KabarBaik.co- Langit di atas lahan tebu Desa Ngampel sore itu (9/12) menghitam lebih cepat dari biasanya. Hujan turun deras, angin bertiup lembap, dan udara terasa berat. Karso, 57, dan Tari, 60, menyudahi pekerjaan mereka, mengemasi cangkul, lalu melangkah menuju pepohonan di pinggir lahan.
Petir datang tanpa aba-aba.
Dentumannya terdengar panjang, seperti kain robek di udara. Dalam sekejap, dua tubuh tergeletak di tanah. Saat warga mendekat, Karso sudah tak bergerak. Tari masih bernapas, meski tubuhnya tak sadarkan diri. Di bawah langit yang sama, nasib keduanya berpisah.
Petugas memastikan tidak ada luka kekerasan. Tidak ada tanda perlawanan. Yang tersisa hanyalah satu fakta sederhana dan ”kejam”. Petir telah memilih satu jalur.
Petir sering dianggap sebagai kekuatan alam yang liar dan acak. Padahal, secara ilmiah justru sangat teratur. Ia adalah aliran listrik bertegangan sangat tinggi. Bisa mencapai ratusan juta hingga satu miliar volt, yang mencari jalan tercepat dari awan menuju bumi. Meski energinya luar biasa besar, petir tidak menyebar ke banyak sasaran. Si petir justru “hemat jalur”.
Dari sejumlah literatur, ketika muatan listrik di awan dan bumi mencapai perbedaan ekstrem, udara yang selama ini menjadi penghalang tiba-tiba runtuh. Terbentuklah sebuah saluran plasma panas yang sangat sempit, lebarnya hanya beberapa sentimeter. Melalui saluran inilah seluruh arus petir mengalir. Siapa pun atau apa pun yang berada di jalur tersebut akan menerima hampir seluruh kekuatan sambaran.
Di lahan terbuka, tubuh manusia dapat menjadi bagian dari jalur tersebut. Apalagi saat hujan, ketika tanah basah menurunkan hambatan listrik. Berdiri dekat pohon, memegang alat kerja dari logam atau kayu, atau berada di titik yang lebih tinggi dibanding sekitarnya membuat seseorang “lebih mudah dibaca” oleh arus listrik alam.
Itulah sebabnya dalam satu sambaran, sering kali hanya satu orang yang meninggal, sementara orang di sampingnya selamat. Bukan karena petir kehabisan energi, melainkan karena energi itu telah menemukan jalurnya dan selesai bekerja.
Namun, keselamatan orang di sekitar hanyalah relatif. Listrik petir dapat merambat melalui tanah, menjalar lewat akar pohon, atau meloncat dari objek yang tersambar. Banyak korban selamat mengalami luka bakar, gangguan saraf, bahkan trauma jangka panjang tanpa pernah tersambar langsung.
Secara global, petir bukan ancaman sepele. Data internasional sejumlah pihak memperkirakan petir menyebabkan ribuan kematian dan lebih ribuan luka-luka setiap tahun di seluruh dunia. Sebagian besar korban adalah petani, nelayan, dan pekerja lapangan, Mereka yang kehidupannya menggantung pada ruang terbuka dan cuaca.
Ironisnya, banyak korban justru tersambar saat mencoba “menghindari hujan”, seperti berteduh di bawah pohon atau berhenti bekerja terlalu lama di area terbuka. Apa yang terasa aman bagi manusia sering kali justru menjadi titik paling rentan bagi petir.
Sore itu di Desa Ngampel, petir hanya menyambar sekali. Namun satu kilatan cukup untuk mengubah banyak hal. Satu keluarga kehilangan ayah. Seorang rekan kerja pulang dengan tubuh yang masih bergulat antara hidup dan mati.
Petir tidak memilih dengan amarah atau dendam. Ia hanya mengikuti hukum alam yang dingin dan pasti. Di bawah langit yang sama, dua orang berdiri berdampingan. Satu menjadi jalur terakhir, satu lagi menjadi saksi.
Dan alam, seperti biasa, tetap melangkah tanpa menoleh. (*)






