Gregoria “Jorji” Mariska: Nyala Gadis Wonogiri yang Tumbuh dari Kesunyian Latihan

oleh -325 Dilihat
GREGORIA MARISKA
Gregoria Mariska (DOk PBSI)

DI BALIK sorak-sorai arena bulutangkis dan kerasnya smash yang meluncur di lapangan, ada seorang perempuan muda yang tumbuh dari disiplin panjang, kesepian asrama, dan mimpi yang dipeluk sejak kecil. Namanya Gregoria Mariska Tunjung. Namun publik Indonesia lebih akrab memanggilnya: Jorji.

Dari luar, Gregoria terlihat tenang. Senyumnya lembut, tutur katanya pelan. Tetapi di lapangan, ia berubah menjadi petarung yang sulit menyerah. Di balik setiap reli panjang yang dimainkannya, tersimpan cerita tentang seorang anak dari Wonogiri yang sejak kecil belajar bahwa mimpi membutuhkan pengorbanan.

Gregoria lahir 1999 silam dan tumbuh di lingkungan sederhana di Jawa Tengah. Masa kecilnya tak jauh berbeda dari anak-anak lain: sekolah, bermain, dan bercanda bersama teman sebaya. Namun ada satu hal yang membuatnya berbeda—raket bulutangkis.

Ia mulai mengenal olahraga itu sejak usia dini. Dari lapangan-lapangan sederhana dan suasana kampung yang akrab dengan badminton, bakat Gregoria perlahan terlihat. Tangannya cepat, gerak kakinya lincah, dan yang paling menonjol adalah keberaniannya menghadapi lawan yang lebih besar.

Dukungan keluarga menjadi fondasi penting. Orang tuanya melihat keseriusan yang tidak biasa dari anak perempuan mereka. Di usia ketika banyak anak masih bergantung penuh pada keluarga, Gregoria justru mulai belajar tentang disiplin dan tanggung jawab.

Perjalanan itu kemudian membawanya meninggalkan rumah.

Sebagai remaja, Gregoria harus hidup jauh dari keluarga demi latihan yang lebih serius. Ia masuk klub bulutangkis dan menjalani kehidupan asrama atlet muda di Bandung. Di sanalah kehidupan yang sesungguhnya dimulai: bangun pagi, latihan fisik berat, jadwal ketat, tekanan pertandingan, hingga rasa rindu rumah yang datang diam-diam pada malam hari.

Tidak semua anak seusianya mampu bertahan dalam ritme seperti itu. Namun Gregoria memilih bertahan.

Kesunyian justru membentuk mentalnya. Ia belajar menjadi mandiri, belajar menahan lelah, dan belajar bahwa kemenangan tidak datang dari bakat semata, melainkan dari latihan yang diulang berkali-kali bahkan ketika tubuh ingin menyerah.

Julukan “Jorji” kemudian melekat padanya. Nama itu terdengar hangat dan akrab, seperti kepribadiannya di luar lapangan. Namun di balik panggilan sederhana itu, tumbuh seorang atlet yang pelan-pelan mengubah wajah tunggal putri Indonesia.

Namanya mulai diperhitungkan ketika tampil gemilang di level junior internasional. Puncaknya datang saat ia merebut gelar Juara Dunia Junior 2017. Kemenangan itu bukan hanya tentang medali, tetapi juga penanda bahwa Indonesia kembali memiliki harapan di sektor tunggal putri.

Sejak saat itu, perjalanan Gregoria tidak selalu mulus. Ada kekalahan menyakitkan, tekanan besar sebagai andalan bangsa, hingga perjuangan menghadapi pemain-pemain elite dunia dari China, Korea Selatan, Jepang, dan Thailand. Tetapi satu hal yang membuat publik terus mencintainya adalah keberaniannya untuk terus bangkit.

Gregoria tidak dikenal sebagai atlet yang mudah menyerah. Bahkan ketika tertinggal poin, ia sering tetap bertarung hingga reli terakhir. Ketangguhan itulah yang membuat banyak orang melihat lebih dari sekadar pemain bulutangkis dalam dirinya.

Ia adalah simbol kerja keras generasi muda.

Di tengah dunia olahraga yang penuh tekanan, Gregoria tetap mempertahankan sisi hangatnya. Ia dikenal ramah, rendah hati, dan dekat dengan penggemar. Barangkali karena itulah Jorji terasa begitu dekat di hati banyak orang Indonesia: ia berprestasi, tetapi tetap tampak manusiawi.

Namun perjalanan panjang itu memasuki babak baru pada Jumat, 15 Mei 2026 lalu. Setelah 12 tahun menjadi bagian dari Pelatnas PBSI, Gregoria memutuskan mengundurkan diri dari pusat pelatihan nasional yang selama ini membesarkan namanya.

Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) menerima dan menghormati keputusan tersebut setelah melalui komunikasi dan pembicaraan bersama Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Eng Hian serta kepala pelatih tunggal putri utama Pelatnas PBSI Imam Tohari.

Dalam surat yang disampaikannya, Gregoria mengungkapkan rasa terima kasih kepada seluruh jajaran pengurus dan pelatih PP PBSI atas kesempatan, pengalaman, dan kepercayaan yang telah diberikan selama dirinya berada di Pelatnas.

Keputusan itu tidak lahir secara tiba-tiba. Kondisi kesehatan Gregoria yang masih menjalani pemulihan akibat vertigo menjadi alasan utama di balik pengunduran dirinya. Hingga kini, ia merasa belum pulih sepenuhnya dan belum memiliki keyakinan untuk kembali bertanding di level kompetitif.

Meski demikian, nama Gregoria telah telanjur meninggalkan jejak penting dalam perjalanan bulutangkis Indonesia modern. Ia bukan hanya atlet dengan sederet prestasi internasional, tetapi juga sosok yang menunjukkan bagaimana kerja keras, ketekunan, dan kesabaran dapat membawa seorang anak dari kota kecil menjadi kebanggaan bangsa.

PP PBSI pun menyampaikan apresiasi atas seluruh pengabdian dan perjuangan Gregoria selama membela Merah Putih di berbagai ajang internasional.

“Gregoria adalah atlet yang telah memberikan banyak kontribusi dan kebanggaan untuk Indonesia. Kami menghormati keputusan yang diambil dan berharap yang terbaik untuk kesehatan serta masa depannya,” ujar Eng Hian.

Kepergian Gregoria dari Pelatnas pun menandai dimulainya babak baru regenerasi tunggal putri Indonesia. Tongkat estafet itu kini berada di tangan Putri Kusuma Wardani yang siap mengemban tanggung jawab sebagai tunggal putri paling senior di Pelatnas PBSI.

Putri, yang saat ini menjadi pebulu tangkis tunggal putri Indonesia dengan peringkat BWF tertinggi setelah menembus posisi enam dunia, mengaku menyadari beban besar yang kini berada di pundaknya usai Gregoria mundur dari Pelatnas.

“Ya, bebannya Kak Grego pindah ke aku, kan. Namun aku menjalaninya dengan senang hati. Terus berpikir positif,” kata Putri saat ditemui pewarta di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta, Rabu.

Menurut Putri, situasi tersebut sebenarnya sudah mulai dipersiapkan sejak Gregoria cukup lama absen akibat kondisi kesehatannya. Karena itu, ia mencoba menerima tanggung jawab baru tersebut sebagai tantangan yang harus dihadapi dengan optimistis.

“Pasti terbebani. Namun Insyaallah aku ingin lebih dari Kak Grego,” tutur Putri.

Pernyataan itu menjadi gambaran bagaimana sosok Gregoria tidak hanya meninggalkan prestasi, tetapi juga warisan semangat bagi generasi penerus tunggal putri Indonesia. Sosok “Jorji” telah menjadi standar baru tentang kerja keras, perjuangan, dan dedikasi di tengah kerasnya persaingan bulutangkis dunia.

Kini, langkah Gregoria mungkin memasuki jalan yang berbeda. Namun bagi banyak pencinta bulutangkis Indonesia, “Jorji” akan selalu dikenang sebagai sosok petarung yang tumbuh dari kesunyian latihan, menantang keterbatasan, lalu berdiri membawa harapan bangsa di panggung dunia. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: F. Noval
Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.