KabarBaik.co – Upaya menekan angka stunting di Kabupaten Gresik terus diperkuat melalui peningkatan literasi kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan (Dinkes) Gresik bersama Cargill Gresik kembali menggelar pelatihan bagi kader Laskar Cegah Stunting di Kecamatan Manyar.
Kegiatan yang dikemas dalam Shared Learning Laskar Cegah Stunting tersebut berlangsung di Aula Balai Desa Peganden, Kamis (27/11) lalu. Sebanyak 42 kader dari enam desa sasaran turut serta dalam pelatihan yang menekankan pentingnya deteksi dini tumbuh kembang anak melalui pemanfaatan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).
Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Gresik Anik Lutfiyah, menyampaikan bahwa pencegahan dini harus dimulai sejak anak masih dalam kandungan.
“Kunci pencegahan stunting adalah pengetahuan untuk mendeteksi pertumbuhan dan perkembangan anak sejak bayi, bahkan sejak dalam kandungan. Pengetahuan itu sudah terangkum dalam Buku KIA yang dipegang setiap ibu hamil,” ujar Anik.
Ia menegaskan bahwa pencatatan tumbuh kembang anak pada Buku KIA merupakan data penting untuk tenaga kesehatan menganalisis risiko stunting secara akurat. Karena itu, peran kader dalam mendampingi orang tua sangat dibutuhkan.
“Buku KIA ibarat catatan sejarah. Orang tua bisa melihat bagaimana kondisi bayinya dari waktu ke waktu. Namun pemahaman ini tetap harus dipandu, terutama oleh kader kesehatan di desa,” tuturnya.
Anik menambahkan, peningkatan kapasitas kader merupakan bagian dari penguatan literasi kesehatan di tingkat masyarakat agar pemahaman mereka selaras dengan bidan desa.
Di sisi lain, Admin & Relations Manager PT Cargill Indonesia – Cocoa & Chocolate Gresik, Adi Suprayitno, menyatakan bahwa pihaknya konsisten mendukung aksi pencegahan stunting di Manyar dalam tiga tahun terakhir.
“Ini bagian dari investasi sosial kami. Dukungan para kader Laskar Cegah Stunting sangat luar biasa sebagai motor penggerak di desa, selain peran kepala desa dan kelompok sosial setempat,” kata Adi.
Menurutnya, edukasi yang dilakukan Cargill tak hanya menyasar para ibu, tetapi juga remaja putri serta orang tua siswa PAUD sebagai upaya menyeluruh menurunkan prevalensi stunting.
“Program kami didesain untuk meningkatkan pengetahuan seluruh pemangku kepentingan di desa agar berperan aktif dalam pencegahan stunting,” ujarnya.
Adi menilai peningkatan literasi kesehatan merupakan investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi sehat dan bebas stunting di masa depan.(*)








