KabarBaik.co- Wabah judi online di tanah air sudah sangat meresahkan dan mengkhawatirkan. Belakangan, guru besar asal Universitas Airlangga (Unair) Prof Henri Subiakto juga turut prihatin. Bahkan, mantan staf ahli Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) itu memberikan sindiran tentang fenomena judi online.
‘’Indonesia boleh bangga di 2024 ini, ternyata juara dunia dalam hal besaran pemain judi online. Juga juara dalam besaran korupsi. Saat Pilpres uang politik yg beredar juga juara,’’ tulis Henri dalam akun X miliknya yang diunggah, Sabtu (20/4).
Padahal, lanjut dia, rakyat Indonesia terkenal religius. Banyak yang taat dalam hidup beragama. Banyak yang antimakanan haram. Tapi, tidak antipenghasilan haram ataupun bisnis haram. Terlebih, dalam rezeki politik, jarang yang dianggap haram. ’’Gak peduli etika apalagi sebutan haram. Yang penting bisa berkuasa atau dekat dengan kekuasaan,’’ lanjutnya.
Dalam unggahannya, disertakan peringkat pemain judi online dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Indonesia menduduki urutan teratas dengan transaksi mencapai Rp 81 triliun. Di bawahnya berturut-turut Kamboja, Filipina, Myanmar, Rusia, Vietnam, dan Malaysia.
Di kolom komentar, akun @aewin86 ikut memberikan respons. ‘’Berarti prof sebagai pendidik apakah juga gagal dalam mendidik masyarakat supaya tidak ikut judi online?’’ tulisnya.
Menanggapi itu, Henri menyatakan, kerusakan sistem sosial dan politik bukan karena pendidik. Tapi, justri karena tidak didengarkan seruan etika dan moral para pendidik. Para pengambil kebijakanlah yang justru sering keliru, bahkan membiarkan kerusakan terjadi karena adanya kepentingan tertentu yang didahulukan daripada mendengarkan seruan moral akademisi.
‘’Para pendidik yang mengingatkan bahaya kerusakan malah dihadapkan dengan buzzer, dan dituduh sebagai buzzer antinegara. Semakin rusaklah negeri ini,’’ lanjut Henri.
Sebelumnya, terkait wabah judi online tersebut, akhirnya mendapat atensi khusus dari Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). Kamis (18/4), Presiden memimpin langsung rapat terbatas (ratas) tentang upaya pemberantasan judi online itu di Istana Merdeka, Jakarta. Menurut Menkominfo Budi Arie Setiadi, pemerintah akan membentuk satuan tugas (satgas) untuk penanganan judi online.
Berdasarkan data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), sepanjang 2023, total perputaran uang dari judi online mencapai Rp 327 triliun. Jumlah uang itu tercatat dari 168 juta transaksi yang dilakukan oleh 3,29 juta masyarakat Indonesia.
Angka pada 2023 tersebut menyumbangkan 63 persen dari yang telah dicatat PPATK sejak 2017. Yakni, sebesar Rp 517 triliun. Artinya, ada peningkatan luar biasa.
PPATK juga pernah mengungkap ada sebanyak 2,19 juta warga berpenghasilan rendah terlibat permainan judi online tersebut. Jumlah itu setara dengan 79 persen dari total pemain judi online di Indonesia yang mencapai 2,76 juta orang. Mereka terdeteksi sebagai pelajar, mahasiswa, buruh, petani, ibu rumah tangga, pegawai swasta, dan lain-lain. (*)






