KabarBaik.co, Mataram – Anggota Komisi V DPRD NTB Didi Sumardi mendesak Pemprov NTB segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi bangunan SMA, SMK, dan SLB di seluruh NTB pasca ambruknya atap ruang kelas di SMAN 7 Mataram yang menyebabkan empat siswa terluka, Selasa (19/5).
Menurut Didi, langkah evaluasi penting dilakukan terutama pada bangunan sekolah yang sudah berusia tua dan rawan mengalami kerusakan struktural.
Ia mengaku telah berkomunikasi langsung dengan Dinas Dikpora NTB agar pemeriksaan kondisi fisik sekolah dilakukan secara menyeluruh di seluruh kabupaten/kota.
“Kita sudah sepakat khususnya bangunan yang masuk kategori lama atau tua harus segera dievaluasi,” ujar Didi, Rabu (20/5).
Politisi Partai Golkar itu menyoroti usia bangunan kelas di SMAN 7 Mataram yang diketahui telah berdiri sejak tahun 2006 atau sekitar 20 tahun lalu.
“Bangunannya sudah lama. Kepala sekolah menyampaikan dibangun sejak 2006,” katanya.
Didi menegaskan, evaluasi tidak boleh berhenti pada insiden di SMAN 7 Mataram saja. Seluruh kepala sekolah diminta aktif melaporkan kondisi bangunan apabila ditemukan kerusakan yang berpotensi membahayakan keselamatan siswa maupun mengganggu proses belajar mengajar.
Ia juga meminta Pemprov NTB segera merehabilitasi bangunan yang rusak agar aktivitas belajar siswa tetap berjalan normal, terutama bagi siswa kelas 10 dan 11.
“Yang terpenting bagaimana bangunan itu segera diperbaiki sehingga bisa kembali difungsikan,” tegasnya.
Selain perbaikan fisik gedung, DPRD NTB juga meminta perhatian serius terhadap kondisi para siswa korban insiden tersebut.
Sebelumnya, Kepala SMAN 7 Mataram, Ridha Rosalina, mengatakan terdapat lima siswa di dalam ruangan saat kejadian. Satu siswa lebih dulu keluar kelas sebelum atap roboh, sementara empat lainnya berhasil menyelamatkan diri meski mengalami luka ringan.
“Yang empat ini alhamdulillah bisa keluar dengan selamat, hanya lecet dan cedera ringan,” ujarnya.
Tiga siswa telah diperbolehkan pulang usai menjalani penanganan medis di puskesmas. Sementara satu siswa dirujuk ke rumah sakit karena mengalami syok.
Ridha mengaku tidak menemukan tanda-tanda kerusakan mencurigakan sebelum insiden terjadi. Saat pengecekan rutin pada pagi hari, plafon ruangan disebut masih terlihat normal.
“Pagi sebelumnya saat saya keliling, plafonnya masih terlihat baik dan tidak ada yang mencurigakan,” katanya.
Bangunan yang terdampak meliputi dua ruang kelas dan satu ruang perpustakaan. Meski dinding bangunan masih berdiri kokoh, pihak sekolah menutup sementara seluruh ruangan karena dinilai membahayakan. (*)







