KabarBaik.co, Sidoarjo– Fenomena ’Godzilla El Nino’ yang diprediksi akan memicu kemarau panjang kini menjadi ancaman bagi Sidoarjo. Di tengah kondisi panas ekstrem, risiko kebakaran lahan bisa meningkat tajam dan menghantui berbagai wilayah.
Berbeda dengan daerah yang memiliki kawasan hutan, Sidoarjo justru menghadapi ancaman dari lahan kosong, semak belukar, kawasan industri, hingga tambak kering. Saat kemarau berkepanjangan, area-area ini berubah menjadi titik rawan yang mudah terbakar dan cepat menyebarkan api.
Kalaksa BPBD Sidoarjo Sabino Mariano mengungkapkan bahwa fenomena El Nino yang kuat memperparah kondisi lingkungan. Vegetasi menjadi sangat kering, sementara angin kencang mempercepat rambatan api apabila ada lahan yang terbakar, terutama di wilayah pesisir.
“Dengan kondisi kemarau panjang seperti ini, vegetasi menjadi sangat kering dan mudah terbakar. Ditambah angin kencang, api bisa cepat meluas, khususnya di wilayah pesisir,” ujarnya, Minggu (19/4).
Sejumlah kecamatan seperti Waru dan Buduran yang didominasi kawasan industri menjadi wilayah dengan risiko tinggi. Begitu pula Krian, Tarik, dan Balongbendo yang memiliki hamparan lahan kosong luas. Sementara itu, Sedati dan Jabon yang merupakan wilayah pertambakan menghadapi ancaman tambahan dari tambak kering dan angin pesisir yang sulit dikendalikan.
Tak hanya faktor alam, aktivitas manusia turut memperbesar potensi kebakaran. Pembakaran sampah, puntung rokok, hingga percikan aktivitas industri kerap menjadi pemicu utama munculnya titik api di tengah kondisi ekstrem.
“Sebagian besar kebakaran dipicu oleh aktivitas manusia, seperti pembakaran sampah atau lahan, puntung rokok, hingga percikan dari aktivitas industri,” ungkapnya.
BPBD Sidoarjo pun meningkatkan kewaspadaan dengan mengandalkan sistem peringatan dini berbasis pemantauan hotspot satelit, patroli Tim Reaksi Cepat (TRC) selama 24 jam, serta laporan masyarakat sebagai deteksi awal.
“Kami mengoptimalkan pemantauan hotspot dari data satelit, patroli TRC 24 jam, serta laporan masyarakat sebagai bagian dari deteksi dini agar kebakaran bisa segera ditangani,” jelas Sabino.
Di sisi lain, tujuh pos pemadam kebakaran disiagakan di berbagai titik strategis guna memastikan respons cepat ketika kebakaran terjadi. Namun, tantangan tetap ada, mulai dari akses lokasi yang sulit, keterbatasan sumber air, hingga potensi kebakaran yang terjadi di banyak titik secara bersamaan.
Puncak ancaman biasanya terjadi pada Agustus hingga Oktober, saat kemarau mencapai intensitas tertinggi. Dalam periode ini, jumlah titik panas bisa meningkat drastis hingga puluhan titik.
Melihat kondisi tersebut, BPBD menegaskan pentingnya peran masyarakat dalam mencegah kebakaran. Edukasi terus digencarkan, termasuk larangan membakar lahan dan peningkatan kesadaran terhadap risiko yang ditimbulkan.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran. Pencegahan jauh lebih penting agar kejadian tidak meluas,” tutupnya.
Dengan kombinasi fenomena ’Godzilla El Nino’ dan faktor manusia, kebakaran lahan kini bukan lagi potensi, melainkan ancaman serius yang harus diwaspadai bersama. (*)








