KabarBaik.co, Nganjuk– Pemkab Nganjuk terus mematangkan strategi adaptasi sektor pertanian dalam menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino. Menurut prediksi BMKG, musim kemarau tahun ini diprediksi berlangsung mulai Mei hingga Oktober 2026. Untuk itu, ketahanan pertanian dibangun melalui inovasi dan efisiensi, terutama dalam pengelolaan air.
“Pertanian itu sangat bergantung pada air. Maka pengelolaannya tidak bisa lagi sembarangan, harus tepat guna dan berbasis teknologi agar tidak terjadi pemborosan,” ungkap Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi, Minggu (19/4)
Sebagai langkah konkret, Pemkab Nganjuk mendorong penerapan sistem irigasi sprinkler di lahan pertanian. Teknologi ini menyiram tanaman secara otomatis dengan pola menyerupai hujan, sehingga air terdistribusi merata dan sesuai kebutuhan tanpa merusak struktur tanah.
“Kalau cara lama, air sering menggenang dan itu tidak baik untuk tanah. Dengan sprinkler, air diberikan sesuai kebutuhan tanaman, jadi lebih hemat dan lebih sehat untuk lahan,” ujar Kang Marhaen sapaan akrab Bupati.
Keunggulan teknologi ini tidak hanya pada efisiensi air, tetapi juga sangat signifikan dalam menekan biaya operasional. Jika cara konvensional membutuhkan biaya sekitar Rp 25 juta per hektare untuk satu musim tanam bawang merah, dengan sistem sprinkler biaya tersebut bisa turun drastis menjadi hanya Rp 5 juta.
“Dari sekitar Rp 25 juta bisa ditekan jadi kurang lebih Rp 5 juta per hektare. Ini penghematan yang sangat besar bagi petani,” tutur Kang Marhaen.
Efisiensi ini, Sambung Kang Marhaen, berdampak langsung pada peningkatan keuntungan petani. Biaya produksi yang rendah membuat pendapatan meningkat, sementara pekerjaan petani menjadi lebih ringan dan waktu lebih efisien.
“Petani sekarang kerjanya lebih ringan, waktunya lebih efisien, dan hasilnya bisa lebih maksimal. Jadi bukan hanya hemat biaya, tapi juga meningkatkan pendapatan,” katanya
Tidak hanya itu, Pemkab Nganjuk juga mengintegrasikan sistem pertanian dengan teknologi digital berbasis Internet of Things (IoT). Melalui sensor dan aplikasi di ponsel, petani bisa memantau kondisi lahan secara real time, mulai dari kebutuhan air hingga jadwal pemupukan.
“Sekarang petani cukup pakai handphone. Mereka bisa tahu kapan harus menyiram, kapan memupuk, semuanya berbasis data. Ini yang membuat pertanian kita naik kelas, lebih modern dan presisi,” jelasnya.
Dengan berbagai inovasi ini, Nganjuk optimistis mampu menjaga stabilitas produksi pangan meski menghadapi iklim ekstrem, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.
“Kami ingin memastikan bahwa inovasi ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh petani. Tujuan akhirnya jelas, kesejahteraan masyarakat meningkat, bukan hanya sekadar program di atas kertas,” pungkas Kang Marhaen. (*)






