DUNIA yang bergerak semakin cepat sering membuat manusia kehilangan kesempatan untuk berhenti sejenak, melihat lebih dalam, dan memahami kembali makna dari perjalanan hidupnya.
Di tengah arus zaman yang serba tergesa itulah karya-karya Nasirun hadir dengan cara yang berbeda. Ia tidak sekadar menghadirkan lukisan, tetapi mengajak siapa pun yang berdiri di depan kanvasnya untuk mengambil jeda, membaca simbol, dan merenungkan kembali hubungan manusia dengan budaya, alam, serta nilai-nilai kehidupan.
Pada 1 Agustus 2026, maestro seni rupa Indonesia itu berpulang. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi dunia seni, budaya, dan banyak orang yang pernah bersentuhan dengan karya maupun kepribadiannya.
Namun Nasirun tidak hanya meninggalkan ribuan lukisan. Ia meninggalkan cara pandang bahwa seni bukan sekadar benda yang dipajang, melainkan ruang perjumpaan manusia dengan ingatan, pengalaman, dan pencarian makna.
Karena itu, menyebut Nasirun hanya sebagai seorang pelukis terasa belum cukup. Ia adalah seorang perupa yang menggunakan kanvas sebagai bahasa untuk berbicara tentang manusia, tentang kebudayaan, dan tentang perjalanan batin yang tidak pernah selesai.
Lukisan yang Mengajak Orang Berhenti
Ada pengalaman khas ketika seseorang berdiri di depan karya-karya Nasirun. Pada pandangan pertama, mata mungkin tertarik pada warna-warna yang kuat, bentuk-bentuk yang ramai, atau figur-figur yang mengingatkan pada dunia wayang dan simbol-simbol Jawa.
Namun ketika diamati lebih lama, lukisan itu mulai membuka lapisan cerita yang lebih dalam: tentang manusia, tentang kehidupan, tentang kegelisahan, dan tentang harapan.
Karya Nasirun tidak selesai hanya dengan sekali melihat. Setiap detail seolah menyimpan percakapan yang mengundang penonton untuk terus mencari makna. Ia tidak memaksa orang memahami lukisannya dengan satu tafsir tertentu, melainkan memberikan ruang agar setiap orang dapat menemukan pengalaman dan perenungannya sendiri.
Di situlah kekuatan Nasirun. Ia membuat orang yang terbiasa bergerak cepat berhenti sejenak, lalu menyadari bahwa ada hal-hal dalam hidup yang hanya dapat dipahami ketika manusia bersedia memperlambat langkah.
Wayang Bukan Sekadar Wayang
Selama bertahun-tahun, Nasirun dikenal sebagai pelukis yang banyak menghadirkan dunia wayang dalam karya-karyanya. Namun menyebutnya hanya sebagai pelukis wayang tentu tidak cukup untuk menjelaskan kedalaman pemikirannya.
Bagi Nasirun, wayang bukan sekadar objek visual, melainkan bahasa untuk membicarakan kehidupan. Melalui tokoh-tokoh wayang, manusia imajiner, simbol Jawa, kaligrafi, serta berbagai bentuk yang lahir dari imajinasinya, ia menyampaikan kegelisahan tentang kekuasaan, keserakahan, cinta, ketakutan, kematian, harapan, dan pencarian manusia terhadap makna hidup.
Ia tidak sedang sekadar menggambar masa lalu. Ia sedang berbicara tentang manusia hari ini.
Itulah sebabnya karya-karyanya dapat diterima oleh banyak kalangan, termasuk di luar Indonesia. Mereka mungkin tidak selalu memahami seluruh simbol budaya Jawa yang digunakan Nasirun, tetapi dapat merasakan pesan universal yang terkandung di dalamnya: bahwa manusia di mana pun memiliki pertanyaan dan pergulatan yang sama.
Melukis sebagai Laku Batin
Bagi sebagian orang, melukis adalah pekerjaan. Namun bagi Nasirun, melukis lebih dekat dengan sebuah perjalanan batin. Proses kreatif bukan hanya tentang menghasilkan karya, tetapi juga tentang membangun hubungan antara manusia, kebudayaan, dan nilai spiritual yang diyakininya.
Karena itu, karya-karya Nasirun selalu memiliki banyak lapisan. Di balik warna yang tampak ramai, terdapat ketenangan. Di balik bentuk yang kompleks, terdapat ruang untuk merenung. Di balik simbol-simbol yang beragam, terdapat pencarian tentang makna kehidupan.
Nasirun menunjukkan bahwa seni tidak hanya berbicara tentang keindahan, tetapi juga tentang kedalaman. Sebuah karya tidak hanya dilihat dengan mata, tetapi juga dirasakan melalui pengalaman dan perenungan.
Menyimpan Indonesia dalam Kanvas
Nasirun lahir di Cilacap pada 1 Oktober 1965 dan kemudian berkembang sebagai salah satu tokoh penting seni rupa kontemporer Indonesia di Yogyakarta. Dari lingkungan budaya Jawa yang membentuk dirinya, ia menemukan bahasa visual yang kemudian menjadi ciri khasnya.
Namun Nasirun tidak pernah memperlakukan tradisi sebagai sesuatu yang beku dan hanya pantas dikenang. Ia justru menghidupkannya kembali melalui karya-karyanya. Wayang, simbol budaya, tradisi spiritual, dan ingatan masyarakat Jawa tidak ia tempatkan sebagai ornamen semata, tetapi sebagai cara untuk memahami perubahan zaman.
Dalam karya Nasirun, budaya bukan sekadar warisan masa lalu. Budaya adalah ruang hidup yang terus bergerak dan menjadi jalan untuk memahami manusia.
Karena itu, ia tidak hanya dikenal sebagai pelukis yang berakar pada budaya Jawa, tetapi juga sebagai seniman yang mampu membawa nilai lokal berbicara dalam bahasa universal.
Nasirun, Gus Dur, dan Kebudayaan sebagai Jalan Kemanusiaan
Ada satu benang merah penting dalam perjalanan hidup Nasirun, yakni penghormatannya terhadap tokoh-tokoh yang memandang kebudayaan sebagai jalan untuk merawat kemanusiaan. Salah satu tokoh yang ia kagumi adalah KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
Nasirun melihat Gus Dur sebagai sosok yang mampu mendobrak cara berpikir yang kaku, menghargai keberagaman, dan menunjukkan bahwa agama, budaya, serta seni tidak harus dipertentangkan. Bagi Nasirun, kebudayaan bukan sekadar persoalan estetika, tetapi bagian dari cara manusia membangun kehidupan yang lebih beradab.
Kedekatan Nasirun dengan keluarga Gus Dur juga terdokumentasi. Inayah Wahid, putri Gus Dur, pernah mengenang bahwa Nasirun beberapa kali membantu keluarga mereka dalam kegiatan haul Gus Dur dan melukis dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Hubungan itu bukan sekadar hubungan antara seorang seniman dan keluarga seorang tokoh bangsa. Ia adalah persahabatan yang tumbuh dari kesamaan nilai: penghormatan terhadap budaya, kemanusiaan, dan keberagaman.
Maestro yang Tetap Hangat sebagai Sahabat
Di balik nama besar dan pengakuan dunia seni, Nasirun dikenal sebagai pribadi yang hangat dan menjaga hubungan baik dengan banyak orang. Hal itu tergambar dari kenangan Prof. Mahfud MD ketika menyampaikan duka atas wafatnya sang perupa.
Mahfud mengenang Nasirun bukan hanya sebagai seorang maestro seni rupa, tetapi sebagai sahabat baik. Dalam ungkapannya, ia menulis:
“Inna lillah wa inna ilaihi raji’un. Sahabat baik saya, perupa Nasirun, wafat hari ini tanggal 1-8-2026. Saya ultah, 13/7/2026 almarhum menghadiahkan lukisannya kepada saya. Selamat jalan, Sahabat Nasirun. Semoga Anda masuk ke surga-Nya sebagai balasan atas amal baikmu.”
Kenangan itu tampak sederhana, tetapi justru memperlihatkan sisi manusiawi Nasirun. Sebuah lukisan yang diberikan sebagai hadiah ulang tahun bukan hanya sebuah benda seni, melainkan ungkapan perhatian dan persahabatan dari seorang seniman kepada orang yang ia hargai.
Nasirun tidak hanya meninggalkan karya untuk galeri dan kolektor. Ia juga meninggalkan kenangan bagi orang-orang yang pernah hadir dalam perjalanan hidupnya.
Pergi, Ceritanya Tetap Hidup
Kepergian Nasirun meninggalkan ruang kosong dalam seni rupa Indonesia. Namun seorang seniman tidak benar-benar hilang selama karya, gagasan, dan nilai yang diperjuangkannya masih terus hidup.
Nasirun akan tetap hadir melalui kanvas-kanvas yang ia tinggalkan, melalui tokoh-tokoh yang ia ciptakan, melalui simbol-simbol yang ia wariskan, dan melalui setiap orang yang suatu hari berdiri di depan lukisannya lalu merasa ingin melihat lebih lama.
Pada akhirnya, Nasirun tidak hanya mengajarkan bagaimana membuat lukisan. Ia mengajarkan bagaimana melihat: melihat budaya, melihat manusia, dan melihat kembali diri sendiri.
Di tengah dunia yang semakin cepat, warisan terbesarnya mungkin adalah sebuah ajakan sederhana yang akan terus bergema: Berhenti, melihat, dan merenung. Sugeng tindak, Kang Nasirun. (*)






