KabarBaik.co, Sidoarjo – Di bawah terik siang Jalan Raya Betro, Sedati, Prasetyo tetap melayani pembeli es degan seperti biasa. Senyumnya tak berubah, meski di balik itu ada beban biaya yang kian menekan akibat lonjakan harga plastik dalam beberapa pekan terakhir.
Pedagang berusia 48 tahun itu mengaku kenaikan sudah terasa sejak pasca Lebaran. Namun dalam tiga pekan terakhir, harganya melonjak tajam hingga lebih dari dua kali lipat.
“Kenaikan sejak tiga minggu yang lalu setelah Lebaran itu sudah terasa. Sekarang sudah 100 persen lebih naiknya. Mungkin Ya dampak dari perang di Timur Tengah itu antara Israel dengan Iran,” ujarnya, Rabu (15/4).
Kenaikan harga plastik langsung memukul biaya operasionalnya. Plastik es yang sebelumnya Rp 4 ribu per bendel isi 50 pcs kini menjadi Rp 9 ribu. Tas kresek kecil naik dari Rp 3 ribu menjadi Rp 5 ribu, sementara plastik es besar melonjak dari Rp 7 ribu menjadi Rp 10 ribu.
Meski begitu, Prasetyo memilih bertahan tanpa menaikkan harga jual. Es degan miliknya tetap dijual Rp 6 ribu per bungkus.
“Alasannya tidak menaikkan harga supaya pembeli tidak berkurang. Kalau dinaikkan takutnya sepi,” katanya.
Keputusan itu bukan tanpa risiko. Margin keuntungan semakin menipis, bahkan nyaris tak tersisa. Namun bagi Yoyok, menjaga pelanggan tetap datang adalah hal yang lebih penting agar usahanya bisa terus berjalan.
Ia menilai, kenaikan harga plastik kali ini menjadi yang paling tinggi selama dirinya berjualan. Kondisi ini membuat pedagang kecil seperti dirinya semakin terhimpit.
“Harapannya pemerintah kalau bisa membantu untuk menurunkan harga seperti semula, karena ini sangat merugikan pedagang,” tandasnya.
Di tengah tekanan biaya yang terus naik, para pedagang kecil hanya bisa bertahan dengan segala keterbatasan menjaga harga tetap ramah, sambil berharap keadaan segera membaik. (*)








