapatkan gambaran menyeluruh mengenai kondisi aktual setiap sumber air.
Menurut Nurochman, sumber dengan debit kecil akan dilakukan pendalaman, sedangkan mata air yang selama ini langsung mengalir ke sungai tanpa dimanfaatkan akan dialihkan ke tandon cadangan sebagai tambahan suplai air bersih.
Selain persoalan debit air, lanjut Nurochman, jaringan distribusi juga menjadi sorotan Pemkot Batu. Banyak pipa yang masih menggunakan peninggalan lama, bahkan sebagian disebut sudah ada sejak masa kolonial. Kondisi tersebut menyebabkan suplai air menuju wilayah berketinggian tinggi tidak optimal.
Nurochman menyebut perbaikan jaringan membutuhkan biaya besar, sehingga Pemkot Batu telah menjalin komunikasi dengan pemerintah provinsi maupun kementerian terkait guna mendapatkan dukungan pendanaan.
“Investasi jaringan air baru tidak murah. Karena itu kami sudah melakukan pembahasan dengan provinsi dan kementerian agar bisa mendapat dukungan,” jelas Nurochman.
Untuk memperkuat rencana pembangunan sistem air bersih, lanjut Nurochman, Pemkot Batu juga menggandeng perguruan tinggi dan Jasa Tirta 1 untuk melakukan riset dan pemetaan ilmiah seluruh sumber air. Target pemerintah, pada 2026 peta sumber air beserta rencana pengelolaannya sudah selesai.
Menurut Nurochman, Kota Batu hingga kini belum memiliki blue print pengelolaan air bersih. Dokumen tersebut dinilai penting sebagai landasan kebijakan teknis dan arah pembangunan sektor air bersih ke depan. “Blueprint itu sudah pernah saya usulkan saat masih di DPRD, dan sekarang saya minta penyusunannya segera dilakukan,” tegasnya. (*)






