Harga Kedelai Naik, Produsen Tahu di Jombang Terpaksa Tahan Untung

oleh -218 Dilihat
WhatsApp Image 2026 01 27 at 1.41.05 PM
Para pekerja saat mengolah kedelai untuk produsen tahu (Teguh Setiawan)

KabarBaik.co — Kenaikan harga kedelai mulai dirasakan dampaknya oleh para produsen tahu di Jombang. Meski lonjakan harga dinilai belum terlalu tinggi, kondisi ini sudah menekan biaya produksi dan menggerus keuntungan pelaku usaha tahu.

Kepala Dusun Murong Pesantren, Desa Mayangan, Jogoroto, Imam Subeki, mengatakan harga kedelai di Jombang mengalami kenaikan sekitar Rp 200 hingga Rp 300 per kilogram dalam beberapa waktu terakhir.

“Dampaknya pasti ada, terutama pada penyusutan laba. Tapi sejauh ini masih bisa kami sikapi selama harga masih di bawah Rp 10.000 per kilogram,” ujar Imam, Selasa (27/1).

Imam yang juga Ketua Paguyuban Tahu Sumber Berkah itu menjelaskan, sebelumnya harga kedelai berada di kisaran Rp 9.200 per kilogram, kemudian naik menjadi Rp 9.500 hingga Rp 9.600 per kilogram.

Untuk menyiasati kenaikan biaya produksi, perajin terkadang menyesuaikan ukuran atau isi tahu. Namun, langkah tersebut tidak bisa dilakukan terus-menerus karena berisiko menimbulkan keluhan konsumen.

“Kalau disiasati ya tahu diperkecil atau isinya dikurangi. Tapi tidak bisa setiap hari, karena konsumen pasti merasa ukurannya menyusut,” kata Imam.

Ia menambahkan fluktuasi harga kedelai yang naik secara bertahap setiap hari justru menyulitkan perajin dalam menyesuaikan produksi.

“Misalnya hari ini Rp 10.000, besok Rp 10.200, besoknya Rp 10.500. Tidak mungkin setiap hari potongan tahu diubah. Kalau setiap hari menyusut, konsumen pasti protes,” ujarnya.

Di wilayah tersebut, kapasitas produksi tahu bervariasi tergantung skala pabrik. Namun secara keseluruhan, kebutuhan kedelai untuk produksi tahu diperkirakan mencapai sekitar 80 ton per hari.

Keluhan serupa disampaikan pemilik usaha Tahu Iwan Jaya, Muhammad Heri Susiawan. Ia menyebut harga kedelai naik sekitar 3 persen dalam sepekan terakhir, dari Rp 9.200 menjadi Rp 9.500 per kilogram, dan masih berpotensi meningkat.

“Kenaikannya memang bertahap, sekitar Rp 100 per hari. Tapi walaupun kelihatannya kecil, dampaknya besar untuk biaya produksi,” ujar Heri.

Menurutnya, dalam satu kali proses produksi, tambahan biaya bisa mencapai ribuan rupiah. Jika diakumulasi setiap hari, beban tersebut cukup memberatkan pelaku usaha kecil.

Untuk sementara, Heri memilih menekan keuntungan tanpa menaikkan harga jual atau memperkecil ukuran tahu.

“Harga ke konsumen masih kami pertahankan. Kalau langsung dinaikkan, pasar bisa menolak,” katanya.

Heri mengaku khawatir jika kenaikan harga kedelai berlangsung dalam jangka panjang. Ia mengingatkan pengalaman sekitar enam bulan lalu, saat perajin tahu sempat menghentikan produksi akibat lonjakan harga bahan baku.

“Waktu itu kami pernah mogok produksi karena harga kedelai naik terus,” ucapnya.

Dengan kondisi tersebut, para perajin berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk menjaga stabilitas harga kedelai.

Mereka menilai, kenaikan harga bahan baku yang terjadi secara perlahan namun terus-menerus akan sangat berdampak pada keberlangsungan usaha kecil.

“Kalau harga kedelai terus naik, biaya produksi ikut melonjak. Kami benar-benar terdampak,” pungkas Heri. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.