KabarBaik.co – Bagi Ratih Kusuma Dewi, menjadi pengusaha bukan sekadar soal keuntungan, tetapi tentang menemukan makna hidup dan keseimbangan. Ibu Inspiratif kelahiran 19 September 1988 yang juga lulusan Psikologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo ini awalnya tak pernah membayangkan dirinya akan menjadi pemilik usaha olahan nanas terkenal asal Kediri, Pie Nanas CandaRia.
“Aku dulu sama kayak anak gen Z pada umumnya, ambisius, pengen kerja di bidang yang aku pelajari. Pengen jadi psikolog juga,” kenangnya sambil tersenyum. Namun hidup membawa arah berbeda. Saat masih menyusun skripsi, Ratih menikah muda di usia 21 tahun. Ia dan suami sepakat menunda punya anak demi fokus membangun karier. Tak lama, suaminya dipindahtugaskan ke daerah yang kini ia tinggali yakni Kabupaten Kediri.
“Awalnya berat juga, soalnya aku sempet kepikiran jadi wanita karier pada umumnya. Tapi orang tuaku bilang, kadang kalau kita ngalah sedikit, dapatnya banyak. Akhirnya aku ikut suami dan mulai kerja di sini,” ujar Ratih, Sabtu (11/10).
Ratih sempat bekerja sebagai HRD Supervisor di salah satu mal ternama di Kediri selama dua tahun. Ia mengaku, di sanalah ilmunya di bidang psikologi benar-benar terpakai.
“Aku ngurus SDM, sampai pernah juga ikut sidang tenaga kerja di Surabaya. Jadi tahu gimana rasanya di dunia kerja yang ilmunya sesuai jurusanku,” kata Ratih.
Namun jiwa entrepreneur Ratih tak bisa diam. Ia mulai mencoba berbagai usaha, mulai dari jualan gamis, tas, hingga perlengkapan wanita. Tapi dari semua perjalanan itu, ada satu kesimpulan yang ia temukan, bisnis yang paling besar adalah bisnis yang melibatkan banyak orang.
“Dulu jualan gamis kan cuma ambil dari distributor. Tapi waktu aku mulai produksi sendiri, punya pegawai, ternyata berkahnya justru di situ. Kita bukan cuma cari untung, tapi juga buka jalur rezeki buat orang lain,” tuturnya.
Titik balik datang saat pandemi 2020-2021 melanda. Bisnis gamisnya anjlok, tapi dari keterpurukan itu muncul ide baru. Ia melihat potensi besar dari buah nanas Gunung Kelud yang melimpah di sekitar Kediri. Berbekal resep keluarga, Ratih mulai membuat pie nanas dari dapur rumah.
“Dulu itu cuma oven kecil, modalnya juga kecil banget. Tapi aku jalanin pelan-pelan. Dari satu oven, bisa beli dua, sampai sekarang punya 20 karyawan. Semua dari nol, tanpa investor,” ungkapnya dengan mata berbinar.
Kini Pie Nanas Candaria berkembang menjadi salah satu UMKM unggulan di Kediri, dengan beragam produk turunan seperti strudel, sirup, dan sari nanas. Ratih juga aktif membina pelaku UMKM lain sebagai Ketua Kediri Young Entrepreneur yang membantu UMKM lain dari proses pembuatan hingga penjualan produk.
“Menurutku, bisnis oleh-oleh itu berkahnya banyak. Gak cuma buat aku, tapi buat petani, karyawan, dan UMKM lain juga. Jadi ini semacam ekosistem rezeki,” jelasnya.
Meski sudah menjajaki pelatihan ekspor bersama Bank Indonesia dan sempat dilirik buyer dari Malaysia, Ratih memilih fokus memperkuat pasar lokal dulu.
“Alhamdulillah lokalnya aja udah ramai banget. Aku pingin nikmatin prosesnya dulu, pelan tapi pasti,” katanya.
Bagi Ratih, kesuksesan bukan tentang seberapa cepat berkembang, melainkan bagaimana ia bisa menyeimbangkan peran sebagai ibu, istri, dan pengusaha.
“Kalau cowok mungkin bisa gaspol karier. Tapi buatku, sukses itu harus seimbang. Bisnis jalan, tapi keluarga juga tetap jadi prioritas,” ujarnya mantap.
Dari lulusan psikologi yang dulu ingin jadi profesional, kini Ratih menemukan jati dirinya di dunia usaha. Ia membuktikan bahwa dengan niat tulus, kerja keras, dan empati, bahkan sepotong pie nanas bisa membawa cerita besar, tentang perempuan, keluarga, dan keberkahan. (*)






