Boimin; Anak Petani Desa, Pengalaman Alami Gizi Buruk, Doktor Cumlaude dari Universitas Top Amerika

oleh -215 Dilihat
BOIMIN LA
Boimin PhD saat di depan kampusanya di Amerika Serikat.

“ITU bidangku banget pak,” kata Boimin memulai obrolan melalui WhatsApp, pekan lalu.

Ketika itu, saya dan Boimin memang sedang memperbincangkan satu topik yang sedang hangat-hangatnya: Makan Bergizi Gratis (MBG). Program prestisius yang dilaunching Presiden Prabowo Subianto.

Boimin mengaku punya banyak gagasan tentang MBG itu. Mulai tahap perencanaan hingga evaluasinya. Dari menu yang disajikan, hingga mnu penggantinya. Yang memiliki kadar gizi sama. Ia mengaku semua sangat dipahaminya. Sampai detail-detailnya.

Relasi saya dengan Boimin memang baru terbangun lagi. Melalui grup WhatsApp (WAG) SMAN 2 Ngawi. Tiba-tiba saja, dia mengomentari pernyataan saya tentang sebuah peristiwa.

Sejak itu, saya terus kontak-kontakan. Betapa bersemangatnya dia ketika bicara MBG, pertanian hingga ketahanan pangan.

Ia bicara sangat fokus. Runtut. Kadang ada bumbu-bumbu teorinya. Kadang terlalu spesifik. Maklum saja, Boimin pernah sangat lama mengabdi sebagai staf pengajar. Di Universitas Brawijaya (UB) Malang. Tempat dia mendapatkan gelar S-1.

Di luar itu, latar belakang pendidikan Boimin sangat mendukung. Bahkan, saat menempuh pendidikan doktor di University Massachusetts Amherst, Amerika Serikat, Boimin lulus cumlaude. Yang dipelajari pun soal pangan. Kontekstual dengan gagasan Presiden Prabowo.

Saya sempat intip akun medsosnya. Pernah juga dia presentasi soal keilmuannya. Acara itu juga dihadiri Bill dan Melinda Gates, Bos Microsoft yang gemar berderma dalam ilmu pengetahuan. Boimin terlihat percaya diri mengenakan blazer dengan rambut gondrong.

***

Semangat Boimin membicarakan MBG tak lepas dari masa lalunya. Ia hidup dalam impitan kemiskinan yang teramat sangat. Ia anak buruh tani. Untuk mencukupi kehidupannya dan membiayai pendidikan Boimin, ibunya berdagang ayam kampung.

Dalam berbagai opini yang dibuatnya dan dimuat di beragam media. Ia menggunakan kalimat menyentuh untuk menyebut pengalaman hidupnya: Penyintas gizi buruk. Karenanya program MBG Prabowo membuat semangat hidupnya seperti dibangkitkan.

“Harus ada sayur yang berwarna-warni, telur dan susu,” kata Boimin bersemangat.

Dia mengatakan sumber daya lokal sangat mencukupi memenuhi kebutuhan gizi. Sayurnya dibeli dari petani sekitar sekolah. Telurnya dibeli dari peternak desa setempat. Ia yakin MBG punya efek domino membangkitkan ekonomi lokal.

“Coba yang memasak MBG itu diserahkan RT dan RW. Pasti sangat mengutamakan gizi siswa. Toh, yang sekolah juga anak anak warga setempat,” katanya bersemangat.

“Apalagi kalau narasinya demi generasi emas 2045. Mereka harus dikompori begitu. Kolaborasinya harus terasa. Semoga evaluasinya begitu dan tak lama lagi,” jelasnya.

Boimin kini menjadi direktur eksekutif di Banana Institute. Ini sebuah NGO yang menyediakan kajian dan riset kebijakan pangan, makanan sehat. Ia berjanji akan banyak menyumbangkan pikiran bagi pemerintah agar program-program pangan sukses. Agar anak-anak pelosok desa tidak lagi kekurangan gizi. Agar mereka bisa fokus belajar  karena perutnya kenyang.

Pengalaman hidup dengan gizi buruk begitu membekas. Tiga kakaknya sudah lebih dulu meninggal saat masih kecil. Pun juga dengan adik perempuannya. Penyebabnya sama : kurang gizi. Boimin pun jadi anak semata wayang.

Pengalaman hidup tak enak itulah yang melatarbelakanginya mati-matian belajar ilmu pangan dan gizi. Boimin pun harus melanjutkan hidup. Sambil merawat ibu yang disayanginya di masa tua.

Kisah hidup Boimin pernah viral. Sekitar 2017 lalu. Dia diliput banyak media ketika dia berkuliah di negeri Paman Sam. Videonya juga banyak diunggah di YouTube.

Satu kali, saya mengikuti pertemuan wali murid bersama istri. Yang dibahas soal parenting. Di tengah pertemuan, tiba-tiba panitia memutar video. Bertema keteguhan seorang ibu dalam membimbing anak di tengah kehidupan yang serba terbatas.

Betapa terkaget-kagetnya saya karena tokoh di video itu Boimin. Teman SMA saya dulu. Video itu tak lama. Tapi, membuat siapa saja tersentuh.

Boimin adalah sosok yang ditempa dari keteguhan seorang ibu. Orang tua yang terus menyemangati anak semata wayangnya untuk terus belajar. Meraih pendidikan setinggi-tingginya.

Latar belakang video dengan rumah kayu sangat menggambarkan kehidupan Boimin. Dia dibesarkan di pelosok desa di Paron, Ngawi. Ini adalah sebuah kecamatan di selatan Ngawi dengan jalan beraspal yang kecil dengan kanan kiri sawah.

Di ujung video, tak terasa air mata saya menetes. Haru. Tapi bangga. Bangga. Tapi haru.  (*)

Penulis: Anggit Satriyo Nugroho

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini



No More Posts Available.

No more pages to load.