KabarBaik.co, Batu – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu terus mengintensifkan upaya deteksi dini kanker payudara melalui program Sadari (Periksa Payudara Sendiri) dan Sadanis (Periksa Payudara Klinis). Langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat penemuan kasus serta meningkatkan peluang kesembuhan pasien.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Batu, dr. Icang Sarrazin, mengatakan deteksi dini menjadi kunci utama dalam menekan risiko kematian akibat kanker payudara. Pasalnya, penyakit ini tidak menular dan keberhasilan pengobatan sangat bergantung pada seberapa cepat penderita mendapatkan penanganan medis.
“Untuk mempercepat temuan kasus di akar rumput, gerakan advokasi massal seperti metode Sadari dan Sadanis kini terus digenjot demi mendongkrak angka kesembuhan pasien,” ujarnya, Sabtu (20/6).
Berdasarkan data Dinkes Kota Batu hingga Juni 2026, terdapat 73 pasien yang dinyatakan positif mengidap kanker payudara. Jumlah tersebut menunjukkan penurunan tipis dibandingkan tahun 2025 yang mencatat 75 kasus. Pada periode tahun lalu, dua pasien dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit tersebut.
Meski terjadi penurunan angka kasus, Dinkes menilai kanker payudara masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, khususnya perempuan. Tingginya temuan kasus baru disebut masih dipengaruhi rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengenali gejala awal penyakit.
Menurut Icang, kanker payudara pada tahap awal umumnya tidak menimbulkan rasa nyeri sehingga sering kali tidak disadari penderitanya. Gejala yang paling umum adalah munculnya benjolan di payudara atau ketiak yang terasa keras, permukaannya tidak rata, dan biasanya tidak menimbulkan rasa sakit.
Selain itu, perubahan pada area puting juga perlu diwaspadai. Tanda-tandanya antara lain puting yang tertarik ke dalam atau keluarnya cairan abnormal berwarna merah darah maupun kuning kehijauan tanpa adanya tekanan.
“Gejala yang paling umum munculnya benjolan pada payudara atau ketiak. Biasanya benjolan ini terasa keras, permukaannya tidak rata, dan tidak nyeri,” jelasnya.
Ia menambahkan apabila kanker payudara telah memasuki stadium lanjut, gejala yang muncul akan semakin berat. Benjolan dapat membesar dan disertai rasa nyeri yang intens. Kondisi tersebut juga dapat memicu pembengkakan kelenjar getah bening di ketiak, luka terbuka pada payudara yang sulit sembuh, penurunan berat badan drastis, kelelahan kronis, nyeri tulang hingga sesak napas.
Secara medis, kanker payudara dipicu oleh mutasi genetik yang menyebabkan pertumbuhan sel tidak terkendali. Meski mayoritas menyerang perempuan, Icang mengungkapkan bahwa penyakit ini juga dapat terjadi pada laki-laki meskipun jumlah kasusnya relatif kecil.
“Kasus kanker payudara dilaporkan juga berpotensi menyerang kelompok pria,” ungkapnya.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk rutin melakukan pemeriksaan mandiri dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila menemukan gejala mencurigakan. Dinkes berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini terus meningkat sehingga kasus kanker payudara dapat ditemukan lebih cepat dan ditangani sebelum berkembang ke stadium lanjut. (*)






