KabarBaik.co, Bojonegoro – Memasuki Bulan Suro atau bertepatan dengan 1 Muharam 1447 Hijriah, ratusan warga Bojonegoro mengikuti prosesi ruwatan massal yang digelar Pemkab Bojonegoro di kawasan Wisata Kayangan Api, Desa Sendangharjo, Ngasem, Selasa (16/6).
Kegiatan yang menjadi agenda rutin tahunan Pemkab Bojonegoro tersebut berlangsung khidmat dan sarat makna budaya. Para peserta tampak mengenakan pakaian serba putih sebagai simbol kesucian jiwa dan niat untuk membersihkan diri dari berbagai hal negatif.
Ruwatan massal merupakan tradisi dalam budaya Jawa yang bertujuan sebagai sarana penyucian diri. Tradisi ini diyakini dapat membebaskan seseorang dari kesialan, energi negatif, maupun berbagai hal yang dianggap dapat membawa mara bahaya dalam kehidupan.
Bupati Bojonegoro Setyo Wahono turut hadir dalam kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya menjaga dan mewariskan budaya kepada generasi penerus sebagai bagian dari identitas bangsa.
“Budaya adalah warisan yang sangat berharga. Kita harus terus uri-uri budaya agar tetap lestari dan bisa dinikmati oleh generasi mendatang,” ujar Wahono.
Menurut Wahono, budaya Indonesia, termasuk tradisi Jawa yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat Bojonegoro, merupakan kekayaan yang harus dijaga bersama agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.
“Sebagai warisan budaya, sudah sepatutnya kita menjaga, melestarikan, dan mengenalkannya kepada generasi muda agar tidak tergerus perkembangan zaman,” tambahnya.
Selain prosesi ruwatan, rangkaian acara juga dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit yang menjadi puncak kegiatan. Dalang Ki Wito Widyo Carito membawakan lakon Murwakala, sebuah kisah yang secara tradisional erat kaitannya dengan ritual ruwatan dalam budaya Jawa.
Melalui penyelenggaraan ruwatan massal ini, Pemkab Bojonegoro berharap tradisi dan nilai-nilai luhur budaya Jawa tetap terjaga serta dapat terus diwariskan kepada generasi muda di tengah arus modernisasi yang semakin pesat. (*)






