Dari Driyorejo ke Panggung Dunia: Surabaya Samator Menyuntikkan Oksigen Prestasi bagi Ibu Pertiwi

oleh -119 Dilihat
SAMATOR GAS

KabarBaik.co, Gresik- Di sebuah sudut kawasan Driyorejo, Kabupaten Gresik, bunyi debum bola yang menghantam lantai kayu terdengar seirama dengan deru mesin pabrik gas di kejauhan. Di sini, di markas besar Surabaya Samator, bola voli bukan sekadar olahraga yang dimainkan selama tiga set. Namun, seperti napas, pengabdian, dan warisan yang terus dijaga hingga sekarang dengan disiplin baja meski sang pionir telah tiada.

Ketika banyak klub di kancah Proliga datang dan pergi seiring pasang surutnya kondisi finansial sponsor, Surabaya Samator masih berdiri tegak bak karang. Musim 2026 ini kembali menjadi bukti otentik bahwa di bawah arahan tangan dingin pelatih berpengalaman asal Kuba, Rodolfo Luis Sanchez, skuad “Si Biru” tetap menjadi momok yang disegani, meski kini mereka banyak mengandalkan talenta-talenta muda hasil binaan mandiri.

Konsistensi tersebut tidak lahir dari ruang hampa. Tapi, berakar dari visi seorang sosok kelahiran Toli-Toli, yakni mendiang Arief Harsono. Bagi sang “Raja Gas Indonesia” itu membangun tim voli adalah satu bentuk filantropi yang paling murni. Dia tidak pernah setengah-setengah dalam menaruh atensi pada cabang olahraga ini. Sejak Proliga kali pertama digulirkan pada 2002, Samator adalah satu-satunya tim putra yang tercatat tidak pernah absen barang satu musim pun.

Jauh sebelum voli profesional Indonesia seriuh sekarang, Arief sudah memimpikan anak-anak asuhannya mampu menembus panggung dunia. Sebagaimana dikutip dari laman Antara pada tahun 2016 silam, dia menegaskan ambisinya yang melampaui batas nasional saat menjalin kerja sama strategis dengan Polri.

”Surabaya Samator sudah mempunyai sejarah panjang pada bola voli nasional. Kami juga sudah lima kali menjuarai kompetisi tertinggi di Tanah Air. Kami juga sudah berperan pada kejuaraan-kejuaraan internasional. Dengan adanya kerja sama ini kami siap go internasional,” ujarnya kala itu.

Pernyataan tersebut bukan isapan jempol. Terbukti Samator rutin mengirimkan skuadnya mewakili Indonesia di ajang kejuaraan antar-klub Asia.

Di balik mimpi besar tersebut, ada filosofi dasar yang ditanamkan sebagai fondasi pembinaan. Bahwa, lapangan voli adalah laboratorium karakter. Nilai-nilai dalam voli adalah miniatur dari kerja keras di dunia industri. Dalam dokumentasi budaya perusahaan “The Samator Way”, ia pernah menekankan pentingnya kolektivitas di atas kepuasan pribadi.

“Di voli, tidak ada pemain yang bisa menang sendirian. Ini adalah olahraga tim paling murni. Jika satu orang egois, tim akan runtuh,” tutur Arief semasa hidupnya.

Karakter kedisiplinan dan kerja sama tanpa ego itulah yang kemudian menular sebagai budaya kerja bagi karyawannya di Samator Group. Bagi mereka, atlet yang sukses di lapangan adalah calon pemimpin yang tangguh di dalam perusahaan.

Kekuatan utama Samator terletak pada sistem “akar rumput” yang sangat terstruktur di asrama mereka. Berbeda dengan klub lain yang cenderung melakukan belanja pemain bintang secara instan, Surabaya Samator memiliki sistem regenerasi yang dimulai sejak usia dini (SMP dan SMA). Pemain seperti Rivan Nurmulki, Nizar Julfikar, hingga Rendy Tamamilang adalah produk nyata yang ditempa baja bertahun-tahun di kawah candradimuka Driyorejo sebelum akhirnya menjadi pilar Timnas Indonesia.

Melalui sistem asrama yang ketat dan disiplin, para pemain tidak hanya dilatih melakukan spike mematikan, melainkan juga diberi kepastian masa depan. Sinergisitas jangka panjang seperti dengan instansi Kepolisian RI melalui jalur prestasi menjadi salah satu “jangkar” yang membuat para atlet muda dan keluarga mereka merasa tenang.

Hal itu menciptakan loyalitas yang jarang ditemukan di klub lain. Para pemain merasa memiliki utang budi pada sistem yang telah mengangkat derajat mereka.

Wafatnya Arief Harsono pada Juli 2021 silam memang meninggalkan duka mendalam dan lubang besar bagi dunia olahraga nasional. Namun, napas perjuangan itu rupanya tidak berhenti. Tongkat estafet pengabdian kini digenggam erat oleh sang putra, Rachmat Harsono. Di bawah kendalinya, Surabaya Samator tetap setia pada jalurnya sebagai klub pembina.

Pada Proliga 2026, kendati skuad mereka didominasi oleh 80 persen pemain muda seperti Rama Fazza Fauzan, Samator tetap mampu membawa pulang juara ketiga. Hal ini membuktikan bahwa sistem pembinaan jauh lebih kuat daripada sekadar kumpulan pemain bintang.

Bagi keluarga Harsono dan karyawan Samator Group, setiap poin yang diraih di lapangan adalah penghormatan bagi visi sang pendiri. Mereka telah membuktikan bahwa dengan manajemen profesional, stabilitas finansial, dan hati yang tulus dalam membina, sebuah klub olahraga bisa bertransformasi menjadi institusi yang abadi.

Selama bola voli masih melambung di udara Indonesia, Surabaya Samator akan selalu ada di sana, menyuntikkan “oksigen” prestasi bagi ibu pertiwi. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.