KabarBaik.co, Gresik – Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menegaskan bahwa Corporate Social Responsibility (CSR) bukan sekadar kegiatan charity atau amal/belas kasih, melainkan kewajiban dunia usaha yang harus memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Penegasan itu disampaikan Yani saat membuka kegiatan Advokasi dan Sosialisasi CSR SIGAP (Sosial Industri Gerakan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) di Kantor Bupati Gresik, baru-baru ini.
“CSR itu bukan charity. CSR adalah tanggung jawab sosial yang diatur oleh undang-undang. Perspektif ini harus disamakan,” ujar Bupati Yani.
Ia menekankan, pembangunan daerah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Sebagai kawasan dengan basis industri yang kuat, Gresik membutuhkan dukungan aktif dari dunia usaha agar program pembangunan berjalan optimal.
“Pemerintah tidak mungkin berjalan sendiri. Harus ada dukungan dari industri. Program CSR juga harus selaras dengan program pemerintah, baik pusat maupun daerah,” kata dia.
Yani mendorong agar pelaksanaan CSR difokuskan pada isu-isu strategis yang berdampak langsung bagi masyarakat, seperti pengelolaan sampah terutama limbah plastik serta perlindungan perempuan dan anak.
Menurut dia, berbagai persoalan sosial masih menjadi tantangan di lapangan, mulai dari kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), anak putus sekolah, hingga persoalan yang dihadapi keluarga pekerja migran.
“Ada korban KDRT, anak tidak sekolah, hingga anak pekerja migran yang berisiko tidak memiliki identitas jelas. Ini butuh perhatian bersama,” ujarnya.
Terkait mekanisme pelaksanaan CSR, Yani menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak menerima bantuan dalam bentuk uang tunai maupun transfer ke kas daerah. Kontribusi dunia usaha harus diwujudkan dalam bentuk program nyata yang bisa langsung dirasakan masyarakat.
“Yang dibutuhkan adalah programnya. Bisa kolaborasi, berbagi peran, dan pengawasannya dilakukan bersama,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas KBPPPA Kabupaten Gresik Titik Ernawati mengatakan, kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman dunia usaha terhadap isu perlindungan perempuan dan anak, sekaligus mendorong CSR yang responsif gender dan ramah anak.
“Kegiatan ini juga menjadi ruang membangun komitmen dan sinergi lintas sektor agar upaya perlindungan berjalan berkelanjutan,” kata Titik.
Kegiatan tersebut diikuti 35 peserta yang terdiri dari unsur dunia usaha, perangkat daerah, lembaga masyarakat, forum anak, serta mitra terkait lainnya.
Melalui forum ini, diharapkan dunia usaha tidak hanya terlibat secara simbolis, tetapi juga berperan aktif dan terukur dalam pelaksanaan CSR SIGAP.
Di akhir arahannya, Yani menegaskan pentingnya kolaborasi dalam menciptakan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
“Tidak ada industri yang bisa tumbuh di daerah yang gagal. Gresik ini kondusif, masyarakatnya mendukung. Maka industri juga harus hadir memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.(*)






