KabarBaik.co – Pertandingan Liga 2 antara Deltras Sidoarjo dan Persibo Bojonegoro di Stadion Gelora Delta, Sabtu (10/1), diwarnai kericuhan yang melibatkan pemain, wasit, dan suporter. Laga yang berlangsung sengit itu berakhir dengan skor imbang 1-1 setelah gol Persibo di menit 90+7 memicu protes keras.
Deltras sempat unggul lebih dulu di babak pertama lewat gol Emerson Carioca. Gol tersebut memberikan harapan besar bagi tim tuan rumah untuk melangkah ke babak delapan besar Liga 2 musim 2024/2025. Sepanjang pertandingan, Persibo terlihat kesulitan menembus pertahanan Deltras yang bermain disiplin.
Namun, di penghujung babak kedua, situasi berubah drastis. Wasit mengesahkan gol Persibo yang dianggap kontroversial oleh pemain dan pendukung Deltras. Pemain tuan rumah langsung mengejar wasit untuk memprotes keputusan tersebut, merasa gol tersebut seharusnya dianulir karena dugaan pelanggaran dalam proses terjadinya gol.
Situasi semakin memanas ketika sejumlah suporter Deltras turun ke lapangan untuk menyuarakan ketidakpuasan mereka. Mereka berusaha mendekati wasit dengan emosi yang tidak terkendali, bahkan beberapa dari mereka mencoba melakukan intimidasi fisik. Keadaan di stadion pun menjadi kacau.
Tak hanya wasit, pemain Persibo seperti Osas Saha, Feri Pahabol, dan Enzo turut menjadi sasaran kemarahan suporter. Beberapa dari mereka dilaporkan mengalami tindakan kekerasan, termasuk pukulan, tendangan, dan lemparan botol. Insiden ini membuat suasana pertandingan benar-benar tidak kondusif.
Kericuhan akhirnya berhasil diredam setelah aparat keamanan turun tangan. Polisi dan petugas keamanan stadion bergerak cepat untuk mengamankan wasit dan para pemain dari serangan suporter. Namun, insiden ini telah mencoreng jalannya pertandingan dan menjadi perhatian luas di kalangan pecinta sepak bola nasional.
Hasil imbang ini sekaligus memastikan Deltras gagal melangkah ke babak delapan besar Liga 2. Kekesalan pendukung Deltras semakin memuncak karena hasil tersebut memupus harapan mereka untuk melihat tim kebanggaannya bersaing di tingkat yang lebih tinggi. (*)






