Apakah Bersiwak di Bulan Ramadan Dapat Membatalkan Puasa? Simak Berikut Ini

Reporter: Prabangasta Restu Rendra
Editor: Lilis Dewi
oleh -63 Dilihat
Ilustrasi Pixabay

KabarBaik.co- Salah satu amalan yang disukai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bersiwak (menggosok gigi) setiap waktu. Siwak atau miswak biasanya menggunakan dahan atau akar dari pohon salvadora persica untuk membersihkan gigi, gusi dan mulut.

Di zaman sekarang siwak diganti dengan sikat gigi yang diolesin pasta gigi, namun tak sedikit yang tetap memakai siwak untuk mengikuti sunnah Nabi. Muncul pertanyaan, bagaimana hukum bersiwak (menggosok gigi) ketika puasa di bulan Ramadan? Apakah hal ini dibolehkan oleh syariat?

Imam Syafi’i menganggap tidak mengapa bersiwak pada awal siang dan akhirnya. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersiwak, padahal beliau sedang puasa. (Syeikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, Juz. 1, Hal. 459). Beliau menambahkan: “Dan disunnahkan bagi orang yang berpuasa dan tidak, untuk bersiwak baik di awal siang atau di akhirnya, sama saja”.

Diriwayatkan dari Amir bin Rabi’ah radhiallahu ‘anhu:
وَيُذْكَرُ عَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَاكُ وَهُوَ صَائِمٌ مَا لَا أُحْصِي أَوْ أَعُدّ
Disebutkan dari Amir bin Rabi’ah, dia berkata: “Aku melihat Nabi SAW bersiwak, dan beliau sedang puasa, dan tidak terhitung jumlahnya.” (HR. Al-Bukhari, Bab Siwak Ar Rathbi wal Yaabis Lish Shaa-im)

Imam Ibnu Hajar berkata dalam Al-Fath:
وَأَشَارَ بِهَذِهِ التَّرْجَمَةِ إِلَى الرَّدِّ عَلَى مَنْ كَرِهَ لِلصَّائِمِ الِاسْتِيَاكَ بِالسِّوَاكِ الرَّطْبِ كَالْمَالِكِيَّةِ وَالشَّعْبِيِّ ، وَقَدْ تَقَدَّمَ قَبْلُ بِبَابِ قِيَاسِ اِبْنِ سِيرِينَ السِّوَاكَ الرَّطْبَ عَلَى الْمَاء الَّذِي يُتَمَضْمَضُ بِهِ
“Keterangan ini mengisyaratkan bantahan atas pihak yang memakruhkan bersiwak bagi orang yang berpuasa, yakni bersiwak dengan kayu basah, seperti kalangan Malikiyah dan Asy Sya’bi, dan telah dikemukakan sebelumnya tentang qiyasnya Ibnu Sirin, bahwa bersiwak dengan yang basah itu sama halnya seperti air yang dengannya kita berkumur-kumur (yakni boleh).” (Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, 4/158).

Ibnu Umar berkata: “Tidak mengapa bersiwak bagi yang berpuasa baik dengan kayu basah atau kering”. Dengan demikian tidak mengapa bahkan sunnah kita bersiwak ketika berpuasa, baik, pagi, siang, atau sore secara mutlak.

Syeikh Al-Mubarkafuri berkata:
وَبِجَمِيعِ الْأَحَادِيثِ الَّتِي رُوِيَتْ فِي مَعْنَاهُ وَفِي فَضْلِ السِّوَاكِ فَإِنَّهَا بِإِطْلَاقِهَا تَقْتَضِي إِبَاحَةَ السِّوَاكِ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَعَلَى كُلِّ حَالٍ وَهُوَ الْأَصَحُّ وَالْأَقْوَى
“Dan dengan mengumpulkan semua hadis-hadis yang diriwayatkan tentang ini dan tentang keutamaan bersiwak, bahwa keutamaannya adalah mutlak, dan kebolehannya itu pada setiap waktu, setiap keadaan, dan itu lebih shahih dan lebih kuat.” (Ibid)

Para ulama berpendapat bahwa bersiwak hukumnya sunnah muakkad. Menurut ulama Hanafiyah, Sunnah muakkad hampir semakna dengan wajib. Hanya saja tingkatannya berada sedikit di bawah fardhu yang dapat diartikan sebagai sesuatu yang ditetapkan dalil namun masih memiliki kesamaran. Sunnah ini sangat dianjurkan Rasulullah SAW kepada umat islam untuk dilaksanakan. Itu sebabnya Rasulullah menganjurkan menggunakan siwak saat bulan puasa. Sebab, selain menjadi amalan yang dilipatgandakan di bulan suci, bersiwak juga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan gigi. Inilah yang menjadikan bersiwak hukumnya sunnah Muakkad.

Perlu diingat bahwa siwak sudah digunakan sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Bahkan, dalam kitab-kitab hadis tercatat bahwa Rasulullah menganjurkan umat muslim untuk bersiwak. Seperti dalam salah satu hadis ini yang berbunyi, “Andaikan aku tidak memberatkan pada umatku, maka niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak tiap kali berwudhu,” (HR. Malik Ahmad dan An-Nasai. Hadis ini juga memperkuat bahwa bersiwak hukumnya sunnah muakkad.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News


No More Posts Available.

No more pages to load.