Di Ambang Krisis Lebih Besar: Saling Serang Tak Terbendung, Dunia Kehilangan Kendali Diplomasi

oleh -365 Dilihat
KILANG ISRAEL
Arsip - Ledakan akibat serangan misil Iran ke Tel Aviv, Israel (28/2/2026). ANTARA/Xinhua/Chen Junqing/am.

KabarBaik.co, Jakarta- Perang antara Amerika Serikat–Israel dan Iran kian menjauh dari kata mereda. Memasuki pekan ketiga sejak meletus pada akhir Februari 2026, eskalasi justru semakin brutal. Serangan saling balas menargetkan elite, infrastruktur energi, hingga wilayah sipil, sementara upaya diplomasi global nyaris tak terdengar di tengah dentuman rudal.

Ketegangan terbaru pecah setelah Israel mengklaim menewaskan pejabat keamanan tinggi Iran, Ali Larijani, dalam serangan udara terbaru. Dilaporkan Reuters, Israel menyebut operasi tersebut sebagai bagian dari upaya melumpuhkan struktur keamanan Iran, meski Teheran belum mengonfirmasi kematian tersebut.

Sementara itu, AP News melaporkan bahwa serangan Israel juga menargetkan petinggi milisi Basij, memperdalam krisis kepemimpinan Iran pasca tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada awal konflik. Sebagai balasan, Iran meningkatkan intensitas serangan drone dan rudal ke berbagai titik strategis di kawasan Teluk. Serangan tersebut bahkan sempat memaksa penutupan wilayah udara Uni Emirat Arab dan mengganggu jalur penerbangan internasional.
Korban Terus Bertambah, Wilayah Konflik Meluas

Data terbaru menunjukkan korban jiwa terus meningkat. Sejak perang dimulai 28 Februari, lebih dari 1.400 orang dilaporkan tewas di Iran, tidak sedikit dari mereka adalah anak-anak. Selain itu, puluhan ribu lainnya luka-luka, sementara korban juga jatuh di Israel dan negara-negara Teluk.

The Guardian melaporkan bahwa konflik kini telah meluas ke Lebanon, Irak, hingga jalur laut strategis seperti Selat Hormuz, yang menjadi urat nadi distribusi energi dunia. Di jalur ini, Iran bahkan dituding melakukan serangan terhadap kapal-kapal dagang, menyebabkan lalu lintas tanker anjlok drastis dan memicu lonjakan harga minyak global di atas USD 100 per barel.

Dunia Terdiam, Diplomasi Melemah

Di tengah eskalasi, sinyal perdamaian justru minim. Iran secara terbuka menolak negosiasi maupun gencatan senjata. Dari pihak Israel, pesan yang muncul juga tidak menunjukkan tanda pelonggaran. Reuters melaporkan bahwa pemerintah Israel menyatakan perang akan terus berlanjut hingga mereka—bersama Amerika Serikat—menentukan waktu yang tepat untuk berhenti, tanpa batas waktu yang jelas.

Sejumlah negara Eropa memang menyerukan solusi diplomatik, namun hingga kini belum ada inisiatif konkret yang mampu menghentikan eskalasi.

Konflik ini tidak hanya berdampak regional, tetapi juga global: Jalur penerbangan internasional terganggu akibat penutupan wilayah udara, harga minyak melonjak akibat gangguan suplai, pasar keuangan global bergejolak. Bahkan, negara-negara Teluk mulai mengevaluasi investasi triliunan dolar mereka karena meningkatnya risiko geopolitik di kawasan.

Perang kali ini bukan lagi sekadar konflik dua pihak, melainkan krisis regional dengan dampak global. Ketika serangan terus meningkat dan korban terus berjatuhan, satu pertanyaan besar menyeruak. Apakah dunia benar-benar telah kehilangan kemampuan untuk menghentikan perang atau memang memilih untuk membiarkannya terus berlangsung? (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.