Dari Kejatuhan Sang Sopir Bus: Tragedi Raksasa Minyak Venezuela, Alarm bagi Kedaulatan Indonesia

oleh -358 Dilihat
DAYANA MENDOZA
Dayana Mendoza, asal Venezuela, yang terpilih menjadi Miss Universe 2008 silam. (Foto IG)

KabarBaik.co — Di benak publik dunia, termasuk masyarakat Indonesia, Venezuela kerap tampil sebagai sebuah paradoks yang mempesona. Betapa tidak, dunia mengenal negeri ini sebagai “pabrik” perempuan-perempuan cantik yang mendominasi panggung Miss Universe. Atau, serpihan surga bernama Angel Falls, air terjun tertinggi di dunia yang menembus awan.

Namun, pada 3 Januari 2026, citra eksotis itu mendadak berganti menjadi ketegangan geopolitik yang mencekam.

Dunia tersentak ketika militer Amerika Serikat (AS) melancarkan Operation Absolute Resolve. Dalam sebuah serangan udara dan darat yang disebut presisi di Caracas, Presiden Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, diklaim ditangkap atas tuduhan berat: narco-terrorism. Bukan sekadar pergantian kekuasaan secara paksa, peristiwa ini menjelma tsunami politik. Getarannya terasa hingga ke Jakarta, memicu perdebatan tentang kedaulatan, minyak, dan campur tangan asing.

Jatuh Bangun Sang Mantan Sopir Bus

Perjalanan hidup Nicolás Maduro bak skenario film. Sulit dipercaya, namun benar-benar nyata. Lahir pada 1962 dari keluarga kelas pekerja, Maduro muda memulai karier sebagai sopir bus metro di Caracas. Dari sanalah ia mengasah naluri politiknya sebagai pemimpin serikat buruh, sebelum akhirnya bertemu dengan mendiang Hugo Chávez pada era 1990-an, yang kelak menjadi Presiden Venezuela.

Loyalitas tanpa batas membawa Maduro menapaki tangga kekuasaan. Ia pernah menjabat Menteri Luar Negeri, kemudian Wakil Presiden, hingga akhirnya ditunjuk langsung oleh Chávez sebagai suksesor sebelum wafat pada 2013. Namun, kepemimpinan Maduro sarat kontroversi. Setelah pemilu 2024 yang ditolak banyak negara karena tuduhan kecurangan massal terhadap kandidat oposisi Edmundo González, posisinya kian terjepit.

Belakangan, Departemen Kehakiman AS mendakwa Maduro sebagai pemimpin Cartel de los Soles, jaringan yang diduga menyelundupkan ratusan ton kokain ke AS dengan kolaborasi kelompok gerilyawan FARC. Penangkapannya pada awal 2026 pun ditafsirkan sebagai akhir era Chavismo yang dipaksakan, sekaligus membawa Venezuela ke persimpangan sejarah paling berbahaya.

NICOLAS MADURO e1767524759891
Nicolas Maduro bersama istri ketika terplih menjadi Presiden Venecuela (Foto IG)

Paradoks Minyak dan Piring Kosong

Venezuela kerap dijadikan contoh nyata apa yang disebut sebagai kutukan sumber daya alam. Negara ini memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, diperkirakan mencapai 300 miliar barel, melampaui Arab Saudi. Namun, di bawah manajemen yang dinilai korup dan terpukul sanksi internasional, produksi minyaknya anjlok drastis: dari sekitar 3 juta barel per hari menjadi kurang dari 1 juta barel per hari pada awal 2026.

Kondisi ekonomi pun amat memilukan. Meski sempat ditempuh upaya dolarisasi pada 2025 untuk meredam hiperinflasi, lebih dari 70 persen penduduk masih hidup di bawah garis kemiskinan. Krisis berkepanjangan ini memicu eksodus massal. Sekitar 8 juta warga Venezuela dilaporkan telah mengungsi atau berpindah ke negara-negara tetangga, menciptakan depopulasi yang mengkhawatirkan.

Pasca-klaim penangkapan Maduro, kendali atas aset minyak Venezuela kembali menjadi sorotan global. Langkah AS yang disebut-sebut melibatkan perusahaan energi besar untuk mengelola transisi sektor minyak memicu kecaman luas sebagai bentuk “perebutan sumber daya” berkedok penegakan hukum.

Dari Miss Universe hingga Nostalgia Kassandra

Bagi publik Indonesia, Venezuela memiliki tempat tersendiri dalam memori kolektif, terutama melalui jalur budaya populer. Pada era 1990-an, layar televisi nasional dipenuhi melodrama Amerika Latin. Jika Meksiko identik dengan Maria Mercedes, maka Venezuela lekat dengan Kassandra. Aktris Coraima Torres, pemeran gadis gipsi itu, pernah menjadi idola nasional di Indonesia; kunjungannya ke Jakarta bahkan disambut bak pahlawan.

Di dunia kecantikan, Venezuela dijuluki gold standard. Dengan tujuh gelar Miss Universe, nama-nama seperti Dayana Mendoza (2008) dan Stefanía Fernández (2009) kerap menjadi rujukan di komunitas pageant Indonesia. Bahkan hingga akhir 2025, wakil Venezuela masih menunjukkan taring dengan meraih posisi 2nd runner-up. Keindahan alam dan pesona manusianya menjadi sisi manis yang membuat dunia—termasuk Indonesia—merasa dekat dengan negara yang secara geografis sangat jauh ini.

Diplomasi di Tengah Badai

Hubungan diplomatik Indonesia–Venezuela telah terjalin sejak 1959. Jauh sebelum krisis, para pemimpin Indonesia menyeberangi samudra demi menjalin persahabatan. Presiden RI ke-2 Soeharto mencatat sejarah sebagai presiden Indonesia pertama yang mengunjungi Caracas pada 1991.

Kedekatan itu mencapai puncaknya pada tahun 2000. Setelah Presiden Venezuela Hugo Chávez berkunjung ke Jakarta menemui Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), tak lama kemudian Gus Dur melakukan kunjungan balasan ke Caracas pada September 2000. Di bawah langit Venezuela, kedua pemimpin membahas panjang lebar soal keadilan bagi negara produsen minyak dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) OPEC.

Kini, kedekatan diplomatik itu ikut diuji. Sebagai anggota Gerakan Non-Blok, Indonesia menegaskan prinsip penghormatan terhadap kedaulatan negara. Merespons intervensi militer AS pada awal 2026, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyerukan agar semua pihak mengedepankan penyelesaian damai melalui langkah de-eskalasi dan dialog.

Melalui akun resmi @Kemlu_RI, Indonesia menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil serta penghormatan terhadap hukum internasional dan prinsip-prinsip Piagam PBB. KBRI Caracas memastikan seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) di Venezuela dalam keadaan aman, sembari terus memantau perkembangan situasi dan mengimbau WNI untuk tetap waspada serta menjaga komunikasi.

Potensi Dampak bagi Kantong Indonesia

Pertanyaan besar bagi publik Indonesia adalah apakah drama di Caracas ini berpotensi memicu kenaikan harga BBM di SPBU. Jawabannya: sangat mungkin. Meski Indonesia tidak mengimpor minyak mentah Venezuela secara signifikan, gejolak di negara pemilik cadangan minyak terbesar dunia ini kerap menciptakan efek domino pada harga minyak global (Brent dan WTI).

Ketidakpastian transisi kekuasaan di Caracas berpotensi memicu spekulasi pasar dan tekanan suplai global. Bagi Indonesia yang kini berstatus net importer minyak, kenaikan harga minyak dunia berarti tekanan tambahan bagi APBN, khususnya subsidi energi. Jika situasi Venezuela memburuk, harga BBM domestik berpotensi terkerek naik dalam hitungan minggu.

Cerita ini bukan sebuah telenovela. Kisah tentang Venezuela menjadi pengingat keras bahwa demokrasi dan stabilitas ekonomi adalah barang mahal yang harus dijaga dengan integritas. Kekayaan alam bukan jaminan kemakmuran jika politik berubah menjadi alat pemuas kekuasaan dan korupsi dibiarkan merajalela.

Dari jalanan Caracas yang bergolak, dunia—termasuk Indonesia—belajar bahwa kehancuran sebuah negara sering bermula dari rapuhnya institusi di dalam, sebelum akhirnya diselesaikan secara paksa oleh tangan asing. Kini, dengan Nicolás Maduro diklaim menanti proses hukum di New York, publik hanya bisa berharap agar rakyat Venezuela segera mendapatkan kembali kedamaian. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.