UNTUK kali pertama dalam sejarah, Grand Final Proliga 2026 akan menggunakan sistem best of three. Jika leg pertama dan kedua berakhir imbang 1-1, maka laga penentuan akan digelar pada hari ketiga secara berturut-turut.
Sebuah terobosan? Bisa jadi. Namun, di balik gimmick ini, ada pertanyaan besar yang menggelayut. Apakah ini demi sportivitas atau sekadar “akal-akalan” atau setting menaikkan rating?
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, siaran olahraga kerap terjebak dalam logika bisnis sempit, durasi tayang adalah segalanya, kualitas kompetisi nomor dua. Dengan sistem tiga laga beruntun, penyelenggara dan stasiun televisi secara otomatis mendapat tiga malam prime time. Tiga kali iklan. Tiga kali keuntungan bukan?
Tapi di mana letak kepentingan atlet? Fisik Pemain Bukanlah Mesin Pencetak Rating. Bayangkan: tim finalis sudah berjuang sepanjang musim reguler, melewati babak final four yang melelahkan. Lalu mereka harus bertanding tiga hari berturut-turut, tanpa jeda pemulihan yang memadai. Bola voli adalah olahraga eksplosif yang menuntut loncatan, smash, dan block berulang kali secara intens.
Dalam kondisi lelah luar biasa, risiko cedera otot dan sendi mengintai di setiap jengkal lapangan. Ketika pemain bintang jatuh sakit atau cedera karena jadwal yang tidak manusiawi, siapa yang paling dirugikan? Penonton yang kehilangan kualitas pertandingan. Ironis, jika sebuah gelar juara akhirnya ditentukan bukan oleh keunggulan teknik, melainkan oleh siapa yang paling mampu “bertahan hidup” dari kelelahan fisik.
Menjaga Integritas dari Bayang-bayang Skenario
Justru ketika skor menjadi 1-1, ujian integritas yang sesungguhnya dimulai. Di titik inilah titik paling rentan muncul. Penyelenggara tentu menginginkan leg ketiga terjadi karena itu adalah “jackpot” tayangan. Namun, integritas wasit dan penyelenggara harus benar-benar dijaga agar tidak ada ruang bagi spekulasi publik.
Kita tidak menuduh, namun menekan tombol alarm. Biarkan alam kompetisi yang berbicara. Jangan sampai muncul tekanan halus—baik dari faktor komersial maupun operasional—yang memaksa rubber match terjadi demi keuntungan sesaat. Jika sebuah tim memang lebih unggul dan mampu menyapu bersih dua laga langsung, maka dominasi itu harus dihormati. Kejujuran di atas lapangan adalah fondasi kepercayaan penonton.
Jika memang ingin menerapkan best of three, berilah jeda yang layak. Contoh idealnya leg pertama Jumat, leg kedua Minggu, dan jika diperlukan, leg ketiga pada Selasa. Jeda satu hari sangat krusial bagi pemulihan atlet agar mereka bisa kembali tampil eksplosif.
Kualitas laga yang terjaga adalah investasi jangka panjang bagi industri voli itu sendiri.
Proliga sedang bertumbuh. Penonton voli tanah air semakin cerdas; mereka datang untuk melihat kualitas teknik, bukan sekadar kuantitas laga. Mereka bisa membedakan antara pertandingan sengit yang murni dan pertandingan yang terasa “dipaksakan” demi durasi siar.
Kita menyambut baik keberanian menghadirkan sistem best of three di Grand Final Proliga 2026. Ini bisa menjadi batu loncatan menuju profesionalisme yang lebih tinggi. Namun, sistem ini hanya akan dianggap sukses jika dan hanya jika kompetisi dijaga kemurniannya.
Jangan sampai karena nafsu rating, para pemain menjadi korbannya. Jangan sampai karena target tayang, sportivitas diletakkan di bangku cadangan. Biarkan juara ditentukan oleh keringat, bakat, dan strategi—bukan oleh hitungan untung-rugi iklan atau tiket pertandingan.
Publik tentu berharap kepada penyelenggara, jangan rusak kepercayaan yang sedang kalian bangun. Penonton setia Proliga pantas mendapatkan laga yang jujur. Dan prestasi yang abadi tidak pernah lahir dari paksaan, apalagi rekayasa bukan? (*)








